Ceritra
Ceritra Warga

Rahasia Kecepatan Speedometer Lebih Tinggi dari Aslinya

Nisrina - Tuesday, 24 February 2026 | 06:15 AM

Background
Rahasia Kecepatan Speedometer Lebih Tinggi dari Aslinya
Ilustrasi (Pexels/Erik Mclean)

Pernahkah Anda membandingkan angka kecepatan di layar speedometer kendaraan dengan angka yang tertera di aplikasi navigasi GPS pada ponsel Anda. Jika Anda memperhatikannya dengan saksama, Anda pasti akan menyadari sebuah fenomena otomotif yang sangat umum terjadi di seluruh dunia. Angka yang ditunjukkan oleh speedometer bawaan pabrik selalu sedikit lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan asli kendaraan yang dilacak melalui satelit GPS. Banyak orang langsung berasumsi bahwa ini adalah trik dari pabrikan otomotif agar kendaraan buatan mereka terasa lebih kencang dan bertenaga. Namun faktanya jauh lebih kompleks dan berpusat pada regulasi keselamatan internasional.

Bukan Sekadar Akal Akalan Pabrikan Otomotif

Sebagian besar pengendara mungkin merasa dibohongi ketika tahu bahwa motor atau mobil kesayangan mereka tidak benar benar melaju secepat angka yang tertera di panel instrumen. Anda tidak perlu merasa tertipu karena perbedaan angka ini bukanlah sebuah konspirasi pabrikan untuk membuat motor besutannya kelihatan lebih ngebut di jalanan. Hal ini sebenarnya merupakan bentuk kepatuhan penuh terhadap aturan resmi global yang sangat ketat. Setiap kendaraan bermotor yang diproduksi dan dijual secara legal untuk digunakan di jalan raya wajib tunduk pada standar keselamatan internasional yang telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa atau PBB.

Aturan Ketat Regulasi PBB Nomor 39 dan Rumus Matematika

Dalam standar keselamatan global tersebut, terdapat satu aturan spesifik yaitu Regulasi Nomor 39 yang khusus mengatur mengenai standar speedometer serta instalasinya pada kendaraan bermotor. Aturan pokok dari regulasi ini sangat jelas dan tidak bisa ditawar oleh pabrikan mana pun. Secara hukum, speedometer sama sekali tidak boleh menunjukkan angka yang lebih rendah dari kecepatan sebenarnya.

Secara matematis aturan ini memiliki rumus toleransi yang tertulis sangat jelas. Mari kita buat contoh perhitungannya agar lebih mudah dipahami secara logika. Misalnya Anda sedang mengendarai motor Vario dengan kecepatan asli tepat seratus kilometer per jam. Berdasarkan rumus batas toleransi regulasi tersebut, selisih perhitungan batas kanannya bisa mencapai nol koma satu dikali seratus lalu ditambah empat, yang hasilnya adalah empat belas. Artinya selisih antara angka di speedometer dan kecepatan asli kendaraan boleh berada di angka yang sama persis atau nol, tetapi sama sekali tidak boleh bernilai negatif. Speedometer diizinkan menampilkan angka lebih tinggi hingga batas tertentu, namun haram hukumnya menampilkan angka lebih rendah dari laju kendaraan di atas aspal.

Alasan Teknis Speedometer Tidak Dibuat Akurat Seratus Persen

Lalu muncul sebuah pertanyaan besar yang sangat logis, mengapa pabrikan otomotif tidak membuat nilai speedometernya akurat dan riil seratus persen sesuai aslinya saja. Jawabannya terletak pada cara kerja komponen mekanis kendaraan itu sendiri. Berbeda dengan aplikasi navigasi di ponsel pintar yang mengukur kecepatan secara langsung melalui pelacakan satelit GPS, speedometer bawaan kendaraan bekerja dengan metode yang jauh lebih konvensional dan mekanis.

Speedometer pada dasarnya tidak mengukur kecepatan laju kendaraan secara langsung. Alat ini hanya menghitung jumlah putaran roda atau mendeteksi perputaran pada komponen gearbox di dalam mesin. Masalah utama dari metode perhitungan putaran fisik ini adalah bahwa semua material kendaraan yang bersentuhan dengan aspal bisa berubah ukurannya seiring berjalannya waktu dan kondisi cuaca.

Pengaruh Kondisi Tekanan Angin Ban Terhadap Kecepatan

Faktor fisik paling nyata yang sangat mempengaruhi putaran ini adalah kondisi ban kendaraan Anda setiap harinya. Mari kita ambil contoh kasus ban yang kelebihan tekanan angin. Saat ban diisi angin terlalu penuh, bentuk fisik ban akan membesar yang secara otomatis membuat keliling roda ikut membesar. Misalnya keliling roda yang pada awalnya berukuran 1,9 meter bisa mengembang ukurannya menjadi 2 meter penuh.

Dengan keliling ban yang membesar, roda hanya perlu berputar lebih sedikit untuk menempuh jarak perjalanan yang sama. Masalah fatalnya adalah komputer atau sistem mekanis pada speedometer sama sekali tidak tahu menahu soal perubahan fisik ban ini. Sistem di dalam kendaraan masih terus dikalibrasi secara statis dengan patokan awal bahwa satu putaran roda sama dengan 1,9 meter. Akibatnya ketika motor sebenarnya sedang melaju kencang dengan kecepatan seratus kilometer per jam, speedometer justru menghitung putaran ban yang lebih sedikit. Jika pabrikan mengatur speedometer akurat seratus persen sejak dari pabrik, perubahan tekanan angin ban ini bisa membuat nilai di speedometer terbaca lebih rendah dari kecepatan asli. Hal tersebut tentu saja dianggap ilegal menurut regulasi internasional.

Keselamatan Pengendara Selalu Menjadi Prioritas Utama

Pada akhirnya semua perhitungan rumit mekanis dan regulasi hukum yang ketat ini bermuara pada satu tujuan utama, yaitu keselamatan nyawa pengendara di jalan raya. Sejatinya instrumen speedometer diciptakan sebagai bagian integral dari sistem keselamatan berkendara. Prinsip dasar keselamatan otomotif selalu berpihak pada angka yang memberikan batas aman ekstra bagi penggunanya.

Dengan menampilkan angka kecepatan yang sedikit lebih tinggi, pengendara secara psikologis akan merasa sudah melaju sangat kencang dan secara otomatis akan menurunkan tuas gas atau menginjak pedal rem. Hal ini sangat berguna untuk mencegah pengendara melanggar batas kecepatan maksimal di jalan tol tanpa disengaja. Jadi ketika Anda melihat jarum speedometer menyentuh angka seratus, ketahuilah bahwa kendaraan Anda mungkin hanya melaju di angka sembilan puluh. Itu adalah sistem perlindungan tak kasat mata dari pabrikan yang secara aktif menyelamatkan Anda dari bahaya kecelakaan lalu lintas.

Logo Radio
🔴 Radio Live