Ceritra
Ceritra Warga

Apa Itu Ruwahan? Mengenal Tradisi Syukuran dan Doa Sebelum Memasuki Ramadan

Refa - Tuesday, 03 February 2026 | 08:30 AM

Background
Apa Itu Ruwahan? Mengenal Tradisi Syukuran dan Doa Sebelum Memasuki Ramadan
Ilustrasi sedekah ruwahan (Facebook/Chairudin Husin)

Bagi masyarakat di tanah Jawa dan beberapa wilayah lain di Indonesia, kedatangan bulan Ramadan selalu didahului dengan sebuah ritual budaya yang sarat makna bernama Ruwahan. Suasana di desa maupun di perkotaan mendadak menjadi lebih guyub. Aroma masakan khas dari dapur-dapur warga menyeruak, menandakan bahwa momen untuk mengenang leluhur dan berbagi keberkahan telah tiba.

Namun, apa sebenarnya Ruwahan itu? Mengapa tradisi ini begitu melekat kuat hingga menjadi agenda wajib setiap tahunnya? Mari kita selami lebih dalam sejarah, makna filosofis, hingga cara masyarakat merayakannya dengan penuh sukacita.

Asal-Usul Nama Ruwahan: Antara Budaya dan Makna

Secara etimologi, kata "Ruwahan" berasal dari kata Arwah dalam bahasa Arab yang berarti ruh atau jiwa. Dalam penanggalan Jawa, bulan Sya'ban disebut dengan bulan Ruwah. Oleh karena itu, Ruwahan secara harfiah dapat diartikan sebagai bulan khusus untuk mengenang, mendoakan, dan menghormati arwah para leluhur atau orang tua yang telah mendahului kita.

Tradisi ini merupakan hasil akulturasi yang indah antara nilai-nilai kearifan lokal dengan ajaran Islam. Masyarakat Nusantara yang sejak dulu sangat menghormati garis keturunan, menyelaraskan rasa hormat tersebut dengan ajaran agama untuk mendoakan sesama Muslim dan bersedekah di bulan yang mulia ini.

Esensi dan Makna Spiritual di Balik Tradisi

Ruwahan bukan sekadar ajang makan-makan atau berkumpul tanpa tujuan. Ada tiga pilar utama yang menyusun makna di balik tradisi ini:

1. Bakti kepada Leluhur (Birrul Walidain)

Mendoakan orang tua yang sudah meninggal adalah kewajiban bagi setiap anak yang shalih. Ruwahan menjadi pengingat kolektif bagi masyarakat untuk tidak melupakan akar sejarah mereka. Dengan mengirimkan doa, kita diingatkan bahwa kematian adalah sebuah keniscayaan dan bekal terbaik adalah amal jariyah.

2. Mensucikan Hati Menuju Ramadhan

Sama seperti membersihkan rumah sebelum tamu besar datang, Ruwahan adalah cara masyarakat membersihkan batin. Melalui silaturahmi yang terjadi saat pembagian sedekah makanan, orang-orang saling bertegur sapa dan memaafkan. Hati yang bersih dari dendam adalah modal utama agar ibadah puasa nanti terasa lebih ringan dan khusyuk.

3. Manifestasi Syukur dan Sedekah

Berbagi makanan kepada tetangga adalah bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diterima selama setahun terakhir. Dalam Islam, sedekah adalah penolak bala dan pembuka pintu berkah. Ruwahan mengemas nilai luhur ini dalam bentuk hantaran nasi atau kue-kue tradisional.

Simbolisme dalam Hidangan Ruwahan

Pernahkah memperhatikan mengapa hidangan dalam acara Ruwahan cenderung seragam? Ternyata, makanan yang disajikan memiliki simbolisme tersendiri:

  • Kue Apem: Berasal dari kata Afwan (bahasa Arab) yang berarti ampunan. Ini menyimbolkan permohonan ampun kita kepada Allah SWT dan sesama manusia.
  • Ketan: Melambangkan keeratan tali silaturahmi atau hubungan antarmanusia yang lengket dan kuat.
  • Kolak: Sering diartikan agar manusia selalu "khalaq" (mengingat sang Pencipta) atau menjauhi hal-hal yang batil (kul laka).

Bagaimana Ruwahan Dirayakan?

Meskipun setiap daerah memiliki cara yang sedikit berbeda, ada beberapa urutan umum yang biasanya dilakukan:

  1. Nyekar atau Ziarah Kubur: Keluarga mendatangi makam leluhur untuk membersihkan rumput liar, menabur bunga, dan membaca doa secara langsung di sisi makam.
  2. Kenduri atau Kenduren: Masyarakat berkumpul di masjid, mushola, atau salah satu rumah warga untuk membaca tahlil dan doa bersama secara berjamaah.
  3. Berbagi Berkat: Di akhir acara, hidangan yang telah didoakan akan dibagikan kepada peserta yang hadir atau diantarkan langsung ke rumah-rumah tetangga.

Menjaga Tradisi di Tengah Modernitas

Di tengah dunia yang serba digital, Ruwahan tetap relevan karena ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh gadget: koneksi manusia yang nyata. Ruwahan memaksa kita sejenak berhenti dari rutinitas, menoleh ke belakang untuk bersyukur, dan menatap ke depan untuk bersiap diri secara spiritual.

Tradisi ini adalah pengingat bahwa kita tidak hidup sendirian. Kita memiliki masa lalu (leluhur) yang harus dihormati dan masa kini (tetangga serta kerabat) yang harus dijaga hubungannya.

Logo Radio
🔴 Radio Live