Ceritra
Ceritra Warga

Realita Pahit Perempuan di Politik Balik Drama Tempest

Nisrina - Thursday, 05 February 2026 | 09:15 AM

Background
Realita Pahit Perempuan di Politik Balik Drama Tempest
Adegan dalam drama Tempest (IDN Times/)

Industri hiburan Korea Selatan kembali membuat gebrakan dengan serial terbaru bertema political thriller yang berjudul Tempest. Kehadiran drama ini disambut antusias bukan hanya karena alur ceritanya yang menegangkan tetapi juga karena kembalinya sang mega bintang Jun Ji Hyun atau Gianna Jun ke layar kaca. Ia beradu akting dengan aktor papan atas Gang Dong Won menciptakan duet maut yang dinanti nanti oleh penggemar drakor di seluruh dunia.

Dalam serial ini penonton disuguhi sosok diplomat ulung dan politisi perempuan yang cerdas tangguh dan memiliki ambisi besar. Karakter yang diperankan Jun Ji Hyun digambarkan mampu menavigasi licinnya dunia politik internasional dan domestik dengan penuh karisma. Di layar kaca semuanya tampak begitu dramatis namun tetap estetik. Perempuan berkuasa terlihat memegang kendali penuh atas nasibnya dan negara.

Namun di balik kilau fiksi tersebut terdapat sebuah pertanyaan besar yang menggelitik. Apakah representasi perempuan di kancah politik dalam drama ini benar benar mencerminkan kenyataan. Atau jangan jangan ini hanyalah fantasi pemberdayaan yang justru mengaburkan betapa terjalnya jalan yang harus didaki oleh perempuan di dunia nyata. Artikel ini akan mengupas tuntas celah antara fiksi layar kaca dan brutalnya realita politik bagi kaum hawa.

Ilusi Kesetaraan di Layar Kaca

Drama Korea sering kali berhasil membangun narasi "Girl Boss" atau perempuan pemimpin yang inspiratif. Dalam Tempest kita melihat bagaimana karakter utama perempuan mematahkan stereotip. Ia tidak lagi sekadar menjadi pendamping atau pemanis melainkan menjadi penggerak utama cerita. Ia berani mengambil keputusan sulit berdebat dengan para pria tua di parlemen dan memimpin misi diplomatik yang berbahaya.

Penggambaran ini tentu sangat memikat. Penonton merasa puas melihat patriarki ditaklukkan dengan kecerdasan dan keberanian. Ada kepuasan batin saat melihat seorang perempuan berdiri tegak di tengah dominasi laki laki dan keluar sebagai pemenang. Hal ini memberikan harapan dan visualisasi bahwa perempuan bisa berada di puncak kekuasaan.

Akan tetapi narasi ini sering kali menyederhanakan masalah struktural. Dalam drama hambatan biasanya datang dari sosok antagonis tertentu atau konspirasi jahat yang bisa dikalahkan. Padahal di dunia nyata musuh perempuan bukanlah satu atau dua orang jahat melainkan sistem yang sudah mengakar selama berabad abad. Sistem yang sering kali tidak kasat mata namun sangat membatasi gerak perempuan.

Realita Politik Korea yang Keras

Jika kita menengok data fakta lapangan di Korea Selatan sendiri sangatlah kontras dengan apa yang sering ditampilkan di drama. Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara maju dengan kesenjangan gender yang cukup lebar terutama di sektor politik dan ekonomi. Langit langit kaca atau glass ceiling di sana sangatlah tebal dan sulit ditembus.

Partisipasi perempuan dalam parlemen Korea Selatan masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan standar global. Perempuan yang terjun ke politik sering kali harus menghadapi standar ganda yang melelahkan. Jika laki laki dinilai berdasarkan kebijakan dan gagasannya perempuan sering kali dinilai dari penampilan nada suara hingga status pernikahannya.

Dalam drama karakter perempuan mungkin digambarkan bisa "melawan" semua itu dengan dialog yang cerdas. Namun di dunia nyata perlawanan tersebut sering kali berujung pada pengucilan politik atau political suicide. Budaya senioritas dan jaringan "old boys club" yang kuat membuat politisi perempuan sering kali kesulitan mendapatkan posisi strategis di dalam partai.

