Atasi Social Comparison: Biar Nggak Galau Lihat Feed Orang Lain
Nisrina - Friday, 27 March 2026 | 06:45 AM


Pernah nggak sih, lagi asyik-asyiknya scrolling Instagram atau TikTok sebelum tidur, bukannya malah terhibur, suasana hati malah jadi berantakan? Kamu lihat teman SMA kamu baru saja keterima kerja di perusahaan startup unicorn, terus scroll lagi eh ada teman kuliah yang baru saja pamer foto liburan di Swiss dengan caption "Work hard, pray hard". Seketika, kamu merasa diri kamu itu nggak ada apa-apanya. Kayak butiran debu di tengah badai, atau kalau dalam peribahasa milenial: cuma remah-remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan.
Rasa tidak percaya diri, atau yang sekarang lebih keren disebut insecure, itu emang penyakit mental sejuta umat. Mau kamu anak magang yang baru lulus, atau manajer yang gajinya sudah dua digit, rasa ciut itu pasti pernah mampir. Masalahnya, kalau dibiarkan terus, rasa nggak pede ini bisa bikin kita jalan di tempat. Kita jadi takut ambil peluang, takut ngomong di depan umum, sampai takut buat sekadar jadi diri sendiri. Padahal, dunia ini terlalu luas kalau cuma dihabiskan buat meratapi nasib di pojokan kamar.
Nah, buat kamu yang merasa kepercayaan dirinya lagi terjun bebas, mari kita obrolin pelan-pelan. Menghadapi rasa tidak percaya diri itu bukan berarti kita harus langsung berubah jadi orang yang paling berisik atau paling jago orasi ala orator ulung. Bukan gitu mainnya.
Berhenti Membandingkan "Behind the Scenes" Kita dengan "Highlight Reel" Orang Lain
Penyebab utama rasa tidak percaya diri di zaman sekarang itu sebenarnya sederhana: kita terlalu sering membandingkan proses kita yang masih berantakan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa. Di media sosial, orang cuma bakal posting yang bagus-bagus saja. Mereka nggak bakal posting saat mereka nangis karena revisi kerjaan yang ke-10, atau pas mereka lagi bingung cicilan bulan depan bayar pakai apa.
Kita sering lupa kalau setiap orang punya "garis start" yang beda-beda. Ada yang start-nya sudah pakai mobil mewah, ada yang masih harus lari maraton sambil gendong beban. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain itu kayak membandingkan ikan sama monyet dalam urusan memanjat pohon. Ya nggak bakal nyambung! Jadi, langkah pertama buat balik pede adalah dengan sadar kalau layar HP itu bukan realita yang seutuhnya. Fokus saja sama progres kecilmu hari ini, meskipun itu cuma sekadar bangun pagi tepat waktu atau berhasil nyelesain satu tugas yang dari kemarin ditunda-tunda.
Mulai dari Small Wins, Jangan Langsung Mau Jadi Superman
Kadang kita nggak pede karena kita masang target yang ketinggian. Baru mulai belajar bahasa Inggris seminggu, eh sudah pengen lancar kayak orang Inggris asli. Baru mulai nge-gym tiga hari, sudah pengen perutnya kotak-kotak. Pas realitanya nggak sesuai ekspektasi, kita langsung merasa gagal dan nggak berguna.
Coba deh ganti strategi. Fokuslah pada small wins atau kemenangan-kemenangan kecil. Misalnya, kalau kamu merasa nggak pede ngomong di depan umum, jangan langsung daftar jadi pembicara seminar internasional. Coba dulu buat berani angkat tangan pas lagi meeting mingguan di kantor atau sekadar nyapa tetangga pas lagi beli sarapan. Hal-hal kecil ini kalau dikumpulin bakal jadi tabungan mental yang bikin kamu ngerasa, "Eh, ternyata gue bisa ya." Rasa percaya diri itu kayak otot, harus dilatih terus-menerus biar nggak kaku.
Ubah Narasi di Dalam Kepala
