Ceritra
Ceritra Uang

Bukan Pelit, Tapi Realistis! Mengapa Menolak Ajakan Nongkrong Justru Bikin Kamu Cepat Kaya

Nisrina - Wednesday, 14 January 2026 | 08:45 AM

Background
Bukan Pelit, Tapi Realistis! Mengapa Menolak Ajakan Nongkrong Justru Bikin Kamu Cepat Kaya
Ilustrasi (Freepik/)

Di tengah gempuran media sosial yang kerap menampilkan gaya hidup mewah dan pamer kekayaan, muncul sebuah tren finansial baru yang justru merayakan kesederhanaan dan transparansi. Tren tersebut dikenal dengan istilah Loud Budgeting. Berbeda dengan konsep Quiet Luxury yang sempat populer sebelumnya di mana kekayaan ditampilkan secara samar dan elegan, Loud Budgeting justru mengajak orang untuk vokal dan terang-terangan mengenai kondisi keuangan serta prioritas penghematan mereka. Ini bukan sekadar tentang menjadi pelit atau menahan diri, melainkan sebuah gerakan pembebasan diri dari tekanan sosial untuk menghabiskan uang demi validasi orang lain.

Istilah Loud Budgeting pertama kali dipopulerkan oleh seorang kreator konten TikTok bernama Lukas Battle. Ia mendefinisikan konsep ini sebagai keberanian untuk menolak ajakan sosial yang menghabiskan biaya dengan alasan yang jujur dan spesifik terkait tujuan finansial. Alih-alih berbohong dengan mengatakan sedang sibuk atau sakit saat diajak makan malam di restoran mahal, penganut Loud Budgeting akan dengan percaya diri mengatakan alasan sebenarnya. Mereka akan berkata bahwa mereka tidak bisa ikut karena sedang menabung untuk uang muka rumah, atau jatah uang jajan bulan ini sudah habis. Kejujuran ini mengubah narasi "saya tidak punya uang" yang sering berkonotasi memalukan, menjadi "saya memilih untuk tidak mengeluarkan uang di sini" yang berkonotasi memberdayakan.

Konteks ekonomi global yang penuh ketidakpastian, inflasi yang tinggi, dan kenaikan biaya hidup menjadi bahan bakar utama mengapa tren ini meledak, khususnya di kalangan Generasi Z dan Milenial. Anak-anak muda mulai menyadari bahwa mengikuti gaya hidup hedonis hanya akan menjebak mereka dalam siklus gaji yang hanya numpang lewat atau bahkan utang konsumtif. Fenomena ini juga menjadi antitesis dari FOMO atau Fear of Missing Out. Dengan Loud Budgeting, rasa takut ketinggalan momen digantikan oleh JOMO atau Joy of Missing Out, yaitu kebahagiaan karena berani menetapkan batasan dan fokus pada tujuan jangka panjang seperti dana darurat, investasi, atau liburan impian.

Penerapan Loud Budgeting memiliki dampak psikologis yang signifikan. Selama ini, masalah uang sering dianggap tabu untuk dibicarakan sehingga orang merasa sendirian dengan beban finansial mereka. Dengan bersikap terbuka, stigma rasa malu karena tidak bisa mengikuti gaya hidup orang lain perlahan luntur. Hal ini juga menyeleksi lingkaran pertemanan secara alami. Teman yang sejati akan menghargai kejujuran dan mendukung tujuan finansial kita, sementara mereka yang hanya ada untuk bersenang-senang mungkin akan menjauh. Dalam jangka panjang, transparansi ini justru membangun hubungan yang lebih sehat dan autentik karena tidak ada lagi kepura-puraan status sosial.

Untuk memulai gaya hidup ini, kuncinya adalah komunikasi yang asertif namun tetap sopan. Anda tidak perlu bersikap kasar saat menolak ajakan. Cukup sampaikan alasan Anda dengan jelas dan tawarkan alternatif yang lebih ramah di kantong jika Anda masih ingin bersosialisasi. Misalnya, daripada makan di restoran mewah, tawarkan untuk makan bersama di rumah atau olahraga bersama di taman kota. Ingatlah bahwa Loud Budgeting bukan berarti berhenti menikmati hidup, tetapi lebih kepada membelanjakan uang secara sadar atau mindful spending untuk hal-hal yang benar-benar memberikan nilai tambah bagi kehidupan dan masa depan Anda. Pada akhirnya, tren ini mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukanlah apa yang kita pamerkan, melainkan apa yang kita simpan dan kembangkan.

Tags

Logo Radio
🔴 Radio Live