Ceritra
Ceritra Update

The Devil Wears Prada 2: Saat Mantan Asisten Menjadi Bos Sang Ratu Media

Nizar - Thursday, 23 April 2026 | 03:30 PM

Background
The Devil Wears Prada 2: Saat Mantan Asisten Menjadi Bos Sang Ratu Media
Clip Film "The Devil Wears Prada" (nerdist/)

Siap-Siap! Miranda Priestly Balik Lagi di The Devil Wears Prada 2: Masihkah 'Groundbreaking'?

Kalau kita bicara soal film yang nggak pernah bosen diputar ulang di akhir pekan, nama The Devil Wears Prada pasti masuk dalam daftar teratas. Film rilisan 2006 ini bukan sekadar tontonan tentang dunia fashion yang glamor, tapi sudah jadi semacam kitab suci buat para budak korporat, pecinta mode, hingga mereka yang hobi mengutip dialog sarkas di media sosial. Hampir dua dekade berlalu, kabar yang selama ini cuma dianggap angin lalu akhirnya meledak juga: sekuelnya resmi sedang dalam tahap pengembangan!

Berita ini tentu bikin internet heboh. Bayangkan, setelah sekian lama kita cuma bisa mengulang-ulang adegan legendaris Miranda Priestly (Meryl Streep) yang menjelaskan soal warna biru cerulean dengan nada merendahkan, sekarang kita bakal dapet asupan baru. Tapi, pertanyaannya, apakah sekuel ini bakal seikonik pendahulunya atau malah cuma sekadar jualan nostalgia? Yuk, kita bedah pelan-pelan apa saja yang sudah bocor ke publik.

Bukan Lagi Soal Si Asisten Cupu

Kalau di film pertama kita fokus sama perjuangan Andrea "Andy" Sachs (Anne Hathaway) yang awalnya nggak tahu apa-apa soal Manolo Blahnik sampai akhirnya bisa tampil kece badai, kabarnya plot sekuel ini bakal bergeser arah. Fokus utamanya konon bukan lagi soal jatuh bangun asisten baru, melainkan duel antara dua raksasa: Miranda Priestly dan asisten lamanya yang paling ambisius, Emily Charlton (Emily Blunt).

Diceritakan bahwa industri majalah cetak sedang berada di ujung tanduk—sesuatu yang sangat nyata di dunia kita sekarang. Miranda, sang ratu media, harus berhadapan dengan kenyataan bahwa majalah Runway mulai kehilangan taringnya. Sementara itu, Emily Charlton sudah bertransformasi total. Dia bukan lagi asisten yang panik kalau kopinya Miranda kurang panas. Sekarang, Emily adalah eksekutif tingkat tinggi di sebuah konglomerat barang mewah yang punya kontrol penuh atas anggaran iklan yang dibutuhkan Miranda.

Jujur saja, premis ini terasa jauh lebih segar daripada sekadar membuat Andy kembali jadi asisten. Ini soal power move, soal bagaimana dunia berputar, dan bagaimana mantan atasan harus bertekuk lutut pada mantan anak buahnya demi kelangsungan bisnis. Dinamika antara Meryl Streep dan Emily Blunt di layar nanti dijamin bakal penuh dengan percikan api dan dialog-dialog tajam yang bikin kita menahan napas.

Menghadapi Realitas Digital yang Kejam

Salah satu alasan kenapa The Devil Wears Prada pertama begitu dicintai adalah karena ia berhasil menangkap semangat zaman (zeitgeist) industri majalah tahun 2000-an awal yang masih sangat eksklusif. Dulu, apa yang dibilang editor mode adalah hukum. Tapi sekarang? Kita hidup di zaman TikTok, influencer, dan algoritma. Miranda Priestly yang konvensional harus bertarung dengan dunia yang nggak lagi peduli dengan edisi cetak setebal bantal.

Menarik buat melihat gimana Miranda menanggapi fenomena fast fashion atau tren viral yang lahir dari kamar tidur remaja, bukan dari meja rapat di Manhattan. Saya pribadi sih berharap ada adegan di mana Miranda memandang rendah seorang TikToker yang dapet kursi barisan depan di Paris Fashion Week. Rasanya pasti bakal memuaskan banget melihat sinisme kelas tinggi khas Miranda bertemu dengan kegilaan dunia digital masa kini.

Apakah Andy Sachs Akan Kembali?

Nah, ini yang masih jadi teka-teki paling besar. Belum ada konfirmasi resmi apakah Anne Hathaway bakal kembali memerankan Andy Sachs. Tapi ayolah, apa rasanya The Devil Wears Prada tanpa Andy? Meskipun plotnya mungkin berpusat pada Miranda dan Emily, kehadiran Andy sebagai penyeimbang moral atau mungkin sebagai jurnalis sukses yang sudah 'pensiun' dari dunia fashion sangat dinantikan.

Anne Hathaway sendiri dalam beberapa wawancara terakhir sering terlihat tampil dengan gaya ala Andy Sachs di kehidupan nyata, yang bikin fans makin baper. Kalaupun dia nggak jadi pemeran utama, sekadar cameo singkat saat dia berpapasan dengan Miranda di sebuah acara gala sudah cukup bikin bioskop bergemuruh. Lagipula, kita semua pengen tahu, apakah Andy masih menyimpan sepatu Chanel pemberian Nigel itu di lemari bajunya?

Ekspektasi vs Realita Sekuel

Harus diakui, bikin sekuel untuk film klasik yang sudah sempurna itu berisiko tinggi. Banyak film hebat yang justru rusak reputasinya gara-gara sekuel yang dipaksakan. Namun, dengan kembalinya penulis skenario asli, Aline Brosh McKenna, setidaknya ada harapan kalau roh dari film pertamanya nggak bakal hilang. Kita nggak butuh drama yang terlalu cengeng, kita cuma butuh fashion yang luar biasa, kritik tajam soal industri kerja yang toksik, dan tentu saja, karisma Meryl Streep yang tak tertandingi.

Gaya hidup hustle culture yang digambarkan di film pertama mungkin sekarang sudah mulai dikritik banyak orang, tapi tetap saja ada sisi dari kita yang suka melihat ambisi yang meledak-ledak di layar lebar. The Devil Wears Prada 2 punya kesempatan untuk memotret bagaimana wanita-wanita kuat bertahan di industri yang selalu berubah, sambil tetap terlihat modis tanpa cela.

Penutup: Menunggu dengan Sabar (dan Kopi Panas)

Meskipun tanggal rilisnya masih jauh dan proses produksinya masih di tahap awal, antusiasme ini membuktikan bahwa pesona Miranda Priestly memang nggak ada matinya. Kita semua mungkin mengeluh soal pekerjaan, soal atasan yang menyebalkan, atau soal gaji yang cuma numpang lewat, tapi menonton Miranda Priestly membuat semua penderitaan korporat itu terasa sedikit lebih... mewah.

Jadi, selagi menunggu kabar selanjutnya, mungkin ini saatnya buat kalian menonton ulang film pertamanya. Perhatikan lagi detail baju-bajunya, dengerin lagi soundtrack-nya yang ikonik, dan ingatlah pesan moralnya: jangan pernah datang ke kantor dengan sweater warna biru kusam kalau nggak mau diceramahi soal sejarah industri tekstil dunia. That's all.

Logo Radio
šŸ”“ Radio Live