Bagaimana Sebatang Pohon di Ternate Menghancurkan Monopoli Belanda?
Refa - Tuesday, 17 February 2026 | 07:00 AM


Menziarahi Cengkih Afo: Sang Legenda Hidup di Lereng Gamalama yang Pernah Bikin Dunia Geger
Kalau kita bicara soal Ternate, biasanya yang terlintas di kepala adalah gambar Gunung Gamalama yang gagah atau benteng-benteng tua peninggalan kolonial yang tersebar di pinggir pantai. Tapi, ada satu "selebriti" senior yang seringkali luput dari radar turis kasual, padahal perannya dalam mengubah peta sejarah dunia jauh lebih besar dari sekadar tumpukan batu bata benteng. Namanya adalah Cengkih Afo.
Bukan, Afo bukan nama akun media sosial atau istilah gaul anak zaman sekarang. Cengkih Afo adalah pohon cengkih tertua di dunia yang masih tegak berdiri di bumi Ternate, Maluku Utara. Kalau pohon ini bisa bicara, mungkin dia bakal sombong banget karena dialah nenek moyang dari jutaan pohon cengkih yang kini tersebar di seantero planet. Tanpa dia dan saudara-saudaranya, mungkin kolonialisme nggak bakal sepedih itu, dan masakan di Eropa sana bakal hambar selamanya.
Perjalanan Menuju Sang Tetua
Untuk menemui si "Eyang" Afo ini, kamu nggak bisa cuma duduk manis di pinggir pantai sambil ngopi. Kamu harus sedikit berkeringat. Lokasinya ada di Kelurahan Marikurubu, tepat di kaki Gunung Gamalama. Kalau kamu dari pusat kota Ternate, butuh waktu sekitar 15-20 menit berkendara naik motor atau mobil. Jalannya nanjak, khas daerah pegunungan yang bikin mesin motor matic sedikit menjerit, tapi pemandangannya? Juara. Kamu bakal disuguhi hamparan laut biru dan Pulau Halmahera di kejauhan.
Sesampainya di sana, kamu harus trekking lagi menyusuri jalan setapak. Udaranya segar banget, beda jauh sama polusi Jakarta yang bikin paruh-paruh meronta. Di sepanjang jalan, kamu bakal melihat deretan pohon cengkih dan pala yang rimbun. Wanginya? Duh, khas banget. Ada aroma rempah yang samar-samar terbawa angin, bikin kita sadar kalau kita emang lagi ada di "Spice Islands" yang legendaris itu.
Bukan Sekadar Pohon, Tapi Monumen Sejarah
Sekarang, mari kita bicara soal fisiknya. Jangan bayangkan pohon cengkih yang imut-imut kayak tanaman hias di teras rumah. Cengkih Afo (terutama generasi pertamanya) adalah pohon yang raksasa. Diameternya bisa mencapai beberapa meter dengan tinggi yang menjulang. Meskipun sekarang kondisi Cengkih Afo generasi pertama sudah berupa batang yang mulai melapuk karena faktor usia—kabarnya umurnya sudah lebih dari 400 tahun—aura "magisnya" masih terasa banget.
Bayangkan, di abad ke-17, cengkih itu harganya lebih mahal dari emas. Orang Eropa rela berlayar setengah putaran bumi, mempertaruhkan nyawa diterjang badai dan serangan bajak laut, cuma buat mencari sumber rempah ini. Cengkih Afo adalah saksi bisu gimana bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, sampai Belanda sikut-sikutan di tanah Maluku demi monopoli dagang. Pohon ini melihat semuanya: perang, pengkhianatan, hingga masa-masa kejayaan Kesultanan Ternate.
Aksi "Pencurian" yang Mengubah Dunia
Ada satu cerita menarik yang bikin Cengkih Afo ini makin terasa spesial. Dulu, Belanda (VOC) punya aturan super ketat soal cengkih. Mereka melakukan praktik "Ekstirpasi", yaitu penebangan pohon cengkih milik rakyat supaya produksinya terbatas dan harganya tetap selangit di pasar dunia. Tujuannya jelas: monopoli total.
