Ceritra
Ceritra Warga

Roti Putih vs. Roti Gandum: Mana yang Lebih Tahan Banting di Iklim Tropis Indonesia?

Refa - Tuesday, 17 February 2026 | 06:00 PM

Background
Roti Putih vs. Roti Gandum: Mana yang Lebih Tahan Banting di Iklim Tropis Indonesia?
Roti gandum (pexels.com/Cats Coming)

Dilema Roti di Rak Minimarket: Kenapa Roti Gandum Lebih Cepat Pensiun Dibanding Roti Putih?

Pernah nggak sih kamu berdiri di depan rak roti minimarket, terus tiba-tiba kena serangan dilema eksistensial? Di satu sisi, ada roti putih yang kelihatannya empuk banget, putih bersih, dan harganya ramah di kantong mahasiswa akhir bulan. Di sisi lain, ada roti gandum yang warnanya cokelat, teksturnya agak kasar, dan harganya bikin kita mikir dua kali, tapi ada label sehat yang seolah-olah berteriak, "Woi, ingat umur, ingat kolesterol!"

Biasanya, kaum mendang-mending kayak kita bakal berakhir dengan beli roti gandum karena pengen hidup lebih sehat. Tapi, pas sampai di kosan atau rumah, baru dua-tiga hari disimpan, eh, si roti gandum sudah mulai berubah haluan jadi media tanam jamur alias bulukan. Sementara itu, roti putih di sebelahnya masih anteng-anteng saja, masih empuk, dan seolah nggak menua sama sekali. Di sinilah muncul pertanyaan besar: Kenapa sih roti gandum lebih cepat "pensiun" daripada roti putih? Padahal kan harganya lebih mahal?

Mari kita bedah secara santai kenapa fenomena diskriminasi umur roti ini bisa terjadi, biar kamu nggak kaget lagi pas nemu bercak hijau di roti gandum kesayanganmu.

Si Putih yang Awet Muda karena "Skincare" Kimia

Roti putih itu ibarat orang yang hobi dandan dan pakai skincare berlapis-lapis. Dia mengalami proses pemurnian yang panjang. Tepung terigu yang dipakai buat bikin roti putih itu sudah dibuang kulit ari (bran) dan lembaganya (germ). Yang tersisa cuma endosperma, bagian yang paling halus tapi minim nutrisi alami. Nah, karena bagian-bagian "hidup" dari gandum sudah dibuang, roti putih jadi lebih stabil secara kimiawi.

Nggak cuma itu, roti putih produksi massal yang sering kita temui biasanya dibekali dengan berbagai macam bahan tambahan pangan. Sebut saja pengawet (preservatives), pengemulsi, sampai peningkat tekstur. Tujuannya jelas: biar roti tetap lembut dan nggak gampang jamuran meski sudah seminggu nangkring di meja makan. Jadi, jangan heran kalau roti putih terasa "awet muda". Dia memang didesain buat tahan banting menghadapi serangan mikroba.

Gandum: Si Sehat yang Manja dan Sensitif

Beda cerita sama roti gandum. Roti ini disebut whole wheat karena memang menggunakan hampir seluruh bagian biji gandum. Kulit arinya ada, lembaganya juga ikut diolah. Di sinilah masalah ketahanannya bermula. Di dalam lembaga gandum itu terkandung minyak alami yang sehat, tapi sayangnya minyak ini sangat sensitif terhadap udara dan suhu panas. Minyak ini gampang banget mengalami oksidasi atau jadi tengik.

Selain itu, tekstur roti gandum yang lebih berpori dan cenderung lembap secara alami bikin jamur merasa dapat undangan pesta. Jamur itu suka banget sama lingkungan yang ada nutrisinya dan agak lembap. Karena roti gandum itu "full nutrisi", ya otomatis dia jadi incaran utama spora jamur yang terbang di udara rumahmu. Ibaratnya, roti gandum itu makanan organik tanpa banyak polesan, jadi ya wajar kalau dia lebih cepat kembali ke alam alias membusuk.

Faktor Kelembapan Tropis: Musuh Terbesar Roti

Tinggal di Indonesia yang kelembapannya tinggi banget itu sebenarnya tantangan tersendiri buat para pecinta roti. Udara kita itu penuh dengan uap air. Kalau kamu naruh roti di atas meja begitu saja dengan bungkus yang nggak rapat, itu sama saja kayak nyiapin kasur empuk buat jamur.

Roti putih mungkin bisa bertahan 5 sampai 7 hari di suhu ruang karena bantuan zat kimia tadi. Tapi roti gandum? Tiga hari saja sudah prestasi kalau belum muncul bintik hitam atau hijau. Apalagi kalau kamu beli roti gandum yang jenisnya artisan atau bikinan toko roti rumahan yang klaimnya "tanpa pengawet". Wah, itu sih harus segera dihabiskan dalam sehari-dua hari, atau siap-siap saja melihat dia berubah jadi proyek sains sekolah.

Lalu, Gimana Caranya Biar Nggak Rugi?

Kalau kamu tim roti gandum tapi sering sedih karena rotinya keburu jamuran sebelum habis, tenang, ada triknya. Jangan cuma ditaruh di atas meja atau di atas kulkas (suhu di atas kulkas itu cenderung hangat karena mesin, makin cepat jamuran deh itu roti).

Cara terbaik adalah dengan menyimpannya di dalam kulkas (chiller) kalau kamu mau menghabiskannya dalam seminggu. Tapi ingat, masuk kulkas bikin roti jadi agak keras. Solusinya? Tinggal dipanggang sebentar di teflon atau toaster, nanti dia bakal lembut lagi. Kalau kamu beli stok roti banyak, jangan ragu buat masukin ke freezer. Roti itu salah satu makanan yang "beku-friendly" banget. Pas mau dimakan, tinggal di-thawing atau langsung panggang, rasanya tetap enak kok.

Kesimpulan: Pilih Mana?

Pada akhirnya, perbedaan ketahanan ini balik lagi ke pilihan gaya hidup kita. Kalau kamu tipikal orang yang jarang sarapan dan pengen stok makanan yang nggak rewel, roti putih mungkin jadi sobat setiamu. Tapi kalau kamu peduli sama asupan serat dan kesehatan pencernaan, roti gandum tetap jadi juara, meski kamu harus sedikit lebih perhatian sama cara penyimpanannya.

Nggak ada yang salah dengan keduanya, yang salah itu kalau kamu sudah tahu rotinya jamuran tapi tetap nekat dimakan karena merasa sayang duitnya sudah keluar. Inget ya, biaya ke dokter gara-gara keracunan makanan jauh lebih mahal daripada sebungkus roti gandum baru. Jadi, selalu cek tanggal kedaluwarsa dan penampakan fisik roti kamu sebelum dioles selai cokelat, ya!

Intinya, roti gandum cepat basi itu justru tanda kalau dia memang terbuat dari bahan-bahan yang "asli" dan minim manipulasi kimia. Jadi, jangan benci dia karena umurnya pendek, hargailah setiap gigitannya selagi dia masih segar!

Logo Radio
🔴 Radio Live