Ceritra
Ceritra Warga

Cara Utarakan Ketidaksetujuan Pada Rekan Kerja

Nisrina - Wednesday, 01 April 2026 | 10:23 AM

Background
Cara Utarakan Ketidaksetujuan Pada Rekan Kerja
Ilustrasi (Pexels/Miguel Á. Padriñán)

Duduk di ruang rapat divisi pengembangan bisnis pada siang hari yang terik, ditambah ritme kerja yang menuntut kecepatan, sering kali menempatkan kita pada situasi yang cukup canggung. Di satu sisi, kita dituntut untuk terus melempar ide segar dan mengeksekusi strategi baru demi kemajuan proyek. Namun di sisi lain, ada kalanya rekan kerja atau bahkan atasan melontarkan gagasan yang menurut logika dan data yang kita miliki terasa kurang tepat sasaran. Niat hati ingin langsung menginterupsi dan menolak mentah mentah, tetapi ketakutan akan merusak suasana kerja dan dicap sebagai sosok yang arogan sering kali menahan niat tersebut.

Berada di dunia profesional memang mengharuskan kita menguasai taktik komunikasi tingkat tinggi. Berbeda dengan saat kita masih sekadar mengerjakan tugas kelompok di kampus, dinamika kantor melibatkan ego, hierarki, dan tentu saja profesionalitas jangka panjang. Mengutarakan ketidaksetujuan adalah hal yang sangat wajar dan bahkan menyehatkan bagi laju perusahaan. Tanpa adanya gesekan ide, tidak akan ada inovasi yang lahir. Masalahnya bukan pada apa yang kita tolak, melainkan pada bagaimana cara kita menyampaikannya agar pesan tersebut mendarat dengan aman.

Mari kita bedah strategi komunikasi paling elegan untuk menyanggah opini di tempat kerja tanpa harus memicu drama, merusak pertemanan, atau terlihat seperti sosok yang menyebalkan.

Seni Memvalidasi Sebelum Melemparkan Bantahan

Hal paling menyebalkan saat sedang berbicara adalah ketika kalimat kita dipotong dan langsung dibantah. Reaksi defensif secara otomatis akan muncul saat seseorang merasa ide cemerlangnya diremehkan. Oleh karena itu, langkah pertama yang paling krusial sebelum kamu menyatakan ketidaksetujuan adalah memberikan validasi atau pengakuan atas ide rekan kerjamu tersebut.

Validasi bukan berarti kamu membenarkan ide yang salah. Validasi adalah bentuk penghargaan bahwa kamu mendengarkan dan menghargai usaha mereka dalam berpikir. Gunakan kalimat pembuka yang positif seperti "Gagasan yang sangat menarik untuk memperluas jangkauan audiens kita" atau "Aku sangat menghargai sudut pandangmu mengenai efisiensi anggaran ini". Setelah mereka merasa didengarkan dan pertahanan emosional mereka menurun, barulah kamu bisa masuk perlahan menggunakan kata sambung yang tepat. Hindari penggunaan kata "Tetapi" karena kata tersebut cenderung menghapus pujian di awal. Gantilah dengan kata "Dan" atau "Namun", misalnya "Namun, mari kita pertimbangkan juga dampaknya pada jadwal rilis kita bulan depan".

Memisahkan Antara Personal dan Pokok Permasalahan

Salah satu kesalahan paling umum dalam komunikasi dunia kerja adalah mencampuradukkan antara kritik terhadap ide dengan kritik terhadap individu. Saat suasana mulai memanas, sangat mudah bagi kita untuk terpancing menggunakan kalimat yang bernada menyerang secara personal. Mengatakan "Ide kamu itu tidak masuk akal" akan langsung terdengar seperti sebuah serangan langsung ke ranah pribadi.

