Ceritra
Ceritra Teknologi

Era Baru Industri Hiburan Korea Ketika Algoritma dan Koding Mulai Gantikan Posisi Trainee Manusia

Refa - Monday, 15 December 2025 | 11:00 AM

Background
Era Baru Industri Hiburan Korea Ketika Algoritma dan Koding Mulai Gantikan Posisi Trainee Manusia
Plave (Pinterest/)

Dunia hiburan Korea Selatan sedang mengalami revolusi senyap namun masif. Jika dulu agensi hiburan sibuk mencari bakat (trainee) manusia dari berbagai negara, kini mereka mulai sibuk merekrut programmer dan animator 3D. Fenomena Virtual Idol atau Idol AI kini bukan lagi konsep fiksi ilmiah, melainkan mesin uang baru yang nyata.

Grup seperti PLAVE, MAVE:, atau SUPERKIND telah mendobrak batasan realitas. Mereka bernyanyi, menari, bahkan melakukan live streaming dan berinteraksi dengan fans layaknya manusia, padahal fisik mereka hanyalah susunan piksel dan kode komputer. Lantas, teknologi apa yang bermain di baliknya dan mengapa ini dianggap masa depan K-Pop?

Teknologi di Balik Wajah Sempurna

Ada dua jenis teknologi utama yang digunakan. Pertama adalah Motion Capture (seperti pada grup PLAVE). Di balik karakter anime tampan yang kita lihat di layar, ada manusia asli yang mengenakan setelan sensor tubuh. Gerakan tari, ekspresi wajah, hingga suara nyanyian adalah asli dari manusia tersebut, namun visualnya diubah secara real-time menjadi karakter digital. Ini menciptakan ilusi "tokoh komik yang hidup".

Kedua adalah Deep Learning dan CGI penuh (seperti pada MAVE:). Wajah para anggotanya diciptakan serealistis mungkin menggunakan AI Generative sehingga pori-pori kulit dan helai rambutnya terlihat seperti manusia sungguhan. Suara mereka bahkan bisa dimodifikasi atau dihasilkan sepenuhnya oleh mesin. Teknologi ini memungkinkan agensi menciptakan visual "sempurna" yang mustahil dimiliki manusia biasa.

Idol yang Tidak Pernah Lelah (Dan Anti Skandal)

Dari kacamata bisnis dan teknologi, Virtual Idol adalah aset impian. Kelemahan terbesar idol manusia adalah keterbatasan fisik dan mental. Manusia bisa sakit, bisa tua, butuh tidur, dan yang paling ditakuti agensi, yaitu bisa terkena skandal (kencan, perilaku buruk, dll) yang menghancurkan saham perusahaan.

Idol virtual tidak memiliki risiko tersebut. Mereka bisa bekerja 24 jam non-stop, bisa tampil di konser Metaverse di lima negara sekaligus dalam satu waktu, tidak akan menua, dan pastinya tidak akan tertangkap kamera paparazzi sedang berkencan diam-diam. Efisiensi berbasis teknologi ini menawarkan margin keuntungan yang menggiurkan bagi industri musik.

Apakah Manusia Akan Tergantikan?

Meski teknologi virtual menawarkan kesempurnaan, para ahli dan penggemar sepakat bahwa sentuhan emosional manusia belum sepenuhnya bisa digantikan. Penggemar K-Pop mencintai idolanya karena kepribadian, usaha keras, dan ketidaksempurnaan mereka.

Namun, kehadiran teknologi ini menciptakan genre baru. K-Pop kini bukan lagi sekadar musik, melainkan sebuah ekosistem teknologi hiburan (Entertainment Tech) yang canggih. Batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin tipis, dan K-Pop berdiri tepat di garis perbatasan itu.

Logo Radio
🔴 Radio Live