Ceritra
Ceritra Warga

Jangan Asal Gosok! Kenali Risiko Pembuluh Darah Pecah Saat Kerokan Terlalu Keras

Refa - Saturday, 31 January 2026 | 04:00 PM

Background
Jangan Asal Gosok! Kenali Risiko Pembuluh Darah Pecah Saat Kerokan Terlalu Keras
Ilustrasi kerokan (The Washington Post/Bigstock)

Kerokan Saat Masuk Angin

Siapa yang masih ngerasa masuk angin belum lama ini? Kalau ada yang ketemu pasok makanan pedas, tidur kurang, atau bahkan sekadar nunggu sore hari, tak jarang orang langsung kerokan. Di warung- warung, pijet‑pijetan, atau bahkan di kamar tidur, ada yang gencar menaruh koin di kulit, lalu memutar‑memutar sampai ada bekas merah‑merah. Menurut budaya tradisional, gerakan ini akan membuka "pintu" gangguan udara masuk ke tubuh serta menambah rasa nyaman lewat sensasi hangat. Tapi, adakah dasar medis di balik fenomena ini? Atau malah jadi kebiasaan yang bisa membahayakan? Mari kita kupas tuntas.

Apa Itu Masuk Angin?

Dalam terminologi medis, "masuk angin" sebenarnya nggak ada. Kesan yang paling dekat adalah sindrom yang biasanya disebut dyspepsia (masalah pencernaan) atau bahkan gejala flu ringan. Tubuh kita memang rentan terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pola makan, tapi istilah masuk angin lebih bersifat narasi budaya. Jadi, ketika seseorang bilang "kalo gue masuk angin" artinya dia merasa pilek, sakit kepala, atau pencernaan tidak normal.

Kerokan: Apa dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Kerokan yang juga dikenal sebagai "kerokan koin" atau "kerokan dengan balsem" dengan prinsip sederhana, yaitu gerakan gesekan di kulit membuat darah mengalir ke permukaan, menghasilkan sensasi hangat. Ketika kita menggunakan koin atau palu kecil, gerakan ini memaksa pembuluh darah kecil (kapiler) di kulit melebar. Dalam prosesnya, tubuh memicu pelepasan endorfin, hormon yang memberi rasa lega, mirip kayak feel good setelah olahraga. Jadi, meski tidak bersifat medis, ada alasan biologi kenapa kerokan terasa menenangkan.

Namun, kalau gerakan terlalu keras atau terus-menerus, kapiler bisa pecah. Bekas merah merah yang biasanya dianggap "pembakar semangat" ini sebenarnya menjadi pintu masuk bakteri. Kalau tidak disanitasi atau dilakukan pada kulit yang sudah luka, risiko infeksi meningkat. Di sisi lain, gerakan ringan memang aman dan tidak menimbulkan luka.

Kenapa Banyak Orang Ngapain Kerokan?

  • Tradisi keluarga: Ada yang belajar dari orang tua atau kakek nenek, jadi sudah otomatis dipakai.
  • Kepercayaan akan "cairan angin": Ada rasa percaya bahwa tubuh "bersih" bila angin keluar lewat kulit.
  • Efek psikologis: Gerakan yang teratur bisa jadi ritual, membuat hati tenang.
  • Komersialitas: Banyak warung kesehatan yang menawarkan jasa kerokan, bahkan dengan harga bersahabat.

Risiko Kecil, Tapi Perlu Waspada

Berikut beberapa hal yang perlu diingat:

  • Sanitasi: Pastikan alat bersih. Penggunaan koin bersih sudah memadai, tapi bila koin mencantol, lebih baik pakai alat khusus.
  • Intensitas: Jangan menekan terlalu keras. Rasa sakit yang berlebihan bisa menandakan pembuluh kapiler pecah.
  • Lingkungan: Kerokan di tempat bersih, terutama bila ada pasien yang sedang demam atau luka.
  • Pasien khusus: Penderita diabetes atau masalah sirkulasi harus berhati-hati.

Jika terjadi luka kecil, beri waktu untuk sembuh. Jika bekas meradang lebih lama dari seminggu atau terasa nyeri, sebaiknya cek dokter.

Mengapa Kerokan Tetap Populer di Tengah Advokasi Medis?

Alasan utamanya adalah kemudahan dan keterjangkauan. Di tengah pandemi, banyak orang tidak mau keluar rumah untuk konsultasi medis, jadi alternatif tradisional jadi solusi. Juga, budaya "balsem" di pasokan yang luas membuat orang merasa cukup dengan "tangisan rasa" daripada solusi medis yang kompleks.

Selain itu, di era media sosial, before after kerokan jadi viral. Foto bekas merah‑merah di kulit, caption "ngapain kerokan dulu, eh malah jadi gaya hidup", menarik perhatian. Kegiatan ini tidak hanya sebatas terapi, tapi juga bagian dari identitas sosial.

Solusi Seimbang: Integrasi Tradisi dan Medis

Berpikir di luar kotak, tidak berarti menolak budaya. Seharusnya, orang bisa memanfaatkan kerokan sebagai metode relaksasi, tetapi tetap memperhatikan prinsip medis. Berikut beberapa tips:

  1. Gunakan alat khusus atau koin bersih, jangan menggunakan benda bekas atau tidak steril.
  2. Jangan menekan terlalu keras; fokus pada gerakan yang membuat kulit sedikit merah namun tidak luka.
  3. Gabungkan dengan pola makan seimbang, cukup air, dan olahraga ringan.
  4. Jika merasa sakit, atau ada gejala lain seperti demam, nyeri, atau luka berjamur, segeralah konsultasi dokter.

Selain itu, penting bagi kita mengedukasi diri tentang apa yang sebenarnya masuk angin dari perspektif medis. Seringkali, yang terasa seperti masuk angin memang hasil dari infeksi virus, alergi, atau masalah pencernaan. Jika kita sudah mengenali gejala, langkah pertama adalah mencari penyebab yang lebih jelas, bukan hanya memanggil kerokan.

Kesimpulan: Kerokan, Bukan Obat, tapi Metode Relaksasi

Kerokan memang membawa rasa hangat, meningkatkan aliran darah, dan memicu endorfin. Sebuah treatment bagi jiwa dan pikiran. Namun, jangan sampai menjadi alasan menunda pemeriksaan medis. Sesuai dengan prinsip "jaga kesehatan dari dalam dan luar", kerokan dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat, asal dilakukan dengan bijak dan tidak menimbulkan luka.

Logo Radio
🔴 Radio Live