Ceritra
Ceritra Warga

Gwan Sik Simbol Baru Laki Laki Sehat Secara Emosional

Nisrina - Thursday, 05 February 2026 | 11:15 AM

Background
Gwan Sik Simbol Baru Laki Laki Sehat Secara Emosional
Gwan Sik dalam drama When Life Give You Tangerines (Beauty Journal/)

Dunia hiburan Korea Selatan sering kali menyuguhkan kita pada tipe laki laki ideal yang dingin misterius dan sulit digapai atau yang sering disebut dengan tsundere. Namun kemunculan sosok Gwan Sik dalam sebuah acara realitas kencan populer telah membalikkan semua standar tersebut. Ia hadir bukan dengan pesona "bad boy" yang meresahkan melainkan dengan kehangatan dan keterbukaan emosional yang menyegarkan.

Fenomena Gwan Sik ini menjadi pembicaraan hangat bukan hanya karena kisah asmaranya tetapi karena ia membawa angin segar bagi definisi maskulinitas modern. Di tengah gempuran budaya patriarki yang menuntut laki laki untuk selalu kuat dan menyembunyikan perasaan Gwan Sik justru tampil dengan sebaliknya. Ia tidak malu untuk menangis mengakui kekecewaan dan mengomunikasikan perasaannya dengan jujur.

Kehadirannya seolah menjadi antitesis dari maskulinitas toksik yang selama ini dinormalisasi. Banyak perempuan yang akhirnya menyadari bahwa standar laki laki idaman bukan lagi soal siapa yang paling kaya atau paling tampan melainkan siapa yang paling selesai dengan dirinya sendiri dan memiliki kesehatan emosional yang stabil. Mari kita bedah lebih dalam mengapa Gwan Sik layak dinobatkan sebagai standar baru laki laki sehat emosional.

Mendobrak Mitos Laki Laki Tidak Boleh Menangis

Sejak kecil banyak anak laki laki dididik dengan dogma bahwa "laki laki tidak boleh menangis". Air mata dianggap sebagai simbol kelemahan yang harus disembunyikan rapat rapat. Namun Gwan Sik mematahkan stigma kuno ini di depan jutaan penonton.

Dalam beberapa momen ia terlihat meneteskan air mata karena patah hati atau tersentuh oleh situasi tertentu. Yang membuatnya istimewa adalah ia tidak berusaha menutupi tangisannya dengan kemarahan atau penyangkalan. Ia membiarkan emosi itu mengalir apa adanya. Sikap ini menunjukkan bahwa validasi emosi adalah hak setiap manusia tanpa memandang gender.

Kemampuan untuk menjadi rentan atau vulnerable sebenarnya adalah tanda kekuatan mental yang luar biasa. Laki laki yang berani menangis berarti ia memiliki koneksi yang baik dengan perasaannya sendiri. Ia tidak memendam emosi yang berpotensi meledak menjadi perilaku agresif di kemudian hari. Gwan Sik mengajarkan bahwa menjadi lembut tidak akan mengurangi kadar kelaki lakian seseorang.

Komunikasi Jujur Tanpa Kode dan Drama

Salah satu hal yang paling melelahkan dalam hubungan modern adalah permainan tarik ulur atau mind games. Banyak laki laki diajarkan untuk tidak terlalu mengejar atau tidak terlalu transparan agar terlihat berwibawa. Namun Gwan Sik memilih jalan yang berbeda yaitu komunikasi asertif.

Ia dikenal sebagai sosok yang sat set dalam mengungkapkan perasaannya. Jika ia suka ia akan bilang suka. Jika ia kecewa ia akan menyampaikannya dengan tenang tanpa menyalahkan pihak lain. Tidak ada ghosting tidak ada silent treatment dan tidak ada manipulasi gaslighting.

Kualitas komunikasi seperti ini adalah ciri utama dari kecerdasan emosional. Laki laki yang sehat secara emosional paham bahwa kejelasan adalah kunci kenyamanan dalam hubungan. Mereka tidak membiarkan pasangannya menebak nebak perasaan mereka. Sikap Gwan Sik ini memberikan rasa aman atau secure attachment yang sangat didambakan oleh banyak perempuan yang lelah dengan drama ketidakpastian.