Tapi, pada tahun 1770-an, ada seorang petualang asal Prancis bernama Pierre Poivre yang nekat. Dia ini semacam "Robin Hood" di dunia rempah. Poivre diam-diam menyelundupkan bibit cengkih dari Ternate—yang konon berasal dari keturunan Cengkih Afo ini—ke wilayah koloni Prancis di Mauritius dan Reunion. Aksi pencurian bibit ini sukses besar, dan sejak saat itu, monopoli Belanda hancur berantakan karena cengkih mulai ditanam di berbagai belahan dunia lain seperti Zanzibar di Afrika.
Jadi, kalau sekarang kamu bisa menikmati rokok kretek atau makan kue kering pakai cengkih dengan harga terjangkau, mungkin kamu harus berterima kasih pada "kenekatan" pohon ini dan orang-orang yang menjaga bibitnya dulu.
Vibes Nongkrong di Bawah Rindangnya Sejarah
Nggak cuma soal sejarah yang berat-berat, kawasan sekitar Cengkih Afo sekarang sudah dikelola dengan cukup asik. Ada komunitas lokal yang peduli banget sama pelestarian pohon ini. Mereka membangun semacam area wisata edukasi. Kamu bisa duduk-duduk santai sambil minum Air Guraka (minuman jahe khas Maluku yang pakai kenari) dan makan pisang goreng mulut bebek. Rasanya? Autentik parah.
Menurut opini pribadi saya, tempat ini punya energi yang beda. Ada perasaan tenang tapi juga kagum saat kita berdiri di depan pohon yang sudah hidup jauh sebelum kakek-buyut kita lahir. Ini bukan cuma soal botani, tapi soal identitas. Ternate tanpa cengkih itu kayak kopi tanpa kafein, hambar dan kehilangan jiwanya.
Kenapa Kamu Harus ke Sini?
Mungkin buat sebagian anak muda yang terbiasa dengan wisata "Instagrammable" penuh neon box, melihat pohon tua kedengarannya membosankan. Tapi percayalah, ada kepuasan tersendiri saat kamu bisa menyentuh langsung bagian dari sejarah dunia. Cengkih Afo adalah pengingat bahwa wilayah Timur Indonesia pernah menjadi pusat perhatian seluruh dunia. Kita pernah sehebat itu, dan kekayaan alam kita pernah menjadi rebutan raja-raja di Eropa.
Selain itu, trekking ke Cengkih Afo itu bagus buat kesehatan mental. Jauh dari hiruk pikuk kota, dengerin suara gesekan daun, dan menghirup aroma tanah yang bercampur rempah itu adalah bentuk self-healing yang paling murah sekaligus mewah. Lagipula, masa ke Ternate cuma pamer foto di depan Benteng Tolukko doang? Cobalah sedikit niche dengan mengunjungi sang legenda hidup ini.
Penutup: Menjaga Sang Tetua
Sayangnya, Cengkih Afo generasi pertama sudah mulai tumbang termakan usia. Namun, jangan khawatir, ada Cengkih Afo II dan III yang usianya juga sudah ratusan tahun dan masih produktif. Upaya pelestarian terus dilakukan, karena pohon ini adalah aset tak ternilai. Bukan cuma buat warga Ternate, tapi buat dunia.
Jadi, kalau suatu saat kaki kamu menginjakkan tanah di Bumi Moloku Kie Raha, pastikan kamu mampir ke Marikurubu. Temui Cengkih Afo, sampaikan salam, dan resapi betapa pohon yang terlihat sederhana ini pernah membuat dunia berputar lebih cepat. Jangan lupa bawa kamera, tapi yang paling penting, bawa pulang rasa hormat kita pada alam yang sudah memberi begitu banyak.
Next News

Cara Menghidupkan Obrolan di Rumah Setelah Seharian Bekerja
5 hours ago

Roti Putih vs. Roti Gandum: Mana yang Lebih Tahan Banting di Iklim Tropis Indonesia?
7 hours ago

Roti Tawar Tinggal 2 Lembar? Coba Resep Camilan Viral Ini
8 hours ago

Jangan Langsung Dibuang! Rahasia Roti Tawar Awet Tanpa Jamur
9 hours ago

Stop Pakai Suara AI Lempeng! Begini Cara Buat Konten Lebih Hidup
10 hours ago

Tips Mengatasi Kepala Kliyengan Saat Naik Tangga dengan Cepat
15 hours ago

Jangan Buka Visor Saat Hujan! Lakukan Trik Ini agar Kaca Helm Bebas Embun
2 days ago

Cara Benar Membersihkan Jamur Kaca Helm agar Tetap Bening
a day ago

Panduan Daftar Negara Schengen Wajib Asuransi Perjalanan
a day ago

Panduan Syarat Pembuatan Visa Schengen Agar Cepat Disetujui Kedutaan
a day ago






