Berhenti Menyiksa Diri Sendiri Ini Cara Elegan Melepaskan Masa Lalu dan Kembali Bahagia
Refa - Friday, 12 December 2025 | 12:25 PM


Mengakhiri sebuah hubungan tidak pernah mudah, terlepas dari siapa yang memutuskan atau berapa lama hubungan itu terjalin. Rasanya seperti ada bagian tubuh yang hilang, menyisakan lubang menganga di dada yang nyeri setiap kali teringat kenangan manis. Banyak orang ingin proses ini terjadi instan, seperti memencet sakelar lampu. Namun realitanya, move on adalah perjalanan berliku yang penuh dengan fase maju-mundur.
Tidak ada tenggat waktu pasti kapan hati harus sembuh. Namun, membiarkan diri terlarut dalam kesedihan berlarut-larut juga bukan pilihan bijak. Agar proses penyembuhan ini berjalan lebih sehat dan hati siap untuk kembali utuh, ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil tanpa harus berpura-pura kuat.
Putus Kontak Bukan Berarti Kekanak-kanakan
Langkah pertama dan yang paling krusial adalah detoksifikasi digital. Sering kali ada anggapan bahwa memblokir atau unfollow mantan di media sosial adalah tindakan yang tidak dewasa atau musuhan. Padahal, ini adalah bentuk pertolongan pertama pada kesehatan mental.
Melihat mantan bersenang-senang atau memamerkan kehidupan barunya hanya akan membuka kembali luka yang belum kering. Prinsip out of sight, out of mind (jauh di mata, jauh di hati) sangat berlaku di sini. Memberi jarak pada diri sendiri dari segala akses informasi tentang mantan adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan pikiran dari obsesi mencari tahu (stalking) yang menyiksa.
Izinkan Diri Menjadi Manusia Biasa
Masyarakat sering menuntut seseorang untuk segera bangkit dan terlihat "baik-baik saja" pasca putus. Padahal, memendam emosi negatif justru akan menjadi bom waktu di kemudian hari. Menangislah sepuasnya, berteriaklah di bantal, atau habiskan waktu seharian di kamar jika memang itu yang dibutuhkan.
Merasakan sakit hati, marah, kecewa, dan rindu adalah bagian valid dari proses berduka. Menerima perasaan-perasaan ini, alih-alih menolaknya, justru akan mempercepat proses penyembuhan. Ibarat luka fisik, luka batin juga perlu dibersihkan dan dirawat agar tidak infeksi, meskipun prosesnya perih.
Kencani Diri Sendiri Kembali
Selama berpasangan, sering kali identitas diri melebur menjadi "kita", sehingga hobi dan kesenangan pribadi terabaikan. Masa lajang ini adalah momen emas untuk berkenalan kembali dengan diri sendiri. Lakukan hal-hal yang dulu sempat tertunda karena sibuk mengurus pasangan.
Cobalah hobi baru, pergi ke tempat yang ingin dikunjungi sendirian, atau sekadar menikmati kopi di kafe favorit tanpa harus berkompromi dengan selera orang lain. Mengalihkan energi untuk mencintai diri sendiri (self-love) akan membangun kembali rasa percaya diri yang mungkin sempat hancur saat hubungan berakhir.
Berhenti Menunggu Penjelasan Terakhir
Salah satu penghambat terbesar move on adalah obsesi mencari closure atau penjelasan penutup dari mantan. Banyak yang terjebak menunggu permintaan maaf atau alasan logis mengapa hubungan harus berakhir. Sayangnya, sering kali jawaban itu tidak akan pernah datang, atau kalaupun datang, tidak akan pernah memuaskan.
Penutupan terbaik sebenarnya datang dari diri sendiri. Menerima fakta bahwa hubungan sudah selesai dan masa depan tidak lagi melibatkan orang tersebut adalah bentuk closure yang paling murni. Tidak perlu menunggu validasi orang lain untuk menutup buku dan memulai bab baru.
Memaafkan Demi Ketenangan Jiwa
Tahap terakhir yang paling sulit namun membebaskan adalah memaafkan. Bukan berarti melupakan kesalahan yang terjadi atau membenarkan perlakuan buruk, melainkan melepaskan beban dendam yang memberatkan langkah. Memaafkan dilakukan bukan untuk mantan, tapi untuk kedamaian hati sendiri agar tidak terus-menerus disandera oleh masa lalu.
Percayalah, suatu hari nanti nama itu akan terdengar biasa saja, dan kenangan itu tidak lagi memicu air mata, melainkan hanya menjadi pelajaran berharga yang mendewasakan.
Next News

Kamu Kecewa Sama Dia… atau Sama Versi Dia di Kepalamu Sendiri?
2 days ago

Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu
2 days ago

Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?
2 days ago

Alasan di Balik Sulitnya Menyampaikan Isi Hati yang Sebenarnya
2 days ago

5 Love Languages Tak Lagi Soal Fisik, Ini Adaptasinya di Dunia Digital
4 days ago

“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami
4 days ago

Jangan Salah Kirim, Ini Arti Sebenarnya di Balik Warna-warni Emoji Hati
4 days ago

Menghidupkan Kembali Romansa di Tengah Rutinitas dengan Kalimat Jenaka
4 days ago

People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
10 days ago

Tanda-tanda Kamu Sering Memanipulasi Diri Sendiri Demi Menjaga Perasaan Orang Lain
10 days ago






