Bukan Stranger Things, Ini Tayangan Paling Banyak Ditonton di 2025
Refa - Friday, 30 January 2026 | 03:30 PM


Tahun 2025 menjadi tahun yang monumental dalam sejarah layanan streaming global. Perang memperebutkan atensi penonton mencapai puncaknya dengan dirilisnya dua sekuel paling dinanti dalam satu dekade terakhir, yaitu musim terakhir dari fenomena budaya pop Stranger Things dan kelanjutan dari sensasi Korea Selatan, Squid Game.
Laporan terbaru dari Nielsen mengenai data penonton streaming sepanjang tahun 2025 akhirnya dirilis, memberikan gambaran yang mengejutkan sekaligus menegaskan tren perilaku konsumen yang sedang berubah. Meskipun Netflix berhasil mendominasi kategori serial orisinal dengan angka yang fantastis, gelar "Raja Streaming" yang sesungguhnya justru jatuh ke tangan yang tidak terduga, sebuah serial animasi anak-anak tentang anjing berwarna biru.
Artikel ini akan membedah secara mendalam data Nielsen tersebut, menganalisis strategi konten di balik angka-angka raksasa ini, serta apa artinya bagi masa depan industri hiburan digital.
Pertarungan Serial Orisinal: Dominasi Mutlak Netflix
Dalam kategori Original Series (serial yang diproduksi khusus untuk platform streaming), Netflix kembali membuktikan diri sebagai penguasa pasar yang tak tergoyahkan. Strategi mereka dalam membangun hype global terbayar lunas lewat dua judul andalan mereka.
1. Stranger Things
Posisi puncak untuk kategori serial orisinal diduduki oleh Stranger Things. Serial fiksi ilmiah berlatar tahun 80-an ini mencatatkan angka yang mencengangkan, yakni 39,95 miliar menit waktu tonton sepanjang tahun 2025.
Angka hampir 40 miliar menit ini bukan sekadar statistik. Ini adalah bukti kekuatan intellectual property (IP) yang telah dibangun selama hampir satu dekade. Musim kelima yang menjadi penutup kisah Eleven dan kawan-kawan di Hawkins menjadi magnet utama. Faktor nostalgia, dikombinasikan dengan durasi episode yang panjang (beberapa episode berdurasi seperti film layar lebar), berkontribusi besar pada akumulasi menit tonton ini.
Keberhasilan ini juga menunjukkan efektivitas strategi rilis Netflix. Meskipun ada perdebatan mengenai model rilis "binge-watching" (langsung semua episode) versus rilis mingguan, angka ini membuktikan bahwa antusiasme penggemar Stranger Things mampu menciptakan gelombang tontonan massal yang sulit ditandingi oleh kompetitor mana pun. Penonton tidak hanya menonton musim terbaru, tetapi data menunjukkan adanya tren rewatch (menonton ulang) musim-musim sebelumnya untuk menyegarkan ingatan sebelum masuk ke babak akhir.
2. Squid Game
Di posisi kedua, Squid Game kembali menghentak dunia dengan perolehan 22,41 miliar menit. Musim kedua dari drama survival Korea Selatan ini membuktikan bahwa kesuksesan musim pertamanya di tahun 2021 bukanlah kebetulan semata.
Selisih angka antara Stranger Things dan Squid Game memang cukup signifikan, namun pencapaian Squid Game memiliki nilai strategis yang berbeda. Serial ini membuktikan bahwa konten non-bahasa Inggris (non-English content) memiliki daya tarik yang setara dengan produksi Hollywood. Netflix berhasil mengapitalisasi investasi mereka di pasar Asia.
Kehadiran Squid Game di posisi kedua Nielsen menegaskan bahwa subtitle atau takarir bukan lagi penghalang bagi penonton Amerika Serikat dan global. Kualitas produksi, ketegangan plot, dan kritik sosial yang relevan membuat penonton rela menatap layar berjam-jam. Ini juga menjadi sinyal bahaya bagi studio tradisional Hollywood bahwa kompetisi kini datang dari seluruh penjuru dunia.
Plot Twist: Bluey dan Kekuatan Konten Anak
Meskipun Stranger Things dan Squid Game mendominasi percakapan di media sosial dan berita hiburan, data Nielsen mengungkapkan fakta yang lebih mencengangkan jika melihat kategori Keseluruhan Program (Overall).
