Ceritra
Ceritra Warga

Bukan Mesin, Ternyata Bakteri Mutan dan Lendir Okra Bisa Jadi Solusi Kiamat Plastik!

Refa - Thursday, 29 January 2026 | 08:30 PM

Background
Bukan Mesin, Ternyata Bakteri Mutan dan Lendir Okra Bisa Jadi Solusi Kiamat Plastik!
Bakteri Ideonella sakaiensis (SCIENCE PHOTO LIBRARY/KATERYNA KON)

Isu sampah plastik telah menjadi krisis global yang seolah tanpa ujung. Plastik konvensional membutuhkan waktu hingga 400 tahun untuk terurai secara alami. Namun, terobosan sains terbaru menawarkan solusi yang lebih cepat dan ramah lingkungan melalui metode Bio-Remediasi.

Para ilmuwan kini tidak hanya bergantung pada mesin daur ulang mekanis, melainkan mulai memanfaatkan "pasukan alam" seperti bakteri, tanaman, dan jamur untuk memusnahkan polusi hingga ke partikel terkecil (mikroplastik).

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai teknologi Bio-Remediasi dan organisme pemakan plastik yang digadang-gadang sebagai penyelamat bumi di masa depan.

Apa Itu Bio-Remediasi?

Secara sederhana, Bio-Remediasi adalah penggunaan organisme hidup (mikroorganisme, fungi, atau tanaman) untuk menghilangkan atau menetralkan polutan dari lingkungan. Berbeda dengan pembakaran sampah yang menghasilkan emisi karbon, metode ini bekerja secara biologis dengan mengubah sampah berbahaya menjadi materi organik yang aman.

1. Ideonella sakaiensis: Bakteri Mutan Pengurai Botol

Penemuan paling fenomenal dalam dekade ini adalah bakteri spesies Ideonella sakaiensis. Bakteri ini pertama kali ditemukan di tumpukan limbah daur ulang di Jepang dan memiliki kemampuan unik untuk "memakan" plastik jenis PET (Polyethylene Terephthalate), bahan utama botol air mineral.

Cara Kerja Bakteri Pemakan Plastik

Bakteri ini tidak mengunyah plastik secara fisik, melainkan menggunakan reaksi kimia:

  • Pelepasan Enzim: Bakteri melepaskan dua enzim khusus bernama PETase dan MHETase.
  • Pemecahan Molekul: Enzim tersebut memutus ikatan kimia polimer plastik yang kuat.
  • Hasil Akhir: Plastik terurai menjadi zat dasar (monomer) yang tidak berbahaya dan bisa diserap kembali oleh alam.

Kabar terbarunya, ilmuwan telah melakukan rekayasa genetika untuk menciptakan "benzim super". Enzim hasil modifikasi ini diklaim mampu mengurai plastik enam kali lebih cepat dibandingkan versi alaminya, membuka peluang penggunaan skala industri di masa depan.

2. Inovasi Filter Air Organik (Plant-Based Filters)

Salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan manusia adalah mikroplastik yang mencemari air minum. Partikel ini sering kali lolos dari sistem penyaringan konvensional karena ukurannya yang mikroskopis. Solusi mengejutkan justru datang dari tanaman pangan seperti Okra dan tanaman yang mengandung Tannin.

Efektivitas Hingga 99,9 Persen

Studi terbaru menunjukkan bahwa ekstrak lendir (goo) dari tanaman okra berfungsi sebagai flokulan alami yang sangat kuat.

  • Mekanisme: Zat ini bekerja dengan cara mengikat partikel mikroplastik yang melayang di air dan menggumpalkannya menjadi massa yang lebih besar.
  • Hasil: Gumpalan plastik tersebut menjadi berat dan mengendap ke dasar, sehingga mudah disaring.
  • Keamanan: Berbeda dengan bahan kimia sintetis (flokulan kimia) yang berisiko meninggalkan residu racun, filter berbasis tanaman ini 100% aman dan biodegradable.

3. Jamur Pembersih Tanah (Mycoremediation)

Jika bakteri bekerja di air, maka jamur adalah rajanya pembersih tanah. Metode ini dikenal dengan sebutan Mycoremediation. Spesies jamur tertentu, seperti Pestalotiopsis microspora, diketahui memiliki kemampuan bertahan hidup ekstrem dengan memakan polyurethane, bahan yang biasa ditemukan pada busa atau spons.

Solusi untuk TPA (Tempat Pembuangan Akhir)

Akar jamur atau miselium mampu tumbuh menembus tumpukan sampah plastik yang padat. Enzim yang dilepaskan jamur akan memecah struktur kimia plastik dan mengubahnya menjadi kompos. Teknologi ini sangat potensial diterapkan di area TPA untuk mengurangi gunungan sampah yang mencemari tanah dan air tanah selama berpuluh-puluh tahun.

4. Kesimpulan

Perpaduan antara teknologi rekayasa genetika dan kekuatan alami organisme hidup (Bio-Remediasi) memberikan harapan baru. Plastik yang dulunya dianggap sampah abadi, kini memiliki musuh alami yang mampu mengurainya kembali menjadi materi organik. Masa depan pengelolaan limbah tidak lagi hanya soal membakar atau menimbun, tetapi "memberi makan" alam untuk membersihkan dirinya sendiri.

Logo Radio
🔴 Radio Live