Anemia pada Remaja Putri Bisa Picu Stunting, Ini Penjelasannya
Refa - Wednesday, 28 January 2026 | 12:30 PM


Bayangkan kamu sedang di acara pernikahan, menari bersama teman, dan tiba-tiba merasakan lemas. Apalagi kalau lemasnya disebabkan oleh kekurangan darah atau anemia yang belum sempat mendapat perhatian. Anemia bukan sekadar masalah kurang energi. Bagi remaja putri dan calon pengantin, kondisi ini bisa membuka pintu bagi komplikasi kehamilan dan bahkan stunting pada generasi berikutnya.
Di Indonesia, angka anemia pada wanita usia subur masih tinggi. Menurut data Kemenkes, lebih dari 20% perempuan di usia 15‑49 tahun menderita anemia. Ketika remaja putri, terutama yang sedang menunggu hari nikah, mengalami anemia, risiko bagi janin akan semakin meningkat.
Anak lahir dengan berat badan rendah (BBLR) bukan sekadar angka; BBLR adalah petunjuk bahwa bayi sudah mendapatkan nutrisi yang kurang optimal di dalam rahim, sehingga menandai potensi stunting di masa depan.
Kenapa Remaja Putri Sangat Rentan?
Remaja adalah fase di mana tubuh sedang tumbuh dan berkembang. Pada perempuan, kebutuhan zat besi meningkat tajam, sambil menanggulangi menstruasi, persiapan tubuh menjadi lebih aktif, dan banyak faktor lain seperti pola makan yang tidak seimbang. Beberapa alasan utama remaja putri rentan anemia antara lain:
- Asupan makanan yang tidak cukup beragam: sayur, buah, dan daging sering terabaikan di sela-sela kuliner 'makanan cepat saji'.
- Kurang vitamin C yang penting membantu penyerapan zat besi.
- Perut yang belum stabil karena hamil atau mengandung kehamilan pra-puluhan.
- Masalah kesehatan lain seperti infeksi parasit (cacing) yang dapat menguras nutrisi.
Tak jarang, para calon pengantin masih berpegang pada tradisi makanan berat atau makanan enak yang kaya lemak, sambil lupa bahwa tubuh memang membutuhkan gizi sehat.
Anemia dan Risiko Kehamilan
Jika seorang calon pengantin atau ibu hamil menderita anemia, konsekuensinya tidak hanya dirasakan di masa kehamilan. Anemia dapat memicu:
- Hamil dengan risiko preeklamsia dan prematuritas.
- BBLR, yaitu berat badan lahir di bawah 2500 gram.
- Masalah metabolik bagi bayi, seperti gangguan metabolisme gizi yang memicu stunting.
- Peningkatan ketergantungan pada suplementasi nutrisi setelah lahir.
Inilah mengapa, di banyak klinik ibu dan anak, pemeriksaan hemoglobin menjadi standar pemeriksaan sebelum melahirkan. Namun, masalahnya, tidak semua calon ibu mendapatkan pemeriksaan ini secara rutin.
Cara Praktis Menangani Anemia
Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan di rumah, sebelum bahkan sampai di klinik:
- Perbanyak sayur berdaun hijau: bayam, kangkung, atau bayam daun. Kandungan zat besi tidak hanya tinggi, tapi juga mudah diserap jika dikonsumsi bersama vitamin C.
- Ganti sarapan dengan sumber protein nabati: misalnya, kacang hijau rebus, atau telur rebus. Protein membantu penyerapan besi.
- Minum teh atau kopi dengan minimal 2 jam sebelum makan: asam tanin dalam teh dapat mengganggu penyerapan besi.
- Tambahkan sup kaldu tulang: kaldu ini kaya akan kolagen dan unsur gizi yang menyehatkan sistem pencernaan.
- Jangan lupa suplementasi: jika dokter merekomendasikan, konsumsi zat besi dan folat secara teratur.
Selain itu, jangan lupa untuk selalu memantau asupan cairan. Dehidrasi juga dapat mempengaruhi kadar hemoglobin.
Kesadaran Sosial dan Peran Masyarakat
Berbeda dengan kebiasaan lama yang menganggap anemia sebagai masalah ringan, sekarang sudah banyak kampanye kesehatan yang menyoroti pentingnya nutrisi. Namun, masih banyak keluarga yang menunda pemeriksaan karena takut atau tidak tahu prosedurnya. Di sinilah peran media dan influencer penting, karena cerita pribadi dan testimoni sering kali lebih menggugah.
Langkah Selanjutnya
Jadi, bagi setiap remaja putri atau calon pengantin yang masih menunggu hari besar, inilah pesan kami. Jangan remehkan satu sisa darah. Cukup satu gram zat besi per hari bisa menambah kesehatan. Perhatikan apa yang dimakan, jangan ragu bertanya pada tenaga medis, dan lakukan pemeriksaan hemoglobin secara berkala.
Jika mengalami gejala anemia, seperti lemas, pusing, atau kulit pucat segera konsultasikan. Karena anehnya, ketika darah masih cukup, ibu hamil seringkali masih harus menunggu sampai bayi lahir untuk mengetahui berat badan lahirnya. Jadi, tindakan preventif lebih baik daripada intervensi setelah masalah terlanjur terjadi.
Terakhir, mari kita buat lingkungan lebih sadar bagi keluarga, teman, dan komunitas, berbagi pengetahuan tentang nutrisi yang baik. Karena kesehatan bukan cuma tanggung jawab individu, tapi kolaborasi sosial juga memainkan peran besar.
Next News

Jangan Pakai Filter! Gunakan 5 Teknik Ini Agar Foto Produkmu Terlihat Premium
in 6 hours

Cuma 5 Menit! Resep Smoothie Pemulihan Otot Setelah Olahraga Malam
in 4 hours

Jangan Asal Lari! Taktik Menghindari Lubang dan Kendaraan Saat Olahraga Malam
in 6 hours

Makan Apa Setelah Olahraga Malam? Panduan Nutrisi Agar Tidur Nyenyak & Otot Kuat
in 5 hours

Panduan Lengkap Peta Persebaran Empat Madzhab Fikih di Dunia Islam
in 6 hours

Bahaya Memendam Stres Kerja yang Sering Dianggap Tanda Mental Kuat
in 5 hours

Misteri Penyebab Hiu Paus Sering Terdampar di Laut Selatan
in 4 hours

Misteri Bunga Wijaya Kusuma Mekar Tengah Malam yang Dianggap Sakral
in 3 hours

Cukup Sudah! 5 Tanda Lingkungan Kerja Toxic yang Mengharuskanmu Segera Resign
in 3 hours

Terbangun Lapar Tengah Malam Sebaiknya Makan Dulu atau Paksa Tidur
in 2 hours






