Gas Tertawa Banyak Disalahgunakan, Ini 3 Dampak Fatal Menurut Ahli Kesehatan
Refa - Thursday, 29 January 2026 | 11:00 AM


Tren penyalahgunaan gas Nitrous Oxide (N2O) atau yang lebih populer disebut "Gas Tertawa" (Laughing Gas) semakin meresahkan. Zat yang seharusnya digunakan secara ketat untuk keperluan medis (anestesi) atau industri makanan (whipped cream charger) ini, belakangan sering disalahgunakan sebagai inhalan untuk mendapatkan efek euforia sesaat.
Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Penyakit Menular WHO Kantor Regional Asia Tenggara (2018-2020), memperingatkan bahwa di balik efek tawa yang singkat itu, tersimpan ancaman kerusakan sistemik pada tubuh manusia. Bahaya yang mengintai tidak main-main, mulai dari kerusakan saraf permanen, gangguan mental, hingga kematian mendadak akibat kekurangan oksigen (asfiksia).
Berikut adalah 3 dampak kesehatan utama dari paparan gas N2O menurut pakar kesehatan yang wajib diwaspadai:
1. Kerusakan Saraf Pusat dan Defisiensi B12 Akut
Dampak paling mengerikan dari penggunaan N2O jangka panjang adalah kemampuannya "mematikan" fungsi Vitamin B12 dalam tubuh. Gas ini mengoksidasi kobalt dalam vitamin B12, sehingga tubuh mengalami defisiensi parah. Kekurangan B12 ini secara langsung merusak selubung mielin atau pelindung saraf.
Akibatnya, timbul gangguan neurologis berupa gejala kesemutan parah, kelemahan pada tungkai kaki, hingga kesulitan berjalan atau kelumpuhan yang mungkin permanen. Prof. Tjandra juga menegaskan bahwa inhalasi berulang dapat memicu kerusakan fungsi otak yang menyebabkan penurunan kognitif, kebingungan, dan hilangnya koordinasi gerak tubuh.
2. Gangguan Kejiwaan dan Risiko Asfiksia
Efek "melayang" yang dicari pengguna sebenarnya adalah tanda bahaya bahwa otak sedang kekurangan oksigen (hipoksia). Saat menghirup N2O, gas tersebut mendesak dan menggantikan oksigen di paru-paru, memicu kondisi asfiksia. Hal ini bisa menyebabkan pengguna pingsan mendadak, kejang, atau bahkan henti jantung karena organ vital gagal mendapat suplai oksigen.
Selain ancaman fisik, kesehatan mental pun terancam. Penggunaan rutin gas ini dikaitkan erat dengan munculnya gangguan psikiatris seperti gejala depresi berat, paranoia (rasa takut berlebih), hingga halusinasi visual dan auditori yang mengganggu kewarasan.
3. Ancaman Kesuburan dan Keguguran
Bagi kelompok usia produktif, penyalahgunaan gas ini membawa risiko jangka panjang terhadap sistem reproduksi yang sering kali luput dari perhatian. Data medis menunjukkan adanya risiko infertilitas, di mana paparan N2O berkepanjangan dapat menurunkan tingkat kesuburan baik pada pria maupun wanita. Bahaya lebih fatal mengintai ibu hamil, karena paparan gas ini sangat berisiko memicu keguguran spontan atau kelainan perkembangan janin. Hal ini terjadi akibat gangguan sintesis DNA pada janin yang dipicu oleh defisiensi folat dan B12 dalam tubuh ibunya.
Mengingat risikonya yang fatal dan permanen, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI juga telah mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat tidak tergiur mencoba produk berkedok "Whip Pink" atau balon gas tertawa. Kenikmatan sesaat yang ditawarkan tidak sebanding dengan kerusakan organ vital yang harus ditanggung seumur hidup.
Next News

Soft saving vs YOLO spending: nabung pelan atau nikmatin hidup sekarang?
2 days ago

Doomscrolling economy: kebiasaan scroll berita bikin makin cemas soal masa depan
2 days ago

Adaptasi cepat: "survival skill" utama Gen Z di dunia yang terus berubah
2 days ago

Self-preparedness: skill penting yang jarang diajarkan di Sekolah!
3 days ago

Bukan Sekadar Tinta: Membedah Ritual Rasa Sakit dan Komitmen di Balik Seni Tato
in 5 hours

Shortcut Menuju Melarat: Membongkar Algoritma dan Manipulasi Psikologi di Balik Slot Gacor
in 4 hours

FOMO vs realita: tekanan sosial di era semua serba update
3 days ago

Climate Anxiety: Kenapa Berita Lingkungan Bikin Kita Sesak?
3 days ago

Kenapa Petinggi Korporat Sekarang Lebih Pilih Ransel daripada Pakai Koper?
4 days ago

Keren Sejak Dulu! Intip Skena Musik Indonesia Zaman Kolonial
4 days ago