Gelar tayangan yang paling banyak ditonton pada tahun 2025 jatuh kepada Bluey, serial animasi anak-anak asal Australia yang tayang di Disney+. Dengan total waktu tonton mencapai 45,2 miliar menit, Bluey berhasil mengalahkan drama supranatural maupun thriller mematikan milik Netflix.
Mengapa Kartun Bisa Mengalahkan Drama Berbiaya Mahal?
Fenomena kemenangan Bluey ini memberikan pelajaran berharga tentang perilaku konsumen streaming yang sering luput dari perhatian:
1. Faktor Pengulangan (Replay Value)
Anak-anak memiliki kebiasaan menonton yang unik. Berbeda dengan orang dewasa yang mungkin hanya menonton Stranger Things satu atau dua kali, anak-anak bisa menonton episode yang sama puluhan kali tanpa bosan. Algoritma penghitungan menit Nielsen sangat menguntungkan konten dengan tingkat replayability yang tinggi seperti ini.
2. Co-Viewing (Menonton Bersama)
Bluey dipuji secara global karena naskahnya yang cerdas dan menyentuh hati, tidak hanya bagi anak-anak tapi juga orang tua. Banyak keluarga menonton acara ini bersama-sama. Ini menciptakan basis penonton ganda: anak dan orang tua, yang mendongkrak angka viewership secara signifikan.
3. Durasi Pendek, Volume Banyak
Episode Bluey yang singkat (sekitar 7-8 menit) memudahkan orang tua untuk memberikannya sebagai hiburan cepat ("distraction") bagi anak di sela-sela aktivitas. Akumulasi dari ratusan episode pendek yang diputar terus-menerus sepanjang tahun menghasilkan angka agregat yang raksasa.
Analisis Industri: Orisinal vs Akuisisi
Laporan Nielsen 2025 ini juga menyoroti pergeseran strategi konten di antara para raksasa streaming. Ada dua jenis konten utama yang bertarung: Konten Orisinal (seperti Stranger Things) dan Konten Akuisisi (seperti Bluey, Suits, atau Grey's Anatomy).
Peran Vital Konten Orisinal
Konten orisinal berfungsi sebagai Alat Akuisisi Pelanggan. Orang-orang mendaftar dan membayar biaya langganan Netflix bulan ini karena mereka ingin menonton finishing dari Stranger Things atau babak baru Squid Game. Tanpa konten orisinal yang "meledak", platform akan kesulitan menarik pelanggan baru. Biaya produksinya sangat mahal, risikonya tinggi, tetapi imbalannya adalah lonjakan pelanggan baru (new sign-ups).
Peran Krusial Konten Akuisisi (Library Content)
Sebaliknya, konten seperti Bluey (yang dilisensikan Disney) atau tayangan lama lainnya berfungsi sebagai Alat Retensi Pelanggan. Setelah selesai menonton Stranger Things dalam satu akhir pekan, apa yang membuat pelanggan tidak langsung membatalkan langganan? Jawabannya adalah konten pustaka yang nyaman ditonton sehari-hari.
Kemenangan Bluey secara keseluruhan menunjukkan bahwa meskipun konten orisinal mendapatkan headline berita, konten pustaka lah yang membuat "mesin" streaming tetap berjalan sehari-hari. Platform yang hanya mengandalkan konten orisinal baru tanpa memiliki pustaka konten lama yang kuat akan rentan ditinggalkan pelanggan (churn rate tinggi) saat tidak ada serial baru yang tayang.
Psikologi Penonton di Tahun 2025
Data ini juga menjadi cerminan psikologis masyarakat global di tahun 2025. Tingginya angka penonton Bluey dan masih kuatnya performa serial-serial lama (seperti Grey's Anatomy atau NCIS yang kerap masuk daftar Nielsen) menunjukkan kebutuhan akan Comfort Watch.
Di tengah ketidakpastian ekonomi atau isu global, penonton cenderung mencari tayangan yang memberikan rasa aman, nyaman, dan familiar. Bluey menawarkan dunia yang hangat tanpa konflik yang terlalu berat. Sementara Stranger Things, meskipun menegangkan, menawarkan nostalgia masa lalu yang dirindukan banyak orang.
Sebaliknya, kesuksesan Squid Game mewakili sisi lain: kebutuhan katarsis. Penonton menyalurkan kecemasan sosial mereka melalui tontonan thriller yang intens. Dua kutub preferensi ini—kenyamanan vs ketegangan—mendominasi layar kaca digital sepanjang tahun.
Tantangan Netflix Pasca-Stranger Things
Bagi Netflix, laporan Nielsen 2025 adalah kemenangan sekaligus peringatan. Stranger Things telah menjadi tulang punggung platform ini selama bertahun-tahun. Dengan berakhirnya serial tersebut di tahun 2025, muncul pertanyaan besar: "Siapa penerusnya?"
