Otak Sering Lemot Jam 10 Pagi? Coba Ganti HP dengan Buku Fisik Setelah Sahur dan Rasakan Bedanya!
Refa - Tuesday, 24 February 2026 | 06:00 AM


Ritual Pagi: Kenapa Pegang Buku Lebih 'Nampol' Buat Fokus Puasa Daripada Main HP
Bayangkan suasana ini: jam baru menunjukkan pukul lima pagi. Kamu baru saja menyelesaikan santap sahur yang ditutup dengan segelas air putih hangat. Di luar, langit masih remang-remang dan hawa dingin sisa malam masih terasa menusuk tulang. Biasanya, apa hal pertama yang mendarat di tanganmu? Sebagian besar dari kita, secara refleks yang hampir bersifat biologis, akan merogoh ponsel. Kita mulai membuka Instagram, loncat ke Twitter—atau X, apa pun namanya sekarang—lalu berakhir di portal berita yang isinya kalau nggak soal politik yang bikin naik darah, ya berita kriminal yang bikin was-was.
Kita menyebutnya sebagai update informasi, tapi jujur saja, itu sebenarnya cuma cara kita buat mengalihkan rasa kantuk. Masalahnya, kebiasaan scrolling maut di pagi hari saat sedang berpuasa itu ibarat sarapan sambal dalam keadaan perut kosong. Pedas, bikin mules mental, dan efeknya berantakan ke mana-mana. Alih-alih bikin fokus, ritual digital ini justru bakal bikin daya konsentrasi kita lowbat sebelum jam kantor dimulai.
Di sinilah buku fisik masuk sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Membaca buku cetak di pagi hari, di tengah kondisi perut yang mulai berproses mengolah sahur, ternyata punya efek yang jauh lebih nampol untuk menjaga kewarasan dan fokus kita selama belasan jam ke depan tanpa asupan kafein.
Dopamine Hit yang Murahan vs. Ketenangan yang Mahal
Kenapa sih scrolling berita digital itu adiktif banget? Jawabannya ada pada hormon dopamin. Setiap kali kita mengusap layar dan menemukan info baru, otak kita dapet suntikan dopamin kecil-kecilan. Tapi masalahnya, ini adalah dopamin 'murahan'. Informasi yang kita konsumsi lewat layar itu sifatnya terfragmentasi, pendek-pendek, dan penuh gangguan iklan atau notifikasi yang sliweran. Otak kita dipaksa untuk terus-menerus berganti fokus dalam hitungan detik.
Ketika kamu sedang puasa, energi otak itu terbatas. Kalau dari pagi sudah diajak 'maraton' melompat dari satu isu ke isu lain di media sosial, cadangan energi mentalmu bakal ludes. Efeknya? Jam sepuluh pagi kamu sudah merasa brain fog alias otak lemot. Kamu bakal merasa capek banget padahal kerjaan belum seberapa.
Bandingkan dengan membaca buku fisik. Saat memegang buku, nggak ada notifikasi yang tiba-tiba muncul di tengah halaman. Kamu diajak untuk melakukan deep work atau konsentrasi mendalam. Membaca satu bab buku selama 20 menit memberikan ritme yang stabil buat otak. Ini seperti pemanasan yang lembut buat otot pikiran kita sebelum menghadapi kerasnya realita pekerjaan di siang hari.
Sensasi Taktil: Lebih dari Sekadar Membaca
Ada sesuatu yang romantis sekaligus medis soal buku fisik. Bau kertas, tekstur halaman yang sedikit kasar, sampai suara 'krek' saat kita membuka lembaran baru itu memberikan stimulus sensorik yang menenangkan. Buat anak muda zaman sekarang yang hidupnya serba glass-surface (semuanya serba layar datar), menyentuh kertas itu adalah bentuk grounding yang efektif.
Secara sains, membaca di media cetak terbukti meningkatkan pemahaman jauh lebih baik daripada membaca di layar. Cahaya biru (blue light) dari HP juga nggak main-main jahatnya buat mata yang sedang kering karena kurang cairan saat puasa. Membaca buku fisik nggak bikin mata cepat lelah. Mata yang segar adalah kunci utama biar nggak gampang ngantuk saat nunggu waktu Zuhur tiba.
