Fenomena Female Breadwinner, Saat Perempuan Menjadi Tulang Punggung Keluarga
Nisrina - Tuesday, 24 February 2026 | 08:12 AM


Pergeseran peran dalam sebuah rumah tangga modern kini semakin terlihat jelas di lingkungan masyarakat kita. Jika pada zaman dahulu sosok ayah atau laki laki selalu diidentikkan sebagai pencari nafkah tunggal, realita hari ini menunjukkan gambaran yang sangat berbeda. Saat ini semakin banyak perempuan yang mengambil alih kemudi finansial keluarga. Posisi ini menempatkan mereka sebagai penyumbang pendapatan terbesar atau bahkan satu satunya sumber mata pencaharian di dalam rumah.
Fenomena sosiologis dan ekonomi ini dikenal luas dengan istilah female breadwinner. Menjadi perempuan pencari nafkah utama bukanlah sebuah kasus langka atau anomali lagi. Namun di balik kemandirian finansial yang terlihat membanggakan dari luar, tersimpan realita berlapis tentang perjuangan tuntutan ekonomi, beban ganda, hingga minimnya jaring pengaman sosial yang menyertai keseharian mereka. Mari kita bedah lebih dalam mengenai fenomena ini dari kacamata data, realita sosial, dan cara bertahan di tengah tuntutan zaman.
Mengenal Lebih Dekat Apa Itu Female Breadwinner
Secara sederhana female breadwinner adalah istilah untuk menyebut perempuan yang memiliki pendapatan terbesar di dalam sebuah rumah tangga. Posisi ini menjadikan mereka sebagai penopang utama segala kebutuhan ekonomi keluarga mulai dari biaya dapur, tagihan listrik, hingga biaya pendidikan anak.
Munculnya fenomena ini seiring dengan dunia kerja yang semakin tidak stabil dan tuntutan zaman yang mendorong perempuan untuk menjadi sosok yang makin mandiri. Pada banyak kasus, peran ini lahir bukan karena sebuah rencana ideal kesetaraan gender yang disepakati bersama sejak awal pernikahan. Sering kali posisi ini terpaksa diambil sebagai strategi bertahan hidup karena kondisi ekonomi keluarga yang menuntut, misalnya akibat pasangan yang mengalami pemutusan hubungan kerja, sakit berkepanjangan, atau kondisi perpisahan.
Fakta dan Angka Mengejutkan di Indonesia
Di Indonesia sendiri tren perempuan sebagai tulang punggung keluarga menunjukkan angka yang cukup signifikan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia, tercatat sekitar 14,37 persen pekerja perempuan di negara ini masuk ke dalam kategori female breadwinner. Angka ini menegaskan bahwa setidaknya satu dari sepuluh pekerja perempuan di Indonesia merupakan penyumbang pendapatan terbesar di dalam rumah tangganya.
Fakta yang lebih mengejutkan adalah hampir setengah dari total female breadwinner tersebut menyumbangkan 90 hingga 100 persen dari keseluruhan pendapatan keluarga. Hal ini berarti mereka benar benar menjadi satu satunya tumpuan hidup keluarga. Sayangnya, peran ekonomi yang dominan ini jarang diikuti dengan penyesuaian peran domestik di rumah. Di saat mereka harus bekerja keras mencari uang, urusan mengurus rumah tangga, merawat anak, dan melayani keluarga tetap ada di pundak mereka. Tanggung jawab ekonomi mereka naik drastis, namun ekspektasi keluarga terhadap peran domestik perempuan jarang sekali disesuaikan atau dibagi rata.
Kerja Lebih Lama Namun Minim Jaring Pengaman
Menjadi tulang punggung keluarga menuntut dedikasi waktu dan tenaga yang luar biasa. Sekitar 21 persen female breadwinner di Indonesia harus bekerja sangat keras dengan durasi lebih dari 49 jam per minggu. Angka jam kerja ini tergolong sangat tinggi dan rentan memicu kelelahan fisik maupun mental yang parah.
Tragisnya, kerja keras yang memakan waktu panjang ini tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan dan jaminan masa depan. Data menunjukkan bahwa hanya 26,6 persen dari mereka yang memiliki akses terhadap jaminan kesehatan yang layak. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa kurang dari 3 persen pekerja perempuan pencari nafkah utama yang terlindungi hak haknya lewat serikat pekerja. Realita ini menggambarkan bahwa jutaan perempuan di luar sana sedang memikul beban hidup seluruh anggota keluarga, namun mereka sendiri berdiri rapuh tanpa jaring pengaman sosial yang memadai jika sewaktu waktu jatuh sakit atau kehilangan pekerjaan.
Potret Global dan Bertahannya Kesenjangan Upah
Fenomena perempuan sebagai penopang utama ekonomi keluarga tidak hanya terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Di negara maju seperti Amerika Serikat kondisinya juga menunjukkan pola yang sangat konsisten. Laporan dari American Progress menyebutkan bahwa sekitar 45 persen ibu di sana adalah pencari nafkah utama bagi keluarganya.
