Ceritra
Ceritra Warga

Bahaya People Pleasing Bikin Kehilangan Jati Diri dan Burnout

Nisrina - Thursday, 05 March 2026 | 09:45 AM

Background
Bahaya People Pleasing Bikin Kehilangan Jati Diri dan Burnout
Ilustrasi (The Washington Post/Celia Jacobs)

Pernah nggak sih lo ngerasa pengen banget nolak ajakan nongkrong karena badan udah remuk abis kerja lembur, tapi bibir malah otomatis bilang, "Oke, otw!" Padahal di dalam hati, lo lagi teriak-teriak pengen gegoleran di kasur sambil maraton drakor. Atau mungkin, lo adalah tipe orang yang kalau dikritik dikit langsung overthinking seminggu, ngerasa jadi manusia paling gagal di muka bumi, terus besoknya lo berusaha keras buat jadi "sempurna" biar orang itu nggak kecewa lagi sama lo. Kalau iya, selamat datang di klub people pleaser, sebuah perkumpulan tak kasat mata yang anggotanya punya moto hidup: yang penting orang lain senang, urusan hati belakangan.

Istilah people pleasing emang terdengar "mulia" di permukaan. Kita dianggap baik, penolong, dan gak mau cari ribut. Tapi, kalau kita bedah lebih dalam secara psikologis, fenomena ini sebenarnya bukan soal kebaikan hati yang murni, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri yang berakar dari rasa takut yang sangat dalam: takut ditolak. Di dunia psikologi, ini sering dikaitkan dengan trauma masa kecil atau pola asuh yang bikin kita percaya kalau kasih sayang itu bersyarat. Kita merasa harus "melayani" atau "menyenangkan" orang lain dulu baru layak buat dicintai atau diterima.

Akar Masalah: Kenapa Kita Takut Banget Dibilang "Gak Asik"?

Kenapa sih nolak permintaan orang terasa seberat ngangkat beban 100 kg di gym? Secara psikologis, ini ada hubungannya dengan rejection sensitivity. Banyak dari kita yang tumbuh di lingkungan di mana kita cuma diapresiasi kalau kita jadi "anak penurut" atau kalau kita punya prestasi. Akhirnya, otak kita ke-program buat mikir kalau kita gak berguna atau gak disukai, kita bakal ditinggalin. Dan buat manusia sebagai makhluk sosial, pengucilan atau penolakan itu rasanya hampir sama sakitnya sama luka fisik.

Jujurly, menjadi people pleaser itu melelahkan banget. Kita kayak lagi pakai topeng yang berbeda-beda tergantung sama siapa kita ngomong. Di depan si A jadi orang yang suka musik indie, di depan si B jadi orang yang religius, di depan si C jadi orang yang gila kerja. Kita jadi bunglon sosial yang kehilangan warna aslinya karena terlalu sibuk nyesuain diri sama warna tembok di sekitar kita. Pertanyaannya, kalau semua orang sudah senang, terus diri lo sendiri ada di mana?

Dampak ke Identitas Diri: Siapa Gue Sebenarnya?

Nah, di sinilah masalah utamanya muncul. Dampak paling ngeri dari kebiasaan menyenangkan orang lain adalah erosi identitas diri. Pas lo terlalu sering mendahulukan keinginan orang lain, lo bakal kehilangan koneksi sama keinginan, nilai, dan prinsip lo sendiri. Lo jadi nggak tahu apa yang sebenarnya lo suka, apa yang bikin lo marah, atau apa mimpi yang pengen lo kejar. Identitas lo jadi "reaktif", bukan "proaktif". Lo cuma bereaksi terhadap apa yang orang lain mau dari lo.

Lama-kelamaan, lo bakal ngerasa kosong. Ada semacam rasa hampa yang muncul karena meskipun lo dikelilingi banyak orang yang "sayang" sama lo, sebenarnya mereka sayang sama "versi" yang lo ciptain buat mereka, bukan versi asli lo. Ini yang sering bikin people pleaser ngerasa kesepian di tengah keramaian. Lo ngerasa nggak ada yang benar-benar kenal lo, karena emang lo nggak pernah kasih kesempatan buat orang lain ngelihat sisi lo yang nggak sempurna, yang bisa bilang "nggak", dan yang punya batasan.

Selain itu, ada risiko burnout emosional yang tinggi. Bayangin aja, energi lo habis buat ngurusin perasaan orang lain, sementara tangki bensin emosi lo sendiri udah kosong melompati batas E alias empty. Efeknya bisa ke kesehatan mental kayak kecemasan kronis, depresi, atau bahkan masalah fisik kayak asam lambung naik karena stres mikirin pendapat orang. Capek, kan?

Gimana Caranya Berhenti Jadi "Yes Man"?

Keluar dari jeratan people pleasing itu nggak bisa instan kayak bikin mi goreng. Ini adalah proses panjang buat belajar mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih sehat. Berikut beberapa hal yang bisa mulai lo lakuin:

  • Sadari Bahwa Lo Bukan Avengers: Lo nggak punya kewajiban buat nyelametin perasaan semua orang. Kalau mereka kecewa karena lo nolak ajakannya, itu adalah tanggung jawab emosional mereka, bukan lo.
  • Belajar Bilang "Nggak" Tanpa Alasan Panjang: Lo nggak perlu bikin alasan sepanjang skripsi cuma buat nolak ajakan ngopi. "Maaf, hari ini gue butuh waktu buat istirahat di rumah," itu udah cukup. Titik.
  • Kenali Boundary (Batasan Diri): Tentukan apa yang bisa lo toleransi dan apa yang nggak. Orang-orang yang beneran tulus sama lo bakal ngehargain batasan itu, bukannya malah marah atau manipulatif.
  • Validasi Diri Sendiri: Mulai belajar buat bangga sama diri sendiri tanpa nunggu pujian dari bos, temen, atau pacar. Lo berharga karena lo adalah lo, bukan karena seberapa banyak lo udah bantuin orang lain.

Pada akhirnya, hidup itu terlalu singkat buat dijalanin demi memenuhi ekspektasi orang lain yang mungkin sebenarnya juga nggak terlalu peduli sama kita. Memang bakal ada orang yang pergi pas lo mulai berani bilang "nggak", tapi anggap aja itu cara alam buat menyeleksi siapa yang beneran tulus dan siapa yang cuma mau manfaatin lo. Jadi, mulai sekarang, coba deh pelan-pelan tanya ke diri sendiri sebelum bilang iya: "Gue beneran mau ngelakuin ini, atau gue cuma takut ditolak?" Karena satu-satunya orang yang bakal nemenin lo seumur hidup adalah diri lo sendiri, jadi pastikan lo adalah orang pertama yang lo senangkan.

Logo Radio
🔴 Radio Live