Menghormati Penolakan dengan Dewasa

Ujian terbesar bagi ego seorang laki laki biasanya terjadi saat ia mengalami penolakan. Dalam budaya patriarki penolakan sering kali dianggap sebagai penghinaan yang harus dibalas dengan amarah atau paksaan. Namun Gwan Sik memberikan contoh teladan bagaimana seharusnya laki laki merespons kata "tidak".

Saat perasaannya tidak berbalas atau situasi tidak berjalan sesuai keinginannya ia tidak berubah menjadi agresif atau memusuhi perempuan tersebut. Ia mampu memisahkan harga dirinya dari hasil percintaan. Ia menerima kekecewaan itu memprosesnya dan tetap bersikap sopan serta hormat kepada orang yang menolaknya.

Sikap legawa ini menunjukkan kematangan emosional yang tinggi. Ia menyadari bahwa persetujuan atau consent adalah hal mutlak. Laki laki sehat emosional tidak akan memaksakan kehendaknya hanya demi memuaskan ego sesaat. Mereka menghargai otonomi perempuan sebagai individu yang bebas memilih.

Bukan Tipe Penyelamat Melainkan Mitra

Selama ini media sering mencitrakan laki laki sebagai pahlawan atau penyelamat bagi perempuan yang lemah. Namun Gwan Sik hadir bukan sebagai penyelamat melainkan sebagai mitra yang setara. Ia tidak berusaha mendominasi atau mengatur hidup pasangannya.

Dalam interaksinya ia terlihat sangat suportif. Ia mendengarkan dengan saksama atau active listening dan memberikan validasi atas cerita lawan bicaranya. Ia tidak memotong pembicaraan untuk memberikan solusi yang tidak diminta atau mansplaining.

Hubungan yang sehat dibangun di atas kesetaraan bukan dominasi. Gwan Sik merepresentasikan tipe laki laki yang nyaman berjalan beriringan bukan yang harus selalu berada satu langkah di depan untuk merasa hebat. Ini adalah standar kemitraan modern yang sehat di mana kedua belah pihak saling mendukung pertumbuhan masing masing.

The Real Green Flag yang Dinanti

Istilah Green Flag atau bendera hijau kini menjadi label yang melekat erat pada sosok Gwan Sik. Ini adalah istilah untuk menandakan seseorang yang memiliki perilaku positif sehat dan aman untuk dijadikan pasangan. Kebalikan dari Red Flag yang penuh bahaya.

Standar Green Flag ala Gwan Sik ini akhirnya menaikkan standar ekspektasi perempuan. Perempuan kini tidak lagi cukup puas dengan laki laki yang hanya "baik" di permukaan. Mereka mencari laki laki yang memiliki kesadaran diri empati dan kemampuan regulasi emosi yang baik.

Kehadiran Gwan Sik menyadarkan kita bahwa laki laki baik itu nyata dan masih ada. Ia bukan karakter fiksi dalam drama yang naskahnya ditulis sempurna melainkan manusia biasa yang memilih untuk memanusiakan dirinya dan orang lain.

Ajakan untuk Laki Laki Belajar Rasa

Fenomena ini bukan hanya penting bagi perempuan tetapi juga krusial bagi laki laki. Gwan Sik bisa menjadi cermin refleksi bagi kaum adam untuk mulai mengevaluasi diri. Bahwa menjadi laki laki tidak harus selalu keras kaku dan dingin.

Sudah saatnya laki laki merangkul sisi kemanusiaannya. Belajar mengenali emosi belajar berkomunikasi dan belajar berempati bukanlah tanda kelemahan. Justru itulah modal utama untuk membangun hubungan yang langgeng dan bahagia. Kesehatan emosional adalah aset yang jauh lebih berharga daripada otot yang kekar atau dompet yang tebal.

Gwan Sik telah membuka jalan dan menetapkan standar baru. Sekarang giliran kita semua untuk menormalisasi laki laki yang sehat secara emosional dalam kehidupan sehari hari agar siklus maskulinitas toksik bisa perlahan diputus.

Logo Radio
🔴 Radio Live