Meskipun Squid Game sukses besar, serial tersebut memiliki jeda produksi yang lama. Netflix kini berada di bawah tekanan besar untuk menemukan IP (Intellectual Property) baru yang bisa menghasilkan engagement sebesar 40 miliar menit.
Beberapa tantangan yang dihadapi Netflix ke depan meliputi:
- Membangun Waralaba Baru: Wednesday dan One Piece adalah kandidat kuat, namun konsistensi jangka panjangnya masih harus diuji.
- Kompetisi Olahraga Langsung: Netflix mulai merambah tayangan olahraga (seperti WWE dan NFL edisi Natal) untuk mengisi kekosongan "event viewing" yang biasanya diisi oleh serial besar.
- Kenaikan Biaya Produksi: Menciptakan serial selevel Stranger Things membutuhkan biaya ratusan juta dolar. Tanpa jaminan kesuksesan, ini adalah pertaruhan besar.
Kesimpulan: Era Baru Televisi Telah Mapan
Laporan Nielsen tahun 2025 menegaskan bahwa streaming bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi arus utama (mainstream) yang sepenuhnya menggantikan pola konsumsi televisi tradisional.
Angka miliaran menit yang diraih oleh Stranger Things, Squid Game, dan Bluey menunjukkan skala konsumsi media yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Kita melihat pergeseran di mana sebuah kartun anak-anak bisa lebih populer daripada drama prestise Hollywood, dan di mana serial berbahasa Korea bisa bersaing head-to-head dengan serial termahal Amerika.
Bagi para pembuat konten, pemasar, dan penikmat film, data ini memberikan satu kesimpulan jelas: Kualitas cerita tetap menjadi raja, namun ketersediaan (availability) dan kemampuan sebuah tayangan untuk ditonton ulang (rewatchability) adalah kunci untuk memenangkan perang streaming jangka panjang. Tahun 2025 mungkin adalah tahun perpisahan bagi Eleven dan kawan-kawan, namun ini baru permulaan bagi era kompetisi konten yang lebih sengit.
FAQ: Pertanyaan Seputar Data Streaming 2025
Apa itu Laporan Nielsen Streaming? Nielsen adalah perusahaan pengukuran data dan analitik yang melacak apa yang ditonton orang di Amerika Serikat melalui televisi. Laporan streaming mereka menghitung berapa menit sebuah tayangan ditonton di platform seperti Netflix, Disney+, Hulu, dan lainnya.
Mengapa Bluey bisa mengalahkan Stranger Things? Meskipun Stranger Things memiliki basis penggemar yang besar, Bluey memiliki keunggulan jumlah episode yang sangat banyak dan durasi per episode yang pendek, serta kecenderungan anak-anak untuk menonton episode yang sama berulang-ulang setiap hari sepanjang tahun.
Apakah data ini mencakup penonton di Ponsel/HP? Data Nielsen tradisional fokus pada penonton melalui layar televisi (TV glass). Penonton yang menyaksikan melalui ponsel atau tablet saat bepergian sering kali tidak terhitung secara penuh dalam metrik spesifik ini, yang berarti angka aslinya mungkin jauh lebih besar.
Bagaimana nasib Squid Game setelah Season 2? Mengingat kesuksesan masif di tahun 2025, besar kemungkinan Netflix akan terus memperluas semesta Squid Game, baik melalui musim lanjutan, spin-off, atau reality show turunannya untuk menjaga momentum.
Next News

Panduan Panen Bokashi yang Benar
7 hours ago

Benarkah Meninggalkan Shalat Jumat 3 Kali Hati Menjadi Tertutup Selamanya
10 hours ago

Anti-Bau! Cara Menjaga Keseimbangan Unsur Hijau dan Cokelat dalam Komposter Indoor
8 hours ago

Pupuk Gratis dari Dapur! Cara Membuat POC Tanpa Bau untuk Tanaman Indoor
9 hours ago

Manfaat Sabun Kastila dan Alkohol dalam Melawan Hama
10 hours ago

Alasan Mengejutkan di Balik Tren Mengoleskan Cuka pada Pintu Rumah
14 hours ago

Sering Lupa Menyiram? Inilah Rahasia Memiliki Hutan Kecil di Dalam Rumah
11 hours ago

8 Bahan Herbal Ampuh Penjaga Kesehatan Pernapasan
14 hours ago

Mengenal Cumulonimbus Sang Raja Awan Pembawa Badai
15 hours ago

Resep Capcay Goreng Spesial Isian Lengkap yang Lezat dan Bergizi
15 hours ago