Kekerasan Simbolik dan Verbal

Aspek lain yang sering kali diperhalus dalam drama adalah kekerasan yang dialami politisi perempuan. Di layar kaca serangan mungkin berupa intrik politik yang cerdas. Namun realitanya politisi perempuan di seluruh dunia termasuk di Indonesia dan Korea rentan terhadap serangan yang bersifat personal dan seksis.

Di era digital ini serangan tersebut semakin parah melalui media sosial. Ujaran kebencian ancaman kekerasan fisik hingga komentar merendahkan tubuh atau body shaming menjadi makanan sehari hari bagi perempuan yang berani bersuara vokal di ruang publik. Drama seperti Tempest mungkin menyentuh isu ini tetapi sering kali diselesaikan dengan cepat demi durasi.

Kenyataan pahitnya trauma dan tekanan mental akibat serangan ini bisa menghancurkan karir seseorang secara permanen. Banyak perempuan potensial yang akhirnya mundur dari kancah politik bukan karena tidak mampu memimpin melainkan karena tidak tahan dengan toksisitas lingkungan yang sangat maskulin dan agresif.

Mitos Superwoman dan Beban Ganda

Drama Korea sering menampilkan karakter wanita karir yang sukses seolah olah mereka memiliki energi tak terbatas. Mereka bisa bekerja 20 jam sehari tampil flawless dan tetap dihormati. Namun jarang sekali drama yang benar benar menyoroti beban ganda atau double burden yang ditanggung perempuan di dunia nyata.

Dalam budaya Asia ekspektasi domestik masih sangat melekat pada perempuan. Sekuat apa pun karir seorang perempuan di luar rumah masyarakat masih menuntutnya untuk menjadi ibu dan istri yang sempurna di rumah. Politisi perempuan sering kali ditanya bagaimana cara mereka membagi waktu untuk keluarga sebuah pertanyaan yang hampir tidak pernah diajukan kepada politisi laki laki.

Ketimpangan peran domestik ini adalah hambatan nyata yang membuat banyak perempuan sulit mencapai posisi puncak. Mereka harus berlari dua kali lebih cepat dengan beban dua kali lebih berat dibanding rekan laki laki mereka hanya untuk mencapai garis finis yang sama.

Pentingnya Menonton dengan Kritis

Meskipun terdapat jurang perbedaan antara fiksi dan realita kehadiran drama seperti Tempest tetaplah penting. Setidaknya drama ini menormalisasi kehadiran perempuan di ruang ruang kekuasaan. Visualisasi adalah langkah awal dari manifestasi. Anak anak perempuan yang menonton drama ini bisa bermimpi bahwa suatu hari nanti mereka bisa menjadi diplomat atau presiden.

Namun sebagai penonton yang cerdas kita tidak boleh terlena dengan romantisme layar kaca. Kita harus sadar bahwa perjuangan di dunia nyata belum selesai. Apa yang dialami oleh karakter Jun Ji Hyun di Tempest adalah versi yang sudah dipoles. Di luar sana jutaan perempuan masih berjuang hanya untuk didengar suaranya dalam rapat tingkat RT sekalipun.

Menikmati drama ini sah sah saja sebagai hiburan. Tetapi biarkan itu menjadi pemantik diskusi lebih lanjut. Mari kita gunakan momentum popularitas drama ini untuk membicarakan isu yang lebih substansial mengenai keterwakilan perempuan kebijakan yang pro gender dan penghapusan kekerasan dalam politik.

Karena pada akhirnya politik bukan hanya soal intrik dan kekuasaan seperti di drama. Politik adalah tentang kebijakan yang mempengaruhi hidup orang banyak. Dan kebijakan yang adil hanya bisa lahir jika perempuan memiliki kursi yang setara di meja pengambilan keputusan bukan hanya di dalam layar televisi.

Logo Radio
🔴 Radio Live