Angka ini menjadi semakin ironis ketika kita melihat pada kelompok masyarakat yang paling rentan. Sekitar 77 persen ibu yang hidup di bawah garis kemiskinan justru berstatus sebagai breadwinner. Tantangan mereka semakin berat karena sistem pengupahan global masih belum sepenuhnya adil. Bahkan saat sudah memegang peran sebagai penopang ekonomi utama, para ibu ini masih harus menghadapi kesenjangan upah gender. Rata rata breadwinning mothers hanya dibayar sekitar 76 sen untuk setiap 1 dolar yang diterima oleh ayah dengan peran breadwinner yang sama. Pekerjaan yang sama dan beban yang sama namun dihargai dengan nominal yang berbeda.
Tekanan Psikologis dan Stigma di Masyarakat
Menjadi penyokong dana utama keluarga tentu membawa dinamika psikologis tersendiri. Mary Beth Storjohann yang merupakan seorang penulis keuangan sekaligus praktisi female breadwinner membagikan sudut pandangnya mengenai hal ini. Menurutnya memang ada keuntungan tersendiri dari peran ini seperti jenjang karier yang bisa terus berkembang dan kebebasan untuk mengambil keputusan hidup yang lebih fleksibel.
Namun di sisi lain tekanannya juga sangat nyata dan tidak bisa diabaikan. Para perempuan ini sering kali dihadapkan pada tuntutan sosial untuk selalu tampil sempurna baik sebagai wanita karier yang tangguh maupun sebagai ibu rumah tangga yang teladan. Ada juga rasa takut yang mendalam akan dihakimi oleh lingkungan sekitar, terutama di masyarakat yang masih memegang erat nilai budaya patriarki yang kuat di mana suami dianggap gagal jika istri yang mencari uang.
Kunci Bertahan Menjaga Kewarasan dan Harmoni Keluarga
Tanggung jawab yang besar ini membutuhkan strategi khusus agar perempuan tidak berakhir pada kelelahan ekstrem atau burnout yang merusak kesehatan fisik dan mental. Ada beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan untuk menjaga keseimbangan hidup.
Pertama adalah komunikasi rutin dengan pasangan. Membicarakan masalah keuangan, keluh kesah pekerjaan, dan perasaan secara terbuka sangat penting untuk mencegah kesalahpahaman. Kedua adalah pembagian peran domestik yang jelas. Pasangan harus mau mengambil alih pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak secara proporsional karena tugas mencari nafkah sudah ditanggung bersama atau diambil alih oleh istri.
Ketiga adalah membuat rencana keuangan bersama yang transparan agar tidak ada pihak yang merasa terbebani sendirian. Langkah keempat yang tidak kalah penting adalah memasang batas yang tegas antara waktu bekerja dan waktu beristirahat agar pekerjaan tidak perlahan lahan menghabiskan seluruh waktu dan energi kehidupan pribadi.
Sistem yang Belum Siap Mengikuti Perubahan Peran
Melihat seluruh data dan realita di lapangan kita bisa menyimpulkan satu hal yang sangat jelas. Peran perempuan dalam masyarakat dan ekonomi berubah jauh lebih cepat daripada sistem yang menaunginya. Dari Indonesia sampai Amerika Serikat polanya tetap sama di mana perempuan makin sering dan makin diandalkan untuk menjadi penopang utama ekonomi keluarga.
Namun sayangnya kemajuan peran ini tidak dibarengi dengan dukungan infrastruktur sosial yang memadai. Perlindungan kerja yang layak, upah yang adil tanpa diskriminasi gender, fasilitas jaminan kesehatan, dan normalisasi pembagian peran domestik laki laki di rumah masih jauh tertinggal. Tanggung jawab perempuan naik dengan sangat cepat, namun sistem hukum, sosial, dan budaya di sekitarnya belum ikut berlari mengejar ketertinggalan tersebut.
Next News

Jangan Cuma Skin Care, Pendengaran Juga Butuh Perawatan!
in 7 hours

Mengapa Multitasking Bikin Kamu Gagal Fokus Saat Kejar Deadline
in 7 hours

Sering Pakai Headset? Waspada Bahaya Tinnitus yang Mengintai
in 5 hours

Deadline Sudah Dekat? Simak Trik Aturan 2 Menit Agar Tetap Fokus
in 6 hours

Awas! Earphone yang Jarang Dibersihkan Bisa Picu Infeksi Telinga
in 3 hours

5 Alasan Penting Mengapa Kecoak Harus Tetap Ada di Bumi
in 5 hours

Manfaat Ajaib Cuka Apel Untuk Kulit Cerah dan Glowing
in 4 hours

Rahasia Wajah Glowing dengan Toner Air Beras dan Cara Membuatnya
in 3 hours

Mengapa Banyak Nama Daerah di Jawa Diawali Kata Su? Ini Jawabannya!
in 3 hours

Pilih Buku Fisik atau Audiobook? Cara Upgrade Diri Tanpa Scrolling
12 minutes ago






