Virall Transpuan Curhat Tidak Ada Lapangan Pekerjaan di Bogor, Begini Tanggapan Dedi Mulyadi.


Bogor, sebuah kota yang dikenal dengan udaranya yang sejuk, belakangan sempat dihebohkan oleh sebuah kisah yang menyoroti isu sensitif: perjuangan kaum transpuan dalam mendapatkan pekerjaan yang layak. Meskipun detail mengenai sosok transpuan spesifik yang viral terkait isu pekerjaan tidak secara tunggal mendominasi pemberitaan, berbagai laporan dan riset menunjukkan bahwa tantangan sulitnya akses lapangan kerja adalah realitas pahit yang dialami oleh banyak transpuan di kota ini, bahkan hingga memicu munculnya perhatian publik.
Baru-baru ini, media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah video yang menyoroti realitas pahit yang dihadapi oleh kelompok minoritas gender, khususnya transpuan, dalam upaya mereka mencari nafkah. Video yang diunggah oleh akun TikTok @AyoBandung dengan cepat menjadi viral, menampilkan kisah mengharukan seorang transpuan di Bogor yang berjuang mati-matian untuk mendapatkan pekerjaan formal dan layak.
Dalam rekaman tersebut, transpuan yang tidak disebutkan namanya ini disorot tengah menghadapi kesulitan emosional dan praktis akibat penolakan demi penolakan di dunia kerja. Kisah ini bukan hanya tentang satu individu, melainkan representasi dari tantangan struktural yang dihadapi oleh banyak transpuan di Indonesia, dimana stigma dan diskriminasi masih menjadi penghalang utama menuju kesetaraan ekonomi.
Reaksi publik terhadap video ini terbelah. Di satu sisi, banyak warganet yang memberikan dukungan moral dan simpatik, mengakui adanya ketidakadilan dalam proses rekrutmen. Beberapa bahkan mencoba membantu dengan menyebarkan informasi lowongan kerja yang mungkin lebih inklusif.
Namun, disisi lain, masih ada komentar-komentar negatif yang menunjukkan masih tingginya tingkat transfobia dan kurangnya pemahaman tentang hak asasi manusia dan kesetaraan di tempat kerja. Situasi ini menunjukkan bahwa viralitas sebuah kisah bisa menjadi pedang bermata dua: ia mengangkat isu ke permukaan, namun juga membuka ruang bagi diskriminasi daring.
Pemerintah daerah juga didorong untuk mengambil peran aktif, misalnya melalui sosialisasi dan penegakan peraturan anti-diskriminasi di sektor ketenagakerjaan, serta menyediakan program pelatihan dan job matching yang secara eksplisit dirancang untuk kelompok rentan, termasuk transpuan.
Kisah di Bogor ini adalah pengingat yang menyakitkan bahwa perjuangan untuk pekerjaan yang layak bagi transpuan masih jauh dari selesai. Air mata yang terekam dalam video viral itu adalah seruan untuk diakhirinya diskriminasi, demi terwujudnya ruang kerja di mana semua orang, tanpa terkecuali, dapat berkontribusi dan hidup bermartabat.
Next News

Kim Hye Yoon dan Park Solomon Hadirkan Romansa Fantasi Segar dalam 'No Tail to Tell'
in 6 hours

Selamat Tinggal Konten Toxic! Fitur Reset Instagram Ini Jadi Penyelamat Mental Health Kamu
in 4 hours

Donald Trump Mau Beli Greenland, NATO Diancam Bubar: Emangnya Ini Jual Beli Tanah Kavling di Citayam?
in 5 hours

Awas Tertipu! Video dari Google Veo 3.1 Saking Realistisnya Sampai Butuh Tanda Khusus
in 2 hours

Era Baru TikTok Shop 2026, Awas Kerkun 'Shadowban Duit'!
14 hours ago

Bangkit dari Sorotan Miring, Go Min Si Siap Mengguncang Bioskop Lewat Film 'Moral Family'
15 hours ago

Makna Strategis Bergabungnya Sri Mulyani ke Gates Foundation
16 hours ago

Kampung Rasa Paris di Pulau Dewata: Fenomena Keluarga Bali yang Fasih Berbahasa Prancis dalam Keseharian
17 hours ago

Kolaborasi Raksasa Abad Ini: LEGO dan Pokémon Akhirnya Bersatu dalam Satu Semesta Balok
17 hours ago

Panduan Lengkap Harga dan Cara Membeli Membership BTS ARMY
a day ago






