Sering Pakai Headset? Waspada Bahaya Tinnitus yang Mengintai
Refa - Tuesday, 24 February 2026 | 12:00 PM


Ngiiiiing: Ketika Headset Kesayangan Malah Jadi Musuh Dalam Selimut Buat Telinga Kita
Bayangkan situasinya begini: Kamu baru saja menyelesaikan sesi dengerin playlist atau podcast horor favorit selama tiga jam nonstop pakai headset noise-canceling andalan. Pas headset dilepas dan suasana kamar jadi hening, tiba-tiba ada suara asing yang mampir. Bunyinya tipis, melengking, dan konstan: "Ngiiiiiiing..." Kamu celingukan, nyari sumber suara, tapi nggak ada apa-apa. Kamu tutup telinga pakai bantal, suaranya makin jelas. Selamat datang di klub, kawan. Kemungkinan besar kamu baru saja kenalan sama yang namanya Tinnitus.
Jujurly, di zaman sekarang, headset atau earphone itu sudah kayak organ tubuh tambahan. Mau di KRL, di kantor biar fokus kerja, sampai mau tidur pun benda ini nempel terus di lubang telinga. Masalahnya, kita sering lupa kalau telinga kita itu bukan mesin yang punya garansi ganti spare part seumur hidup. Kebiasaan mendalami musik dengan volume maksimal demi dapet bass yang nendang ternyata punya konsekuensi yang nggak main-main. Tinnitus bukan sekadar gangguan kecil. Bagi sebagian orang, ini adalah awal dari drama kesehatan mental yang cukup menguras energi.
Apa Sih Tinnitus Itu Sebenarnya?
Secara medis, Tinnitus itu bukan sebuah penyakit, melainkan gejala dari kondisi lain yang mendasarinya. Ini adalah sensasi mendengar bunyi tanpa ada sumber suara eksternal di sekitar kita. Jadi, cuma kamu yang denger, orang sebelahmu nggak bakal denger meskipun dia nempel kuping ke kamu. Bunyinya pun nggak selalu "nging". Ada yang ngerasain kayak suara mendesis, berdesir, detak jantung, atau bahkan kayak suara jangkrik di tengah malam.
Kenapa headset jadi tersangka utama? Coba bayangkan telinga bagian dalam kita itu isinya kayak hamparan rumput yang sangat halus (namanya sel rambut silia). Fungsinya menangkap gelombang suara dan ngirim sinyal ke otak. Kalau kita keseringan dengerin musik kenceng-kenceng, apalagi langsung masuk ke lubang telinga tanpa filter, sel-sel rambut ini bakal patah atau rusak karena terhantam gelombang suara yang terlalu kuat. Masalahnya, kalau sudah patah, sel ini nggak bisa tumbuh lagi kayak rambut di kepala. Akhirnya, mereka malah ngirim sinyal "sampah" ke otak secara acak, dan otak kita menerjemahkannya sebagai suara berdenging tadi.
Gaya Hidup Budeg Sejak Dini
Ada observasi menarik kalau kita lihat anak muda zaman sekarang di transportasi umum. Volume musik mereka seringkali bocor sampai bisa didengar orang di sebelahnya. Padahal mereka pakai earphone yang masuk ke dalam telinga (in-ear monitor). Ini sudah masuk kategori bahaya laten. Banyak dari kita yang merasa kalau musik nggak keras, nggak dapet feel-nya. Padahal, kuping kita punya batas toleransi.
Apalagi sekarang ada fitur noise canceling. Harusnya fitur ini membantu kita dapet suara jernih tanpa perlu volume gede. Tapi kenyataannya? Banyak orang malah makin nafsu naikin volume karena merasa dunianya sudah sunyi senyap dari gangguan luar. Telinga kita dipaksa kerja rodi tanpa ada jeda napas. Tuman, kalau kata orang Jawa. Kebiasaan ini kalau dipelihara bertahun-tahun bakal bikin kita jadi pelanggan tetap dokter THT lebih cepat dari jadwal seharusnya.
Bukan Cuma Berisik, Tapi Juga Bikin Overthinking
Jangan sepelekan suara berdenging ini. Efek Tinnitus itu bukan cuma soal gangguan pendengaran. Bayangkan kamu mau tidur di malam yang sunyi, tapi di dalam kepalamu ada suara peluit yang nggak mau berhenti. Ini bisa bikin insomnia akut. Kalau kurang tidur, emosi jadi nggak stabil, gampang marah, dan ujung-ujungnya produktivitas harian jadi berantakan. Beberapa penderita Tinnitus bahkan sampai mengalami depresi dan kecemasan berlebih karena merasa nggak pernah bisa dapet ketenangan yang bener-bener "hening".
Gara-gara Tinnitus, momen sunyi yang harusnya syahdu malah jadi momen yang menakutkan. Kamu jadi takut sendirian di ruang sepi karena suara itu bakal makin mendominasi. Rasanya kayak ada tamu tak diundang yang ngikutin kamu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan nggak ada tombol off-nya.
Gimana Caranya Biar Nggak Kena (Atau Biar Nggak Makin Parah)?
Sebelum telinga kamu bener-bener protes keras, ada beberapa aturan main yang bisa diterapin. Para ahli sering nyaranin rumus 60/60. Apa itu? Dengerin musik maksimal 60% dari volume total perangkatmu, dan jangan lebih dari 60 menit sehari. Kalau sudah satu jam, kasih telinga kamu "napas" dulu. Lepas headset-nya, nikmati suara alam atau obrolan orang sekitar.
Selain itu, investasikan uangmu buat beli headphone yang berkualitas. Bukan cuma soal merek, tapi soal kenyamanan dan output suara yang seimbang. Kalau bisa, pilih jenis over-ear (yang nutup seluruh daun telinga) daripada in-ear yang langsung nembak ke arah gendang telinga. Rasanya emang lebih bulky, tapi jauh lebih ramah buat kesehatan jangka panjang.
- Jangan bersihin telinga pakai cotton bud terlalu dalam, karena kotoran yang terdorong masuk juga bisa memicu Tinnitus.
- Kalau sudah kerasa ada denging yang nggak hilang dalam 24 jam, langsung gas ke dokter THT. Jangan nunggu sampai parah atau nyoba-nyoba tetes telinga yang nggak jelas asal-usulnya.
- Kurangi konsumsi kafein dan garam berlebih kalau Tinnitus sudah mulai muncul, karena dua hal ini bisa memengaruhi aliran darah di area telinga dan bikin denging makin nyaring.
Menghargai Hening Sebelum Terlambat
Kita hidup di dunia yang sudah terlalu bising. Musik, klakson kendaraan, sampai suara notifikasi HP nggak berhenti-berhenti menyerang panca indera kita. Jangan sampai demi ego ingin terlihat keren dengan headset mahal atau demi pelarian dari kenyataan, kita malah mengorbankan aset masa tua kita: pendengaran.
Tinnitus itu seringkali jadi pengingat kalau tubuh kita butuh istirahat. Nggak ada salahnya sesekali ngelepas semua gadget dan menikmati keheningan yang asli, bukan keheningan buatan dari fitur noise-canceling. Karena sejatinya, pendengaran yang sehat adalah salah satu nikmat yang baru akan terasa mahalnya kalau dia mulai perlahan menghilang. Jadi, yuk, kecilin volumenya sekarang juga sebelum telingamu mulai bernyanyi sendiri tanpa diminta.
Next News

