Ceritra
Ceritra Warga

Apa Itu Gempa Megathrust dan Mengapa Zona Tenang Justru Berbahaya?

Refa - Friday, 30 January 2026 | 10:30 AM

Background
Apa Itu Gempa Megathrust dan Mengapa Zona Tenang Justru Berbahaya?
Ilustrasi tsunami (Pinterest/The Olive Press)

Megathrust dan Gap Seismik: Menunggu Energi yang Tertidur

Siapa yang nggak tau tentang gempa bumi? Di Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatera, gempa bukan hal baru. Tapi ada satu jenis gempa yang paling menakutkan, yaitu megathrust. Yuk, kita kupas tuntas, tapi tanpa drama, supaya kamu bisa mengerti kenapa area yang katanya "tenang" justru bisa jadi "kambing hitam" saat bencana datang.

Apa Itu Megathrust?

Di bawah samudra, ada lempeng pantai (seperti lempeng Indo-Australia) yang "terkunci" di bawah lempeng Pasifik. Proses ini namanya locking. Karena lempeng tidak bisa geser, energi terus menyimpan di bawah permukaan laut. Ketika energi cukup, lempeng "meledak" sekaligus, itulah gempa megathrust.

Di Indonesia, zona subduksi ini berada di sepanjang lepas pantai Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan. Sedangkan di Jepang, ini yang memicu Tsunami 2011, dan di Amerika Serikat, Cascadia (sekitar California sampai British Columbia) sudah menunggu sejak lama.

Kenapa Area Tenang Lebih Berbahaya?

Jadi, kenapa kalau zona sudah lama "santai" (tidak ada gempa besar) maka bahaya makin gede? Ada dua alasan:

  • Energi menumpuk – Semakin lama lempeng tidak bergerak, semakin besar energi yang terakumulasi. Bayangkan baterai yang terus diisi, tapi tidak pernah dimatikan. Akhirnya, pada satu titik, baterai akan meledak.
  • Perubahan struktur bawah tanah – Selama bertahun-tahun, aktivitas gempa kecil meratakan lapisan tanah. Jika zona itu sudah lama "tidak" bergerak, lapisan tanah menjadi lebih rapuh, jadi gempa besar bisa lebih merusak.

Peta Potensi Tsunami: "Ketinggian" yang Tidak Boleh Diabaikan

Setelah gempa megathrust, tsunaminya biasanya paling dahsyat. Untuk memprediksi seberapa tinggi tsunami bisa, para ilmuwan menggunakan peta potensi. Peta ini dibuat dengan data seismik, topografi bawah laut, dan simulasi numerik. Di Indonesia, peta potensi tsunami sudah tersedia di situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta BPPT.

Misalnya, di perairan Jawa Barat, peta menunjukkan bahwa tsunami potensial bisa mencapai tinggi 10–15 meter di pantai-pantai dekat. Sedangkan di Sumatera Barat, ada area dengan risiko tinggi sampai 8–12 meter. Ini bukan cuma angka, tapi data yang dipakai untuk rencana evakuasi, pelatihan masyarakat, dan penempatan infrastruktur kritis.

Paleoseismologi: Mencari Jejak Gempa Purba di Lapisan Tanah dan Gua

Ngomongin teknologi, paleoseismologi adalah ilmu yang mempelajari jejak tsunami purba dengan memeriksa lapisan tanah dan gua. Jadi, kamu lihat batuan yang mengerut atau lapisan sedimen yang tidak teratur, itu bisa jadi bukti gempa atau tsunami ribuan tahun lalu.

Contohnya, di wilayah Jawa Barat, peneliti meneliti lapisan sedimen di pantai. Di dalamnya, ada layer yang mengandung abu dan pasir, yang menunjukkan ada tsunami besar. Dengan menganalisis sekuens lapisan ini, para ilmuwan dapat menghitung kapan gempa terakhir terjadi dan berapa kuatnya. Ini membantu kita memahami siklus gempa: berapa lama "tunda" antara satu gempa besar dan yang berikutnya.

Di Jepang, mereka bahkan meneliti gua-gua batuan di sekitarnya untuk mencari tanda gempa megathrust. Sementara di Cascadia, peneliti telah menemukan 12 tsunami purba yang terjadi lebih dari 2000 tahun lalu, memberi petunjuk tentang frekuensi gempa megathrust di wilayah tersebut.

Siklus Gempa

Setiap zona subduksi punya siklus gempa yang hampir terjadwal. Mulai dari locking (mencatat energi), creep (gerakan kecil), sampai slip (gempa besar). Dalam periode ini, beberapa gempa kecil (microseism) terjadi, namun energi besar masih tersimpan.

Di Indonesia, data menunjukkan bahwa zona Subduksi Sunda bisa mengalami gempa megathrust setiap 200–300 tahun. Namun, ini bukan angka pasti, kita masih butuh data lebih banyak. Intinya, kalau kamu berada di dekat zona subduksi, tetap harus waspada.

Gimana Kita Bisa Siap?

  • Kenali risiko – Cek peta potensi tsunami di daerahmu. Banyak aplikasi BMKG yang sudah punya data ini.
  • Latihan evakuasi – Jangan hanya "membaca" soal di internet. Lakukan latihan evakuasi bersama keluarga, atur titik kumpul.
  • Jaga struktur rumah – Pastikan rumah tahan gempa, khususnya pada bagian bawah tanah yang lebih rapuh.
  • Ikut diskusi – Ajak tetangga, teman, bahkan keluarga besar. Kalau semua paham, risiko penularan panik berkurang.

Oke, akhir kata: megathrust memang serius. Tapi yang penting bukan cuma takut, melainkan memahami. Dengan data, peta, dan teknologi paleoseismologi, kita sudah punya alat untuk menyiapkan diri. Jangan anggap remeh zona "tenang" karena di balik ketenangan itu, ada energi yang "tidak tidur". Jadi, tetap jaga semangat, siap siaga, dan selalu update. Karena di dunia geologi, satu siaran kabar saja bisa mengubah segalanya.

Logo Radio
🔴 Radio Live