Unusa Gandeng UNICEF Luncurkan Panduan Baru Cegah Stunting
Refa - Friday, 02 January 2026 | 05:00 PM


Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) bekerja sama dengan UNICEF meluncurkan pedoman baru Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) sebagai upaya memperkuat komunikasi lintas sektor dalam menekan angka stunting.
Sa'bania, Person in Charge (PIC) sekaligus dosen Unusa, menjelaskan bahwa pedoman tersebut memuat panduan komprehensif tentang penyampaian pesan kesehatan yang tepat sasaran. Isinya mencakup segmentasi kelompok sasaran, perumusan pesan utama, pendekatan komunikasi yang selaras dengan budaya lokal, serta mekanisme koordinasi antarsektor.
"Pedoman ini diharapkan menjadi acuan bersama agar seluruh pelaksana di lapangan memiliki standar yang sama dalam mengedukasi masyarakat," ujarnya, Rabu (3/12/2025).
Ia menambahkan, penyusunan pedoman dilakukan selama satu tahun terakhir melalui kolaborasi intensif antara Unusa dan UNICEF bersama berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) di Kabupaten Lumajang. Strategi yang dirumuskan berbasis data, bukti ilmiah, dan kondisi sosial masyarakat setempat.
"Dokumen ini merupakan kontribusi dalam memetakan strategi komunikasi lintas sektor, baik kesehatan maupun non-kesehatan seperti perangkat desa. Harapannya, pedoman ini tidak hanya diterapkan di Lumajang, tetapi juga dapat direplikasi di daerah lain," jelasnya.
Sa'bania menilai, meskipun program percepatan penurunan stunting di Lumajang menunjukkan perkembangan positif, tantangan masih dihadapi di lapangan. Di antaranya terkait pola pengasuhan, akses pangan bergizi, serta kebiasaan sanitasi yang membutuhkan pesan komunikasi yang konsisten dan mudah dipahami.
Ia berharap, pedoman tersebut mampu memperkuat penanganan stunting secara terintegrasi dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas kesehatan anak, sekaligus memperkokoh fondasi pembangunan sumber daya manusia di masa depan.
"Semoga upaya penurunan stunting menjadi lebih terarah dan terkoordinasi," katanya.
Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar menegaskan bahwa stunting merupakan persoalan serius yang berkaitan langsung dengan kualitas generasi mendatang dan produktivitas bangsa.
"Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami hambatan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif. Ini bukan semata soal gizi, tetapi menyangkut masa depan sumber daya manusia," ujarnya.
Ia menekankan bahwa penanganan stunting membutuhkan pendekatan menyeluruh, tidak hanya dari sisi medis. Perubahan perilaku masyarakat, mulai dari pola pikir hingga gaya hidup sehari-hari, dinilai menjadi faktor krusial.
"Penanganannya tidak bisa dilakukan secara parsial. Pemerintah dan masyarakat harus bergerak bersama. Pedoman ini diharapkan menjadi pegangan bagi tenaga kesehatan, kader posyandu, pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga media lokal agar pesan yang disampaikan lebih efektif," pungkasnya.
Next News

Hype Global Panggung Jakarta The Weeknd Siap Guncang Indonesia September 2026
in 5 hours

Gebrakan atau Ancaman? Badan Gizi Nasional Beri Deadline Dua Minggu Bagi SPPG Untuk Tambah Penerima Gizi Atau Siap-Siap Hadapi Suspend
in 7 hours

Tensi Nuklir Membara Amerika Serikat Terjebak di Persimpangan Perang Saat Iran Kirim Proposal Tuntutan Hak Kedaulatan Ekonomi
a day ago

KAI Ubah Nama Argo Bromo Anggrek Jadi KA Anggrek: Ini Alasan di Baliknya
7 days ago

Mau Mulai Retinol Tapi Ragu? Ini Jawaban yang Sering Kamu Cari
8 days ago

Barrel Jeans Lagi Hype, Tapi Kenapa Susah Banget Buat Petite?
8 days ago

Kenapa Satu Bunga Bisa Jadi "Rahasia Kulit Glowing"? (Dan Kenapa Semua Orang Tiba-Tiba Obsessed Sama Camellia)
8 days ago

Kenapa Kita Mulai Kepikiran Anti-Aging di Umur Segini? Ini Deretan Vitamin Anti-Aging Gen Z Dijamin Ampuh!
8 days ago

Nggak Cuma Soal Berani, Ini Cara Perempuan Mulai Yakin Ambil Keputusan Sendiri
9 days ago

Meditasi Bukan Sekadar Duduk Diam, Ini Dampaknya ke Kesehatan Fisik dan Mental
9 days ago






