Fakta di Balik Mitos Segitiga Kehidupan yang Sering Viral Saat Gempa


Setiap kali terjadi gempa bumi besar, pesan berantai mengenai teori "Segitiga Kehidupan" (Triangle of Life) seringkali kembali viral di media sosial. Teori ini menyarankan orang untuk berlindung di samping benda besar seperti kasur atau lemari, bukan di bawah meja, dengan asumsi bahwa jika bangunan runtuh, akan terbentuk ruang kosong segitiga yang aman di sebelah benda tersebut.
Namun, metode ini seringkali bertentangan dengan prosedur keselamatan standar yang dikampanyekan oleh lembaga kebencanaan resmi di berbagai negara, termasuk BMKG di Indonesia dan FEMA di Amerika Serikat. Kebingungan dalam memilih metode perlindungan di detik-detik krusial bisa berakibat fatal.
Berikut adalah 3 penjelasan penting mengenai efektivitas kedua metode tersebut dalam situasi gempa:
1. Kelemahan Teori Segitiga Kehidupan
Teori yang dipopulerkan oleh Doug Copp ini memiliki asumsi bahwa semua bangunan akan runtuh total (pancake collapse) hingga rata dengan tanah saat gempa. Pada kenyataannya, tidak semua bangunan mengalami keruntuhan total seperti itu.
Selain itu, sangat sulit untuk memprediksi di mana "segitiga aman" akan terbentuk saat guncangan hebat terjadi. Bergerak atau berpindah tempat untuk mencari posisi di samping lemari atau kasur justru meningkatkan risiko terpental, terjatuh, atau tertimpa perabot berat yang bergeser, yang merupakan penyebab cedera terbanyak saat gempa.
2. Bahaya Runtuhan Material Non-Struktural
Statistik kebencanaan menunjukkan bahwa sebagian besar cedera dan kematian saat gempa bumi bukan disebabkan oleh gedung yang runtuh menimpa tubuh, melainkan akibat jatuhnya material non-struktural. Pecahan kaca jendela, lampu gantung, plafon, rak buku, atau benda-benda yang terlempar adalah ancaman yang paling nyata dan cepat terjadi.
Berlindung di samping benda besar tanpa pelindung kepala membiarkan tubuh terekspos terhadap ancaman benda jatuh tersebut. Sebaliknya, berlindung di bawah meja yang kokoh memberikan "perisai" instan terhadap hujan puing.
3. Standar Emas: Drop, Cover, and Hold On
Hingga saat ini, konsensus ahli keselamatan internasional dan BMKG tetap merekomendasikan metode Drop, Cover, and Hold On (Berlutut, Berlindung, dan Pegangan) sebagai tindakan terbaik. Langkah pertama adalah berlutut untuk menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Kedua, berlindung dengan masuk ke bawah meja yang kuat untuk melindungi kepala dan leher (organ vital). Ketiga, pegangan pada kaki meja agar pelindung tersebut tidak bergeser menjauh saat lantai berguncang hebat. Jika tidak ada meja, disarankan untuk melindungi kepala dengan tangan atau bantal di sudut ruangan yang jauh dari kaca, bukan mencari posisi segitiga yang belum pasti keberadaannya.
Next News

Dukcapil Sebut Aquarius Paling Langka di Indonesia, Jumlahnya "Cuma" 20 Juta Orang
in 5 hours

Bukan Disney, Inilah Lagu Mocca yang Viral di Sekolah Luar Negeri
in 2 hours

Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Anak Muda Hobi Kerja di Kafe
in 4 hours

Target 5.000, Tercapai 10.000 dalam 7 Jam, Kisah Viral di Balik Gerakan Wenanam Jerhemy Owen
an hour ago

Kenapa Lagu-lagu Galau Selalu Laris Manis? Psikologi di Balik Musik Patah Hati
4 hours ago

Tahukah Kamu Foto Proklamasi Hampir Tak Pernah Ada? Ini Kisah di Baliknya
2 hours ago

Bukan Magnet, Ini Alasan Asli Pesawat Tak Lewat di Atas Ka'bah
2 hours ago

Jangan Langsung Buka Sosmed Lakukan Ini Biar Pagi Kamu Lebih Happy
13 hours ago

Kenapa Rasa Takut Bisa Menumpul? Psikologi Warga yang Terbiasa dengan Bahaya Setiap Hari
2 hours ago

Kenapa Ada Orang yang Makan Banyak Tapi Tetap Kurus? Ini Penjelasan Ilmiahnya
an hour ago





