Ceritra
Ceritra Warga

Hobi Orang Korea yang Wajib Kamu Coba Saat Liburan

Shannon - Thursday, 09 July 2026 | 06:00 PM

Background
Hobi Orang Korea yang Wajib Kamu Coba Saat Liburan
Ilustrasi Karaoke/Noraebang (iStock/CreativaImages)

Karaoke: Antara Obsesi Noraebang Korea dan Konser Dadakan Suara Emas ala Indonesia

Pernah nggak sih kalian lagi asyik marathon drakor, terus tiba-tiba ada scene pemeran utamanya lagi galau atau malah lagi ngerayain keberhasilan project kantor di dalam ruangan sempit penuh lampu neon? Iya, apalagi kalau bukan scene noraebang atau karaokean. Di Korea, noraebang itu udah kayak napas. Pulang kerja, noraebang. Patah hati, noraebang. Gabut maksimal, noraebang. Rasanya hidup mereka nggak lengkap tanpa pegang mic kabel dan tambourine plastik yang bunyinya cempreng itu.

Terus muncul pertanyaan di kepala kita: Indonesia gimana? Apakah budaya karaoke kita seramai dan se-ikonik di Korea? Jawabannya: Oh, jelas, tapi dengan bumbu kearifan lokal yang jauh lebih berisik dan—jujurly—punya kualitas vokal yang seringkali bikin merinding.

Kalau di Korea, noraebang itu sering banget dijadiin pelarian buat melepas stres karena tekanan sosial yang tinggi. Di Indonesia, karaoke itu lebih ke arah hajatan mini. Kita nggak butuh alasan depresi buat nyanyi. Ketemu temen lama? Karaoke. Ulang tahun? Karaoke. Habis gajian? Karaoke. Bahkan kalau lagi nggak punya duit pun, kita bisa bikin karaoke mandiri modal YouTube dan speaker Bluetooth murah yang suaranya pecah kalau volume-nya dinaikin dikit.

Vokal Orang Indonesia: Skill Dewa dalam Box Kecil

Nah, ini poin yang bikin kita menang telak dari scene drakor mana pun. Lu perhatiin deh, di drakor kalau mereka karaokean, biasanya suaranya ya standar-standar aja, atau malah sengaja dijelek-jelekin biar lucu. Tapi di Indonesia? Lu masuk ke tempat karaoke keluarga kayak Happy Puppy atau Inul Vizta, terus lewat di lorongnya. Lu bakal denger suara-suara dari balik pintu yang power-nya setara kontestan Indonesian Idol.

Gak paham lagi deh, orang Indonesia itu kayak punya bakat terpendam jadi diva. Mau mas-mas kantoran yang mukanya lecek habis revisi, sampai mbak-mbak yang kelihatannya pendiam, begitu lagu 'Sang Dewi' atau 'Listen' milik Beyonce diputar, langsung keluar itu teknik head voice dan riff and curls-nya. Kita ini bangsa yang tumbuh besar dengan didengarkan lagu-lagu pop dengan nada tinggi. Jadi, kalau cuma buat narik nada di lagu Dewa 19 atau memamerkan cengkok dangdut, itu udah makanan sehari-hari.

Banyak yang bilang, vokal orang Indo itu mantep karena kita terbiasa nyanyi di mana-mana. Di gereja, di pengajian, di kamar mandi, sampai ikut lomba tujuh belasan. Kita punya "soul" yang beda. Kalau orang Korea mungkin menang di visual dan estetika ruangan noraebang-nya, orang kita menang di "power" dan penghayatan yang kadang sampai bikin yang denger pengen ikut nangis bareng.

Transisi ke Budaya Sing-Along: Karaoke yang Naik Kelas

Beberapa tahun terakhir, budaya karaoke di Indonesia mengalami pergeseran yang gila banget. Kalau dulu kita harus sewa ruangan privat biar nggak malu, sekarang justru kebalikannya. Muncul fenomena karaoke massal atau sing-along event. Lu tau kan acara macam Oomleo Berkaraoke atau Videostarr? Itu adalah bukti kalau karaoke di Indonesia itu udah jadi komoditas gaya hidup yang komunal banget.

Bayangin, ratusan orang di satu hall atau bar, nggak ada yang malu-malu lagi. Semua teriak nyanyiin lagu 'Kangen' atau 'Separuh Nafas'. Di sini level serunya beda sama noraebang di Korea yang cenderung tertutup. Di Indonesia, karaoke itu adalah ajang persatuan bangsa. Lu nggak kenal sama orang di sebelah lu, tapi begitu lagu 'Asmalibrasi' atau lagu-lagu galau Sheila on 7 diputar, kalian bisa langsung rangkulan kayak saudara kandung.

Estetika ala drakor dengan lampu neon pink dan biru emang cakep buat difoto, tapi energi di karaoke massal Indonesia itu nggak ada tandingannya. Kita nggak butuh ruangan kedap suara yang privat, kita butuh panggung dan mic yang volumenya maksimal biar satu kelurahan tahu kalau kita lagi patah hati.

Playlist: Galau Adalah Koentji

Kalau bicara playlist, ada kesamaan menarik antara kita dan Korea: kita sama-sama suka lagu galau. Bedanya, kalau di Korea lagu ballad-nya cenderung puitis dan mendayu-dayu, di Indonesia lagu galaunya itu "merusak" mental. Kita punya stok lagu dari era Peterpan, kerisatih, sampai era Mahalini dan Lyodra yang liriknya kayak disayat-sayat sembilu.

Uniknya, orang Indonesia itu masokis. Semakin sedih lagunya, semakin kencang suaranya. Karaoke itu jadi sesi terapi gratis buat kita. Daripada ke psikolog yang bayarnya mahal per jam, mending patungan sewa room karaoke dua jam bareng bestie. Keluar dari sana, tenggorokan sakit, mata sembab, tapi hati rasanya plong banget.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Nyanyi

Jadi, apakah budaya karaoke kita semarak di Korea? Jawabannya: Lebih dari itu. Kalau di Korea karaoke adalah budaya pop yang tertata, di Indonesia karaoke adalah budaya akar rumput yang mendarah daging. Kita punya kualitas vokal yang emang nggak kaleng-kaleng. Serius, talenta tersembunyi orang Indonesia itu ada di balik pintu-pintu tempat karaoke.

Mungkin kita nggak punya estetika neon sekeren di Seoul, tapi kita punya energi yang bikin siapa pun bakal nengok kalau kita udah mulai narik nada tinggi. Karaoke bagi orang Indonesia bukan cuma soal hiburan, tapi soal ekspresi diri, pelepasan stres, dan tentu saja, ajang pamer vokal tipis-tipis biar nggak dikira cuma jago nyanyi di kamar mandi.

Jadi, kapan kita karaokean lagi? Jangan lupa pesen air mineral botol gede ya, soalnya lagu-lagu Tulus sama Agnez Mo itu butuh stamina paru-paru yang nggak main-main!

Logo Radio
🔴 Radio Live