Energy Drink Picu Lingkaran Setan Kurang Tidur dan Stres, Ini Penjelasan Ahli
Refa - Monday, 26 January 2026 | 12:00 PM


Bagi sebagian orang, minuman berenergi (energy drink) menjadi andalan untuk mengusir kantuk atau mendongkrak performa kerja secara instan. Namun, studi terbaru memperingatkan harga mahal yang harus dibayar tubuh akibat konsumsi minuman stimulan ini.
Para ahli kesehatan menegaskan adanya korelasi kuat antara konsumsi minuman berenergi dengan gangguan pola tidur kronis serta peningkatan tingkat stres. Efek "segar" yang ditawarkan hanyalah utang energi yang justru memperburuk kondisi fisik dan mental jangka panjang.
Berikut adalah 3 fakta medis mengenai dampak negatif minuman berenergi:
1. Mengacaukan Ritme Sirkadian
Kandungan kafein dalam dosis tinggi (sering kali melebihi kopi) pada minuman energi bekerja memblokir reseptor adenosin di otak, zat kimia yang memberi sinyal lelah.
Akibatnya, jam biologis tubuh atau ritme sirkadian menjadi kacau. Konsumen akan mengalami kesulitan untuk memulai tidur (sleep onset latency) dan durasi tidur nyenyak (deep sleep) menjadi berkurang drastis. Bangun tidur tidak terasa segar, melainkan tetap lelah.
2. Memicu Kecemasan dan Stres
Selain gula, minuman ini dipadati zat stimulan seperti taurin dan guarana. Campuran ini memicu sistem saraf simpatik untuk masuk ke mode "siaga penuh" atau fight-or-flight.
Tubuh merespons dengan memproduksi hormon stres (kortisol) dan adrenalin berlebih. Hal ini bermanifestasi pada gejala fisik seperti jantung berdebar, tangan gemetar (jittery), serta perasaan cemas atau gelisah yang tidak beralasan, yang pada akhirnya meningkatkan beban stres harian.
3. Jebakan Lingkaran Setan (Vicious Cycle)
Bahaya terbesar adalah terciptanya siklus ketergantungan. Karena kualitas tidur memburuk akibat minuman energi, seseorang akan bangun dalam kondisi kelelahan ekstrem keesokan harinya.
Untuk mengatasi lelah tersebut, mereka kembali meminum minuman energi. Siklus ini berulang terus-menerus, menyebabkan akumulasi kurang tidur (sleep debt) yang parah dan potensi kerusakan organ vital seperti ginjal dan jantung dalam jangka panjang.
Next News

Bahaya Nasi yang Salah Masak: Bisa Melumpuhkan Pencernaan
10 hours ago

Ketemu Kucing Hitam Saat Berkendara? Simak Fakta dan Mitosnya
14 hours ago

Budaya Makan Visual: Ketika Kamera Lebih Lapar dari Perut
15 hours ago

Dilema Rak Dekorasi: Tanaman Hidup vs Palsu Mana yang Lebih Oke?
2 days ago

Alasan Mengapa Kamu Harus Selalu Bawa Tas Belanja Sendiri
3 days ago

Bekal Cepat Basi? Ini 5 Rahasia Packing Bekal Makan Siang Agar Tetap Enak
4 days ago

Mengenal Sejarah Teddy Bear: Kenapa Harus Pakai Nama Teddy?
5 days ago

Misteri Earworm: Kenapa Lagu yang Kita Benci Malah Susah Hilang?
7 days ago

Membedah Lebih Dalam: Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Dalam Kepercayaan Diri Individu
9 days ago

Bukan Kebetulan, Ini Asal Usul Nama Makanan Berawalan Bak
9 days ago