Sebagai komunikator yang cerdas, kamu harus bisa memisahkan subjek dari objeknya. Fokuslah murni pada data, situasi, atau pokok permasalahan yang sedang dibahas. Ubah struktur kalimatmu menjadi lebih objektif. Daripada menyerang secara langsung, kamu bisa menggunakan kalimat seperti "Jika kita melihat data metrik bulan lalu, sepertinya eksekusi ide ini akan menemui sedikit hambatan pada bagian operasional". Dengan menggunakan bahasa yang berpusat pada masalah dan data pendukung, rekan kerjamu tidak akan merasa sedang dihakimi kemampuannya.

Menggunakan Teknik Bertanya Sebagai Pengganti Pernyataan Langsung

Menyatakan ketidaksetujuan dalam bentuk pernyataan yang tegas sering kali membuat suasana diskusi menjadi sangat kaku. Jika kamu berhadapan dengan rekan kerja yang keras kepala atau atasan yang memiliki otoritas lebih tinggi, menggunakan teknik bertanya jauh lebih efektif dan elegan dibandingkan memberikan pernyataan penolakan secara terang terangan.

Alih alih mengatakan "Strategi pemasaran ini pasti akan gagal karena target pasar kita berbeda", cobalah untuk memancing nalar mereka dengan sebuah pertanyaan kritis. Kamu bisa bertanya, "Bagaimana strategi ini bisa beradaptasi jika ternyata audiens Gen Z kita memberikan reaksi yang berbeda dari prediksi awal?". Metode bertanya ini memaksa lawan bicara untuk memikirkan kembali celah dari ide mereka sendiri tanpa merasa digurui. Sering kali, melalui pertanyaan pancingan yang tepat sasaran, mereka akan menyadari sendiri letak kelemahan ide tersebut dan secara sukarela merevisinya.

Membawa Solusi Alternatif Jangan Datang dengan Tangan Kosong

Menjadi pihak oposisi yang hanya pandai menolak tanpa bisa memberikan jalan keluar adalah ciri khas dari rekan kerja yang sangat dihindari. Siapa pun bisa mencari kesalahan dari sebuah gagasan, tetapi hanya profesional sejati yang mampu melihat celah dan langsung menambalnya dengan solusi baru.

Jika kamu merasa sebuah proyek tidak layak untuk diteruskan, pastikan kamu sudah menyiapkan rencana cadangan di dalam kepalamu. Saat kamu menyuarakan keberatan, segera ikuti dengan penawaran alternatif yang logis. Sampaikan dengan gaya bahasa yang mengundang kolaborasi, misalnya "Aku melihat ada risiko keterlambatan jika kita menggunakan vendor A. Sebagai alternatif, bagaimana jika kita membagi beban kerjanya dengan vendor B yang terbukti lebih cepat? Aku sudah merangkum perbandingan biayanya di sini". Pendekatan semacam ini membuktikan bahwa kamu menolak bukan karena ingin menjatuhkan, melainkan karena kamu benar benar peduli pada kualitas hasil akhir pekerjaan tim.

Mengendalikan Bahasa Tubuh dan Intonasi Suara

Terkadang, kata kata yang keluar dari mulut kita sudah tersusun dengan sangat sopan, tetapi rekan kerja tetap merasa tersinggung. Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya terletak pada elemen komunikasi nonverbal. Bahasa tubuh, raut wajah, dan intonasi suara memegang peranan yang sangat dominan dalam menentukan bagaimana sebuah pesan diterima oleh lawan bicara.

Mengutarakan ketidaksetujuan sambil menyilangkan tangan di dada, memutar bola mata, atau menggunakan nada suara yang tinggi dan meremehkan akan langsung merusak seluruh substansi pembicaraan. Latihlah dirimu untuk menjaga postur tubuh tetap terbuka dan santai. Pertahankan kontak mata yang bersahabat dan atur nada suaramu agar tetap datar, tenang, serta profesional. Kemampuan mengendalikan emosi dan ekspresi wajah di tengah diskusi yang alot adalah keterampilan mahal yang akan membuatmu dihormati oleh siapa saja di lingkungan kerjamu.

Logo Radio
🔴 Radio Live