Coba dengerin deh suara di dalam kepalamu. Biasanya pas kita lagi ragu, ada suara kecil yang bilang, "Ah, lu mah nggak bakal bisa," atau "Orang-orang bakal ngetawain lu kalau lu salah ngomong." Suara itu seringnya lebih jahat daripada haters di media sosial. Anehnya, kita sering banget percaya sama suara itu tanpa disaring dulu.
Sekarang coba bayangkan kalau teman baikmu lagi sedih. Apa kamu bakal bilang ke dia, "Iya, lu emang nggak berguna, mending nyerah aja"? Pasti nggak, kan? Kamu pasti bakal semangatin dia. Nah, kenapa kamu nggak bisa ngelakuin hal yang sama ke diri kamu sendiri? Jadilah teman yang baik buat dirimu sendiri. Kalau salah, ya tinggal diperbaiki. Kalau gagal, ya tinggal coba lagi. Jangan sampai kritikus paling tajam di hidupmu itu justru adalah dirimu sendiri.
Dandanan dan Bahasa Tubuh Itu Penting, Meski Kedengarannya Dangkal
Ada istilah "fake it until you make it". Meskipun banyak yang bilang ini dangkal, tapi secara psikologis ini ada benarnya. Kadang, kita perlu memanipulasi tubuh kita biar otak kita ikut percaya. Coba perhatikan postur tubuhmu pas lagi nggak pede. Pasti bahunya bungkuk, kepalanya nunduk, dan nggak mau natap mata orang lain.
Coba deh tegakkan punggung, busungkan dada sedikit, dan pakai baju yang bikin kamu merasa ganteng atau cantik. Nggak perlu mahal, yang penting rapi dan kamu merasa nyaman. Saat kamu tampil "proper", secara nggak sadar otak kamu bakal ngirim sinyal kalau kamu siap menghadapi dunia. Percaya nggak percaya, aura yang kamu keluarkan pas kamu ngerasa rapi itu bakal beda banget dibanding pas kamu cuma pakai daster atau kaos oblong yang sudah bolong-bolong kena obat nyamuk.
Terima Bahwa Kita Nggak Harus Sempurna
Terakhir, dan yang paling penting, adalah berdamai dengan ketidaksempurnaan. Banyak orang yang nggak pede karena mereka perfeksionis. Mereka takut berbuat salah karena takut dibilang bodoh. Padahal, kesalahan itu adalah bagian dari proses belajar. Orang-orang hebat di luar sana pun pasti pernah bikin kesalahan yang memalukan.
Lagipula, jujur saja deh, orang lain itu sebenarnya nggak sepeduli itu sama kita. Mereka terlalu sibuk memikirkan rasa nggak pede mereka sendiri. Jadi, kalau kamu salah ngomong atau melakukan hal yang agak canggung, palingan orang cuma bakal ingat beberapa menit, habis itu mereka lupa lagi. Jadi buat apa kita pusing mikirin penilaian orang sampai berhari-hari?
Rasa tidak percaya diri itu manusiawi banget. Jangan dilawan dengan keras kepala, tapi diajak berteman. Kenali pemicunya, batasi asupan media sosial yang bikin kamu ngerasa buruk, dan teruslah bergerak pelan-pelan. Dunia nggak butuh kamu jadi orang lain yang sempurna. Dunia cuma butuh kamu yang berani muncul dan jadi versi terbaik dari dirimu sendiri setiap harinya. Semangat ya, kamu itu lebih keren dari yang kamu bayangkan!
Next News

Jangan Sampai Perut Kenyang Tapi Otak "Busung Lapar": Membedah Prioritas Pendidikan Selain MBG
20 hours ago

Soft saving vs YOLO spending: nabung pelan atau nikmatin hidup sekarang?
3 days ago

Doomscrolling economy: kebiasaan scroll berita bikin makin cemas soal masa depan
3 days ago

Adaptasi cepat: "survival skill" utama Gen Z di dunia yang terus berubah
3 days ago

Self-preparedness: skill penting yang jarang diajarkan di Sekolah!
4 days ago

Bukan Sekadar Tinta: Membedah Ritual Rasa Sakit dan Komitmen di Balik Seni Tato
a day ago

Shortcut Menuju Melarat: Membongkar Algoritma dan Manipulasi Psikologi di Balik Slot Gacor
a day ago

FOMO vs realita: tekanan sosial di era semua serba update
4 days ago

Climate Anxiety: Kenapa Berita Lingkungan Bikin Kita Sesak?
4 days ago

Kenapa Petinggi Korporat Sekarang Lebih Pilih Ransel daripada Pakai Koper?
5 days ago





