Ceritra
Ceritra Warga

Hindari Pertanyaan Sensitif Ini Saat Menghibur Orang yang Sedang Berduka

Nisrina - Tuesday, 27 January 2026 | 12:15 PM

Background
Hindari Pertanyaan Sensitif Ini Saat Menghibur Orang yang Sedang Berduka
Ilustrasi (Freepik/)

Menghadapi kerabat atau teman dekat yang sedang dilanda duka cita memang bukanlah situasi yang mudah bagi siapa pun. Kita sering kali merasa canggung dan bingung harus berkata apa untuk bisa sedikit meringankan beban berat mereka.

Niat hati ingin memberikan penghiburan justru bisa berubah menjadi momen yang menyakitkan jika kita salah memilih kata. Oleh karena itu sangat penting untuk memahami etika komunikasi dasar dalam situasi duka yang sensitif ini.

Kesalahan yang paling umum dilakukan adalah melontarkan pertanyaan klise seperti menanyakan kabar mereka saat itu juga. Bagi orang yang sedang hancur hatinya pertanyaan sederhana ini bisa terasa sangat membebani dan membingungkan.

Mereka mungkin merasa tertekan untuk menjawab bahwa kondisi mereka baik-baik saja demi kesopanan sosial. Sebaiknya ganti sapaan ini dengan kalimat yang lebih empatik dan tidak menuntut jawaban spesifik dari mereka.

Rasa ingin tahu manusia terkadang membuat kita lupa akan batasan privasi orang lain di momen krusial. Hindari bertanya secara mendetail mengenai kronologi kejadian atau penyebab kematian almarhum di saat suasana masih berkabung.

Mengulang cerita traumatis tersebut hanya akan membuka kembali luka yang masih sangat basah bagi pihak keluarga. Biarkan mereka bercerita dengan sukarela ketika hati mereka sudah siap dan kondisi emosi lebih tenang.

Mengatakan bahwa kita mengerti persis apa yang mereka rasakan juga merupakan sebuah kesalahan fatal dalam berempati. Setiap orang memiliki kedalaman rasa dan pengalaman kehilangan yang sangat personal serta unik bagi dirinya sendiri.

Membandingkan duka mereka dengan pengalaman masa lalu kita justru bisa terkesan meremehkan validitas perasaan mereka saat ini. Cukup katakan bahwa Anda turut bersedih dan hadir untuk mendukung tanpa perlu menyamakan frekuensi rasa sakitnya.

Kalimat penghiburan yang membawa unsur takdir atau agama tidak selalu cocok disampaikan secara terburu-buru di momen awal duka. Ungkapan seperti ini terkadang justru terdengar menggurui dan seolah melarang mereka untuk merasa sedih atas kehilangan tersebut.

Orang yang berduka butuh ruang untuk memproses kesedihan dan bukan ceramah teologis yang memaksa mereka segera ikhlas. Berikanlah dukungan kehadiran fisik yang hangat daripada nasihat bijak yang terkesan berjarak.

Menyuruh orang yang ditinggalkan untuk tetap kuat dan tegar sering kali menjadi beban mental tambahan bagi mereka. Mereka adalah manusia biasa yang berhak untuk menangis dan merasa lemah saat kehilangan separuh jiwanya.

Menahan emosi demi terlihat kuat di depan orang lain justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental jangka panjang. Biarkan mereka meluapkan emosi secara alami tanpa harus berpura-pura tangguh demi memenuhi ekspektasi sosial.

Selain itu hindari menawarkan bantuan dengan kalimat umum yang abstrak dan membingungkan. Orang yang sedang kalut biasanya tidak memiliki energi untuk memikirkan atau meminta bantuan spesifik kepada orang lain.

Lebih baik tawarkan bantuan konkret seperti membawakan makanan atau membantu mengurus dokumen administrasi yang diperlukan. Tindakan nyata yang inisiatif jauh lebih berharga dan membantu daripada janji bantuan yang masih samar.

Kunci utama dalam mendampingi orang yang berduka adalah kehadiran yang tulus dan kemampuan menjadi pendengar yang baik. Terkadang diam dan duduk menemani jauh lebih berarti daripada melontarkan ribuan kata yang berisiko salah tafsir.

Kita hadir untuk menopang bahu mereka bersandar bukan untuk memperbaiki keadaan yang memang sedang rusak dan pedih. Belajarlah untuk peka terhadap keheningan yang menyembuhkan dan menghargai proses duka setiap individu.

Logo Radio
🔴 Radio Live