Ceritra
Ceritra Warga

Digitalisasi Ciptakan Jurang Baru Ketimpangan di Pasar Kerja Modern

Nisrina - Friday, 23 January 2026 | 03:45 PM

Background
Digitalisasi Ciptakan Jurang Baru Ketimpangan di Pasar Kerja Modern
Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) mendengarkan orasi saat aksi di depan Gedung DPR, Jakarta. (ANTARA FOTO/Fauzan)

Gelombang digitalisasi kini telah merambah ke hampir seluruh sektor industri tanpa terkecuali. Perubahan masif ini membawa kemudahan sekaligus tantangan besar bagi para pekerja konvensional di berbagai bidang. Kita tidak bisa lagi menutup mata bahwa cara kita bekerja sedang berubah total dengan sangat cepat.

Di satu sisi teknologi membuka ribuan peluang profesi baru yang dulunya tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun. Namun di sisi lain ancaman otomatisasi mengintai jutaan pekerjaan rutin yang kini bisa digantikan oleh mesin pintar. Dualisme ini menciptakan rasa cemas sekaligus harap bagi angkatan kerja di seluruh dunia.

Masalah utama yang muncul sebenarnya bukanlah hilangnya pekerjaan melainkan ketimpangan keahlian yang makin lebar. Mereka yang mampu beradaptasi dengan teknologi canggih akan mendapatkan gaji tinggi dan posisi strategis di perusahaan. Sementara pekerja yang gagap teknologi terpaksa berebut pekerjaan kasar dengan upah yang semakin tertekan.

Fenomena ini sering disebut oleh para ahli sebagai penggerusan kelas menengah di pasar tenaga kerja global. Pekerjaan administratif yang dulunya menjadi penopang ekonomi kelas menengah kini paling mudah diambil alih oleh perangkat lunak cerdas. Akibatnya struktur pasar kerja berubah menjadi sangat timpang antara si ahli teknologi dan pekerja manual.

Akses terhadap pendidikan digital yang berkualitas sayangnya belum merata di semua lapisan masyarakat kita. Anak-anak dari keluarga mampu cenderung lebih mudah mendapatkan pelatihan koding atau analisis data sejak usia dini. Hal ini semakin memperlebar jarak kesenjangan sosial karena garis start karier mereka sudah berbeda jauh.

Munculnya ekonomi gig atau kerja lepas sering dianggap solusi namun sebenarnya menyimpan kerentanan tersendiri bagi pekerjanya. Mitra platform digital sering kali tidak memiliki jaminan sosial dan kepastian karier jangka panjang yang jelas. Mereka terjebak dalam ilusi fleksibilitas waktu tanpa perlindungan hukum yang memadai layaknya karyawan tetap.

Mengatasi wajah baru ketimpangan ini membutuhkan kerja sama serius antara pemerintah dan para pelaku industri. Pelatihan ulang keahlian atau reskilling massal harus menjadi agenda prioritas agar tidak ada tenaga kerja yang tertinggal zaman. Kita harus memastikan teknologi menjadi alat yang menyejahterakan semua orang dan bukan hanya segelintir elit saja.

Logo Radio
🔴 Radio Live