Gejolak Harga Pangan: Membaca Pola Naik Turunnya Harga Cabai dan Telur di Pasaran
Nisrina - Wednesday, 14 January 2026 | 01:45 PM


Isu fluktuasi harga bahan pokok atau sembako selalu menjadi topik sensitif yang langsung menyentuh "jantung" dapur rumah tangga Indonesia. Laporan terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang mencatat harga cabai rawit merah menyentuh angka Rp50.200 per kilogram dan telur ayam ras di level Rp32.550 per kilogram bukan sekadar deretan angka statistik. Bagi masyarakat, angka-angka ini adalah indikator nyata dari tekanan inflasi yang menggerus daya beli. Fenomena kenaikan harga dua komoditas ini, yakni cabai dan telur, sebenarnya memiliki pola berulang yang jika dipahami lebih dalam, dapat memberikan wawasan tentang struktur ekonomi dan rantai pasok pangan di Indonesia.
Cabai rawit merah sering disebut sebagai komoditas yang "berisik". Harganya bisa melonjak drastis dalam hitungan hari dan anjlok sama cepatnya. Mengapa hal ini terjadi? Faktor utamanya hampir selalu bermuara pada cuaca dan logistik. Cabai adalah tanaman hortikultura yang sangat manja terhadap air. Curah hujan yang terlalu tinggi bisa menyebabkan pembusukan akar dan serangan hama patek (antraknosa), yang membuat gagal panen di tingkat petani. Sebaliknya, kemarau panjang membuat tanaman kekurangan air. Ketika pasokan dari sentra produksi terganggu sedikit saja, harga di pasar induk akan langsung bereaksi liar karena permintaan masyarakat Indonesia terhadap rasa pedas sifatnya inelastis, artinya orang tetap akan membeli cabai meski harganya naik, walaupun dengan mengurangi takaran.
Harga di kisaran Rp50.000 per kilogram menandakan adanya gangguan di sisi suplai, mengingat harga normal psikologis konsumen biasanya berada di rentang Rp30.000 hingga Rp40.000. Selain cuaca, rantai distribusi yang panjang juga menjadi biang kerok. Dari petani hingga ke tangan konsumen, cabai harus melewati pengepul desa, pengepul besar, pasar induk, pedagang pasar, hingga pengecer. Setiap titik distribusi ini mengambil margin keuntungan dan menanggung risiko penyusutan karena cabai mudah busuk. Akibatnya, disparitas harga antara di tingkat petani dan di pasar konsumen sering kali menganga lebar.
Berbeda dengan cabai, kenaikan harga telur ayam ras hingga menembus angka Rp32.000 per kilogram memiliki kompleksitas tersendiri. Telur adalah sumber protein hewani termurah dan paling mudah diakses oleh rakyat Indonesia. Kenaikan harga telur biasanya dipicu oleh kenaikan harga pakan ternak, terutama jagung. Komponen pakan menyumbang sekitar 70 persen dari biaya produksi peternak ayam petelur. Jika harga jagung internasional naik atau panen jagung lokal gagal, biaya produksi (HPP) telur otomatis terkerek naik. Peternak tentu tidak mau merugi dan terpaksa menaikkan harga jual di tingkat kandang atau farm gate.
Selain faktor pakan, dinamika harga telur juga dipengaruhi oleh program bantuan sosial (bansos) pemerintah. Ketika pemerintah mencairkan bansos sembako yang salah satu komponennya adalah telur ayam dalam jumlah masif, permintaan mendadak melonjak tajam. Hukum ekonomi dasar berlaku: permintaan tinggi dengan suplai tetap akan menaikkan harga. Situasi ini sering kali menciptakan dilema. Di satu sisi peternak menikmati keuntungan, namun di sisi lain konsumen rumah tangga dan pelaku UMKM kuliner menjerit karena biaya modal mereka membengkak.
Menyiasati Gejolak Pasar
Bagi konsumen, memahami bahwa fluktuasi ini adalah siklus yang terus berulang adalah langkah awal untuk mengatur strategi keuangan. Ketergantungan pada pasar untuk komoditas yang volatil seperti cabai bisa disiasati dengan gerakan menanam sendiri di pekarangan rumah atau urban farming. Menanam lima hingga sepuluh pot cabai rawit sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sambal harian sebuah keluarga kecil, sekaligus menjadi lindung nilai atau hedging alami saat harga pasar sedang "gila".
Sementara untuk menyiasati harga telur dan bahan pokok lain yang tinggi, manajemen penyimpanan bahan makanan (food preparation) menjadi kunci. Konsumen perlu lebih cerdas dalam menyimpan stok agar tidak mudah rusak dan terbuang, yang berarti membuang uang. Selain itu, diversifikasi sumber protein juga bisa dilakukan ketika harga telur sedang tidak bersahabat, misalnya beralih sementara ke tahu, tempe, atau ikan yang harganya mungkin lebih stabil.
Data dari PIHPS sejatinya adalah alarm bagi pemerintah. Kenaikan harga yang persisten menuntut adanya intervensi pasar yang lebih dari sekadar operasi pasar insidentil. Perbaikan infrastruktur logistik pangan, subsidi pakan ternak yang tepat sasaran, serta teknologi pascapanen untuk memperpanjang masa simpan cabai dan telur adalah solusi jangka panjang yang mendesak. Tanpa perbaikan struktural ini, berita mengenai harga cabai yang "pedas" dan harga telur yang "pecah rekor" akan terus menjadi tajuk utama yang menghiasi media setiap tahunnya, membebani masyarakat yang sedang berjuang memulihkan ekonomi pascapandemi.
Next News

IHSG Comeback ke 9.000! Transaksi Triliunan Rupiah Sejak Pembukaan
19 hours ago

Rupiah 14 Januari 2026 Hijau Sesaat, Tekanan Global Tak Bisa Diabaikan
18 hours ago

Harga Emas Antam Hari Ini Makin Mahal, Cek Angka Terbarunya!
18 hours ago

Bukan Pelit, Tapi Realistis! Mengapa Menolak Ajakan Nongkrong Justru Bikin Kamu Cepat Kaya
19 hours ago

Awas Jebakan QR Code Palsu! Ini Cara Cek Biar Saldo dan Data Nggak Lenyap
17 hours ago

Modal 10 Ribu Bisa Jadi Investor? Ini Bukan Hoaks
17 hours ago

Kenapa Uang Cepat Habis Sejak Ada QRIS? Ini Jawabannya
14 hours ago

Tahun 2026 Jadi Titik Balik Kebangkitan Pasar Aset Kripto di Indonesia
2 days ago

Bursa RI Panas! IHSG Melesat, Saham Big Cap Kompak Naik pada 13 Januari 2026
2 days ago

Tekanan Global Bikin Rupiah Loyo, Pagi Ini Dibuka di Rp16.873 per USD
2 days ago