Sengkarut Hukum Roy Suryo dan Teka-Teki Ijazah Jokowi yang Memasuki Babak Baru Penuh Ketegangan
7 hours ago

Spider-Noir dan Perang Estetika Antara Hitam Putih Klasik Lawan Warna Modern
8 days ago

Met Gala: Arisan Sosialita Level Dewa atau Sekadar Karnaval Baju Aneh?
7 days ago

Rahasia di Balik Guling: Dari "Istri Belanda" Hingga Jadi Teman Tidur Wajib Orang Indonesia
8 days ago

Dinamika Reshuffle: Antara Raport Merah, Catur Politik, dan Kebutuhan Zaman
8 days ago

Skena Lari Surabaya: Kenapa Harus Terbelah Jadi Banyak Komunitas? Kok Nggak Satu Saja?
20 days ago

Dollar, Militer, dan Big Mac: Alasan Kenapa Kita Semua Masih Hidup di 'Dunia Amerika
20 days ago

Bukan Cuma Modal Pede! Kenapa Kamu Wajib Jadi 'Bunglon' Saat Public Speaking
20 days ago

Jangan Sampai Perut Kenyang Tapi Otak "Busung Lapar": Membedah Prioritas Pendidikan Selain MBG
22 days ago

Soft saving vs YOLO spending: nabung pelan atau nikmatin hidup sekarang?
24 days ago





