Ceritra
Ceritra Warga

Post-Holiday Blues Itu Nyata, Begini Cara Mengatasinya

Refa - Saturday, 21 February 2026 | 03:00 PM

Background
Post-Holiday Blues Itu Nyata, Begini Cara Mengatasinya
Ilustrasi solo traveling (pexels.com/Andrei Tanase)

Post-Holiday Blues Setelah Solo Traveling: Cara Biar Nggak 'Kena Mental' Pas Balik ke Realita

Bayangkan skenario ini: Baru saja kemarin lo duduk santai di pinggir pantai tersembunyi di Lombok, menyeruput kopi saring sambil nunggu sunset tanpa ada yang mengganggu. Lo merasa seperti penguasa dunia karena berhasil navigasi transportasi umum sendirian di negeri orang atau sekadar bangga bisa makan sendirian di resto fancy tanpa merasa kikuk.

Tapi begitu menginjakkan kaki di bandara asal, mendadak udara terasa lebih berat. Begitu sampai rumah, melihat tumpukan cucian dan ingat besok Senin harus meeting pagi, rasanya dunia runtuh seketika.

Selamat, lo resmi terkena Post-Holiday Blues.

Fenomena ini bukan cuma sekadar 'malas kerja', tapi emang ada penjelasan psikologisnya. Setelah otak dibombardir dopamin selama solo traveling, tiba-tiba keran kebahagiaan itu ditutup paksa saat kita balik ke rutinitas yang monoton. Apalagi kalau perjalanannya sendirian, transisi dari "bebas menentukan nasib sendiri" ke "jadi budak korporat atau mahasiswa skripsi" itu rasanya kayak ditarik paksa dari mimpi indah.

Lantas, gimana caranya biar nggak berlarut-larut dalam kesedihan setelah healing? Biar nggak bolak-balik buka galeri foto sambil nangis batin? Berikut adalah beberapa cara "manusiawi" buat mengatasi Post-Holiday Blues versi kaum petualang mandiri.

1. Jangan Langsung 'Gaspol' Begitu Sampai

Kesalahan terbesar banyak orang adalah pulang traveling hari Minggu malam, lalu masuk kerja Senin pagi jam 8. Itu namanya menyiksa diri sendiri secara sadis. Kalau lo punya jatah cuti, usahakan kasih jeda satu atau dua hari di rumah sebelum benar-benar kembali ke rutinitas. Jeda ini penting buat sinkronisasi otak. Gunakan waktu ini buat beberes koper, nyuci baju, atau sekadar tidur seharian tanpa alarm. Anggap saja ini masa dekompresi biar mental lo nggak kaget alias glitching saat harus menghadapi kenyataan pahit.

2. Curate Your Memories, Jangan Cuma Disimpan

Kadang rasa sedih muncul karena kita merasa momen indah itu sudah benar-benar selesai. Padahal, lo bisa memperpanjang "nyawa" liburan itu lewat dokumentasi. Jangan cuma biarkan ribuan foto menumpuk di memori HP sampai memori penuh. Coba deh bikin jurnal kecil, edit video pendek buat Reels atau TikTok, atau kalau lo tipe old-school, cetak beberapa foto buat ditempel di meja kerja. Proses memilih foto dan mengingat kembali detail-detail kecil saat tersesat di jalanan sempit itu sebenarnya terapi yang bagus buat meredam rasa kehilangan.

3. Bawa Vibe Perjalanan ke Rumah

Satu hal yang bikin kangen saat solo traveling biasanya adalah kebiasaan kecil yang kita bangun di sana. Misalnya, kalau pas di Jogja lo suka banget minum teh poci tiap sore, coba beli set teh poci dan tiru ritual itu di rumah. Atau kalau lo jatuh cinta sama playlist cafe di Tokyo, putar lagi playlist itu saat lo lagi ngerjain tugas kantor. Membawa elemen sensorik (rasa, bau, atau suara) dari tempat liburan ke kehidupan sehari-hari bisa jadi jembatan emosional yang bikin lo merasa nggak "putus total" dari pengalaman seru kemarin.

4. Reconnect dengan Teman-Teman

Solo traveling emang bikin kita merasa independen dan 'cool', tapi sisi gelapnya adalah rasa sepi yang bisa meledak saat sudah sampai rumah. Setelah berhari-hari ngomong sama diri sendiri atau orang asing yang cuma sekilas lewat, lo butuh validasi dari orang-orang terdekat. Ajak sahabat lo kopi darat. Ceritain semua kejadian absurd yang lo alami, mulai dari nyasar sampai nemu makanan enak nggak sengaja. Berbagi cerita itu kayak memindahkan beban kebahagiaan biar nggak numpuk di kepala lo sendiri. Biasanya, setelah capek cerita, lo bakal merasa lebih 'grounded' dan siap balik ke dunia nyata.

5. Sadari Bahwa Boring Itu Perlu

Kita sering merasa sedih karena membandingkan puncak kebahagiaan saat traveling dengan titik terendah rutinitas harian. Padahal, hidup itu nggak bisa isinya healing terus. Kalau setiap hari kita liburan, ya lama-lama liburan itu bakal terasa biasa saja dan nggak spesial lagi. Coba terima kenyataan bahwa kebosanan, pekerjaan yang numpuk, dan macetnya jalanan adalah kontras yang diperlukan supaya perjalanan lo berikutnya tetap terasa magis. Tanpa Senin yang menyebalkan, Sabtu-Minggu nggak akan pernah terasa nikmat, kan?

6. Rencanakan Perjalanan Berikutnya (Tipis-tipis)

Obat paling manjur buat patah hati karena liburan usai adalah dengan mencari "gebetan" baru alias destinasi selanjutnya. Nggak perlu langsung booking tiket pesawat hari itu juga kalau dompet lagi tipis. Cukup mulai cari-cari referensi, bikin wishlist di Pinterest, atau sekadar cek harga penginapan di kota yang pengen lo tuju. Memiliki sesuatu yang dinanti-nanti (something to look forward to) secara psikologis bisa meningkatkan mood dan memberi motivasi tambahan buat kerja lebih giat. Anggap saja kerja keras sekarang adalah bensin buat petualangan solo lo di masa depan.

Intinya, Post-Holiday Blues itu normal banget. Itu tandanya perjalanan lo bermakna dan lo benar-benar menikmati waktu lo sendiri. Jangan dipendam, tapi jangan juga sampai bikin produktivitas lo terjun bebas sampai kena SP dari bos. Pelan-pelan saja, tarik napas dalam-dalam, dan ingat: daster atau kaos oblong di rumah tetaplah kostum paling nyaman setelah seminggu pakai baju gaya terus buat konten. Yuk, semangat lagi, biar bisa jalan-jalan lagi!

Logo Radio
🔴 Radio Live