Baca Ulang Buku Lama atau Beli Buku Baru? Baca Yuk Buat Tentuin Mending Balikan atau Cari Pacar Baru!
Refa - Friday, 19 December 2025 | 02:00 PM


Di persimpangan jalan pasca-putus cinta, manusia sering kali dihadapkan pada dua pilihan sulit. Ke kiri adalah jalan pulang menuju mantan kekasih (zona nyaman yang sudah dikenal), sementara ke kanan adalah jalan menuju orang baru (hutan belantara yang asing namun penuh potensi).
Statistik menunjukkan bahwa keinginan untuk kembali menjalin hubungan dengan mantan (rekindling) adalah hal yang sangat manusiawi. Otak manusia diprogram untuk mencari keamanan dan menghindari ketidakpastian. Namun, apakah rasa rindu itu sinyal cinta sejati, atau sekadar jebakan memori?
Berikut adalah bedah psikologis antara memilih kenyamanan masa lalu atau risiko masa depan.
Jebakan 'Fading Affect Bias': Mengapa Mantan Tiba-tiba Terlihat Sempurna?
Sering kali, setelah beberapa bulan berpisah, seseorang mulai melupakan pertengkaran hebat dan tangisan yang menyebabkan perpisahan. Yang teringat hanyalah momen manis, tawa, dan kenyamanan.
Ini adalah trik otak yang disebut Fading Affect Bias.
Otak cenderung memudarkan emosi negatif lebih cepat daripada emosi positif sebagai mekanisme pertahanan diri. Akibatnya, hubungan yang dulu toxic atau membosankan, kini terlihat indah dalam balutan nostalgia. Keinginan balikan sering kali bukan didasari oleh logika bahwa "dia adalah orang yang tepat", melainkan karena otak sedang menipu diri sendiri dengan memfilter kenangan buruk.
Apakah Bab Terakhirnya Akan Berubah?
Ada pepatah populer: "Balikan sama mantan itu seperti membaca ulang buku yang sama. Kamu sudah tahu bagaimana cerita itu berakhir."
Namun, pepatah ini tidak sepenuhnya benar jika kedua pembacanya sudah berubah.
Balikan dengan mantan hanya masuk akal jika penyebab putusnya hubungan adalah faktor situasional (seperti LDR, restu orang tua yang kini sudah didapat, atau fokus karier). Jika masalahnya adalah situasi, dan situasinya sudah berubah, maka hubungan punya harapan.
Sebaliknya, jika penyebab putus adalah faktor karakter (selingkuh, kekerasan verbal, ketidakcocokan nilai hidup), maka balikan hanyalah penundaan dari sakit hati yang sama di masa depan. Karakter dasar manusia sangat sulit diubah. Tanpa perubahan fundamental dari kedua belah pihak, buku itu akan berakhir tragis lagi di halaman yang sama.
Kelelahan Emosional Memulai dari Nol (Dating Fatigue)
Salah satu alasan terbesar mengapa orang enggan mencari pacar baru adalah biaya energi perkenalan.
Memulai hubungan baru berarti harus menceritakan ulang riwayat hidup, warna kesukaan, trauma masa kecil, dan kebiasaan sehari-hari dari awal. Proses "penjajakan" (pdkt) ini melelahkan secara mental.
Kembali ke mantan menawarkan jalan pintas. Tidak perlu ada kecanggunggan awal, tidak perlu jaim (jaga image), dan sudah saling tahu keburukan masing-masing (seperti bau napas pagi atau kebiasaan mendengkur). Kenyamanan instan ini sering kali menjadi alasan pragmatis untuk kembali, meskipun hati sebenarnya sudah tidak ada rasa.
Risiko dan Hadiah dari 'Orang Baru'
Mencari pasangan baru memang seperti membeli kucing dalam karung. Ada risiko kecewa, risiko ditolak, dan risiko ketidakcocokan.
Namun, orang baru membawa satu hal yang tidak bisa ditawarkan mantan, yaitu kertas putih (clean slate).
Hubungan baru tidak memiliki bagasi masa lalu. Tidak ada dendam lama yang bisa diungkit saat bertengkar. Orang baru membawa perspektif segar, hobi baru, dan dinamika yang mungkin lebih sehat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Sering kali, seseorang baru menyadari betapa buruk perlakuan mantannya dulu, setelah ia merasakan diperlakukan dengan layak oleh orang baru.
Indikator Kesiapan: Takut Sendiri vs Siap Mencinta
Kunci dari keputusan ini terletak pada motif dasarnya.
Jika keinginan balikan muncul karena rasa takut kesepian atau takut tidak laku, itu adalah tanda bahaya. Hubungan yang dibangun di atas rasa takut tidak akan bertahan lama.
Sebaliknya, melangkah ke orang baru juga harus didasari oleh kesiapan hati, bukan pelarian (rebound). Mencari pacar baru hanya untuk memanas-manasi mantan atau mengisi kekosongan adalah resep bencana bagi kedua pihak.
Keputusan terbaik biasanya diambil saat seseorang sudah bahagia dengan kesendiriannya. Saat itulah ia bisa berpikir jernih: "Apakah mantan benar-benar layak diberi kesempatan kedua, atau apakah ada orang lain di luar sana yang lebih sefrekuensi?"
Next News

Kamu Kecewa Sama Dia… atau Sama Versi Dia di Kepalamu Sendiri?
2 days ago

Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu
2 days ago

Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?
2 days ago

Alasan di Balik Sulitnya Menyampaikan Isi Hati yang Sebenarnya
2 days ago

5 Love Languages Tak Lagi Soal Fisik, Ini Adaptasinya di Dunia Digital
3 days ago

“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami
3 days ago

Jangan Salah Kirim, Ini Arti Sebenarnya di Balik Warna-warni Emoji Hati
4 days ago

Menghidupkan Kembali Romansa di Tengah Rutinitas dengan Kalimat Jenaka
4 days ago

People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
10 days ago

Tanda-tanda Kamu Sering Memanipulasi Diri Sendiri Demi Menjaga Perasaan Orang Lain
10 days ago






