Ceritra
Ceritra Warga

Apa Itu Roblox?

Refa - Saturday, 31 January 2026 | 07:00 PM

Background
Apa Itu Roblox?
Roblox (Pinterest/ucllc)

Jika kamu bertanya pada anak SD hari ini, "Mau kado apa?", kemungkinan besar jawabannya bukan mainan fisik, melainkan robux.

Demam Roblox bukan lagi hal baru, tapi sebuah fenomena budaya yang masif. Bagi banyak orang tua, layar kotak-kotak dengan grafik sederhana ini mungkin terlihat membingungkan. "Apa bagusnya? Grafiknya kok jelek kayak LEGO zaman dulu?"

Namun, di balik visualnya yang kaku, Roblox menyimpan ekosistem ekonomi dan sosial yang sangat kompleks. Ini bukan sekadar game, melainkan Platform Penciptaan Game.

Berikut adalah segala hal yang perlu Anda ketahui tentang dunia digital tempat anak-anak kita menghabiskan waktunya.

1. Konsep Dasar: "YouTube-nya Game"

Kesalahpahaman terbesar orang tua adalah mengira Roblox itu satu permainan. Salah besar.

Bayangkan Roblox seperti YouTube. Di YouTube, pengguna membuat dan mengunggah video untuk ditonton orang lain. Di Roblox, pengguna membuat dan mengunggah game untuk dimainkan orang lain.

  • Roblox Studio: Ini adalah software gratis tempat para kreator (bahkan anak-anak yang belajar coding) membuat dunia mereka sendiri.
  • Variasi Tak Terbatas: Ada jutaan game di dalamnya. Mulai dari simulasi memelihara hewan (Adopt Me!), simulasi hidup mewah (Brookhaven RP), hingga pertarungan anime (Blox Fruits).

Inilah alasan anak tidak bosan. Jika bosan satu game, mereka tinggal pindah ke jutaan game lain dalam satu aplikasi yang sama.

2. Ekonomi Digital "Robux"

Di sinilah letak jenius (sekaligus bahaya) bisnis Roblox. Mereka memiliki mata uang digital sendiri bernama Robux.

Meskipun Roblox bisa dimainkan Gratis (Free-to-Play), tekanan sosial di dalamnya sangat kuat.

  • Avatar & Skin: Karakter awal di Roblox disebut "Bacon Hair" (tampilan standar). Anak-anak sering di-bully atau dianggap noob jika tampilannya standar. Mereka butuh Robux untuk membeli baju keren, rambut, atau aksesoris agar diterima di pergaulan digital.
  • Pay-to-Win: Di beberapa game, Robux bisa dipakai untuk membeli kekuatan super atau senjata, membuat pemain gratisan sulit menang.

Inilah yang memicu kasus tagihan kartu kredit orang tua jebol hingga jutaan rupiah karena anak diam-diam melakukan top-up.

3. Sisi Positif: Belajar Coding & Cuan Sejak Dini

Apakah Roblox buruk? Tidak sepenuhnya. Bagi anak yang diarahkan dengan benar, Roblox adalah sekolah coding terbaik.

  • Bahasa Pemrograman Lua: Untuk membuat game di Roblox, anak-anak harus belajar bahasa pemrograman Lua. Ini melatih logika algoritma sejak dini.
  • Ekonomi Kreator: Jika game buatan anak populer dan dimainkan banyak orang, ia bisa mendapatkan Robux dari pemain lain. Robux ini bisa dicairkan menjadi uang asli (Developer Exchange). Banyak remaja di dunia (termasuk Indonesia) yang sudah berpenghasilan puluhan juta rupiah per bulan dari membuat game atau menjual desain baju di Roblox.

4. Sisi Gelap dalam Oders dan Penipuan

Seperti berita investigasi Belanda sebelumnya, Roblox memiliki sisi gelap yang wajib diwaspadai orang tua:

  • ODers (Online Daters): Istilah untuk pemain yang mencari pacar di dalam game. Sering kali ini melibatkan percakapan dewasa atau simulasi pacaran yang tidak pantas untuk anak-anak (Sims versi nakal).
  • Scamming (Penipuan): "Klik link ini untuk dapat Robux gratis!" Ini adalah modus klasik. Akun anak Anda bisa dicuri (hack) dan semua item mahalnya diambil habis.
  • Toxic Community: Di game kompetitif, kata-kata kasar dan bullying di kolom chat sangat sering terjadi jika tidak difilter.

Kesimpulan

Roblox adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia adalah wadah kreativitas tanpa batas dan pengenalan ekonomi digital. Di sisi lain, ia adalah tempat bermain predator dan mesin penguras dompet.

Logo Radio
🔴 Radio Live