Selain itu, ada kepuasan tersendiri melihat progres bacaan kita lewat pembatas buku yang makin lama makin bergeser ke kanan. Itu adalah pencapaian nyata, bukan sekadar feed yang nggak ada ujungnya alias infinite scroll yang cuma bikin perasaan hampa.
Membangun Benteng Konsentrasi di Tengah Rasa Lapar
Puasa itu bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga soal melatih kontrol diri. Doomscrolling atau kebiasaan baca berita buruk di pagi hari itu musuh besar kontrol diri. Kita sering terjebak dalam emosi negatif yang nggak perlu karena komentar-komentar netizen yang pedas di pagi hari. Padahal, menjaga emosi itu bagian dari pahala puasa, kan?
Dengan memilih buku fisik, kita secara sadar membangun 'benteng' pikiran. Kita memilih apa yang masuk ke kepala kita secara selektif. Apakah itu novel fiksi yang imajinatif, buku pengembangan diri, atau mungkin buku sejarah yang berat sekalipun. Aktivitas ini melatih kesabaran. Kamu nggak bisa 'refresh' halaman buku buat dapat cerita baru, kamu harus membacanya kata demi kata. Latihan kesabaran inilah yang bakal sangat membantu saat kamu harus menghadapi klien yang cerewet atau macetnya jalanan saat pulang kantor nanti.
Beberapa manfaat nyata yang bakal kamu rasakan kalau ganti HP dengan buku di pagi hari antara lain:
- Mood yang lebih stabil: Kamu nggak bakal kena trigger sama berita-berita viral yang nggak jelas juntrungannya.
- Kosakata meningkat: Berita digital sering pakai bahasa yang itu-itu saja buat mengejar klik (clickbait), sementara buku biasanya punya diksi yang lebih kaya.
- Fokus lebih tajam: Melatih otak untuk fokus pada satu hal dalam waktu lama (monotasking) alih-alih multitasking yang melelahkan.
- Mata nggak gampang perih: Mengurangi paparan radiasi layar di jam-jam krusial setelah bangun tidur.
Cara Mulai Transisi (Biar Nggak Mager)
Memang, ninggalin HP itu susah banget, rasanya kayak ada yang kurang di tangan. Tapi coba deh, simpan bukumu tepat di atas meja samping tempat tidur atau di sebelah sajadah. Jadi begitu selesai aktivitas ibadah subuh, buku itu yang pertama kamu lihat, bukan HP yang lagi di-charge di pojokan kamar.
Jangan ambisius langsung baca buku filsafat yang tebalnya kayak bantal kalau memang belum terbiasa. Mulai dari yang ringan dulu. Kumpulan cerpen, buku esai yang santai, atau komik pun nggak masalah. Yang penting adalah aktivitas 'membaca fisik'-nya itu sendiri. Lakukan selama 15 sampai 30 menit saja. Rasakan bedanya di kepalamu saat matahari mulai naik.
Pada akhirnya, puasa adalah momen buat reset diri. Bukan cuma reset pola makan, tapi juga reset konsumsi informasi. Kalau kita bisa menahan diri buat nggak makan dari subuh sampai magrib, masa iya kita nggak bisa menahan diri buat nggak scrolling HP cuma selama 30 menit di pagi hari? Yuk, ambil bukumu, rasakan wangi kertasnya, dan biarkan otakmu 'sarapan' dengan cara yang lebih berkelas.
Next News

Jangan Cuma Skin Care, Pendengaran Juga Butuh Perawatan!
in 7 hours

Mengapa Multitasking Bikin Kamu Gagal Fokus Saat Kejar Deadline
in 7 hours

Sering Pakai Headset? Waspada Bahaya Tinnitus yang Mengintai
in 5 hours

Deadline Sudah Dekat? Simak Trik Aturan 2 Menit Agar Tetap Fokus
in 6 hours

Awas! Earphone yang Jarang Dibersihkan Bisa Picu Infeksi Telinga
in 3 hours

5 Alasan Penting Mengapa Kecoak Harus Tetap Ada di Bumi
in 5 hours

Manfaat Ajaib Cuka Apel Untuk Kulit Cerah dan Glowing
in 4 hours

Rahasia Wajah Glowing dengan Toner Air Beras dan Cara Membuatnya
in 3 hours

Mengapa Banyak Nama Daerah di Jawa Diawali Kata Su? Ini Jawabannya!
in 3 hours

Pilih Buku Fisik atau Audiobook? Cara Upgrade Diri Tanpa Scrolling
13 minutes ago






