Ceritra
Ceritra Warga

Otak Kayak Kerupuk Melempem? Kenali Gejala Zoom Fatigue

Refa - Monday, 30 March 2026 | 11:00 AM

Background
Otak Kayak Kerupuk Melempem? Kenali Gejala Zoom Fatigue
Ilustrasi meeting online (pexels.com/Diva Plavalaguna)

Antara Zoom Fatigue dan Keinginan Resign: Cara Bertahan Hidup di Tengah Gempuran Meeting Online

Pernah nggak sih kamu merasa kalau bangun pagi itu bukan lagi disambut kicauan burung atau segarnya udara subuh, melainkan bunyi notifikasi Google Calendar yang seolah-olah teriak: "Woi, meeting lima menit lagi!"? Padahal, mata masih lengket, nyawa belum terkumpul penuh, dan kopi di meja pun masih mengepul panas. Ironisnya, setelah meeting pertama selesai, eh, muncul lagi link Zoom baru buat jam berikutnya. Begitu terus sampai sore, sampai rasanya otak kamu kayak kerupuk yang kelamaan kena angin: melempem dan nggak ada gairahnya sama sekali.

Selamat datang di era di mana "work from home" sering kali berubah jadi "work from meeting". Fenomena ini punya nama keren: Zoom Fatigue. Tapi kalau mau jujur pakai bahasa tongkrongan, ini sih namanya penyiksaan halus atas nama produktivitas. Kita semua tahu, meeting online itu melelahkan dengan cara yang berbeda dibanding ketemu langsung di kantor. Kalau di kantor, kita bisa nyolong waktu buat ngobrol di pantry atau sekadar jalan kaki ke meja sebelah. Di depan layar? Kita dipaksa buat menatap kotak-kotak kecil berisi wajah orang (dan wajah sendiri yang kelihatan kusam karena belum mandi) selama berjam-jam tanpa henti.

Kenapa Sih Meeting Online Bikin Otak Serasa Digoreng?

Banyak yang bertanya-tanya, "Kan cuma duduk doang, kok capeknya ngalahin habis lari maraton?" Jawabannya sederhana tapi menyebalkan. Saat kita ngobrol tatap muka, otak kita memproses ribuan isyarat non-verbal secara otomatis: gerak tubuh, napas, sampai energi di ruangan. Tapi pas online? Semua itu hilang. Kita harus kerja keras banget buat menebak ekspresi lawan bicara yang kadang nge-lag atau suaranya putus-putus kayak harapan mantan.

Belum lagi beban mental karena kita terus-terusan melihat wajah sendiri di pojok layar. Secara psikologis, ini aneh banget. Bayangkan kamu ngobrol sama teman di kafe, tapi kamu bawa cermin besar dan naruhnya di depan muka kamu sendiri selama dua jam. Gila, kan? Kita jadi sibuk membetulkan poni, ngecek apakah dagu kita kelihatan double, sampai akhirnya nggak fokus sama apa yang dibahas di meeting itu sendiri. Inilah awal mula burnout yang bikin kita pengen banting laptop ke empang terdekat.

Langkah Pertama: Filter "Apakah Ini Bisa Jadi Email Saja?"

Strategi paling ampuh buat menghindari burnout adalah bersikap tegas—atau sedikit "jahat" dalam artian positif—terhadap jadwal sendiri. Sebelum kamu mengiyakan sebuah undangan meeting, coba tanya ke diri sendiri atau ke si pengundang: "Ini beneran harus meeting, atau bisa dijelasin lewat email/Slack/WhatsApp aja?"

Sering kali, meeting satu jam yang isinya cuma pembacaan laporan itu sebenarnya bisa diringkas jadi tiga paragraf email yang dibaca dalam dua menit. Jangan biarkan waktumu tersedot oleh budaya "meeting untuk membahas meeting selanjutnya". Kalau kamu punya posisi untuk menentukan jadwal, jadilah pahlawan bagi rekan setimmu dengan mengurangi frekuensi rapat yang nggak esensial. Percayalah, mereka bakal menganggapmu lebih keren daripada atasan yang paling royal sekalipun.

Jangan Takut Jadi "Bayangan": Matikan Fitur Self-View

Kalau memang meeting-nya wajib banget dan nggak bisa dihindari, ada trik kecil yang efeknya luar biasa buat kesehatan mental: matikan fitur Self-View. Kamu tetap menyalakan kamera (biar nggak dikira lagi tidur), tapi kamu nggak perlu melihat wajahmu sendiri di layar. Dengan begitu, fokus kamu cuma ke orang lain, layaknya percakapan normal di dunia nyata. Ini bakal mengurangi rasa cemas dan beban kognitif yang bikin otak cepat panas.

Selain itu, cobalah buat sesekali off-cam kalau memang situasinya memungkinkan. Misalnya pas lagi dengerin presentasi panjang yang nggak butuh interaksi balik dari kamu. Gunakan waktu itu buat sekadar meregangkan badan, melihat ke luar jendela, atau mengistirahatkan mata dari radiasi layar. Ingat, kamu itu karyawan, bukan aktor film live-stream 24 jam.

Bikin "Zona Tanpa Meeting" di Kalendermu

Dulu, kita punya batas yang jelas antara kerjaan dan kehidupan pribadi. Sekarang? Batas itu sudah hancur lebur. Solusinya, kamu harus membangun "benteng" sendiri di kalender. Coba deh terapin yang namanya Deep Work hours. Blokir waktu sekitar dua atau tiga jam setiap hari di kalender digitalmu dengan label "Focus Time" atau "Jangan Diganggu: Lagi Mikir Keras".

Selama waktu itu, jangan terima undangan meeting apa pun. Gunakan waktu ini buat bener-bener menyelesaikan pekerjaan teknis yang butuh konsentrasi tinggi. Karena jujur aja, kapan kita kerja kalau seharian isinya cuma meeting? Burnout sering kali datang bukan karena meeting-nya doang, tapi karena setelah meeting selesai jam 5 sore, pekerjaan asli kita baru dimulai. Itu resep paling manjur buat tipes, kawan.

Gerak Dikit, Biar Nggak Kayak Patung

Satu lagi yang bikin kita merasa "habis" adalah posisi duduk yang statis. Kalau meeting-nya cuma audio atau kamu lagi nggak perlu presentasi, coba deh ikut meeting sambil jalan-jalan di dalam kamar atau berdiri. Gerakan fisik itu membantu melancarkan aliran darah ke otak, yang secara otomatis bikin mood kamu lebih terjaga. Jangan lupa juga buat minum air putih yang banyak. Dehidrasi itu musuh tersembunyi yang bikin kamu gampang emosi pas dengar rekan kerja yang ngomongnya muter-muter kayak komidi putar.

Penutup: Kamu Bukan Robot Zoom

Pada akhirnya, teknologi ada buat membantu kita, bukan buat memperbudak kita. Jangan merasa bersalah kalau kamu merasa capek. Merasa lelah karena kebanyakan meeting online itu manusiawi, bukan tanda kamu nggak produktif atau malas. Justru, menyadari kalau kamu mulai burnout adalah bentuk tanggung jawab kamu terhadap pekerjaan.

Yuk, mulai besok coba lebih selektif. Jangan biarkan lampu hijau di webcam kamu menyala terus sampai menyedot seluruh energi kehidupanmu. Sisakan ruang buat dirimu sendiri, buat nafas, dan buat ngopi tanpa gangguan suara "Can you see my screen?". Karena bagaimanapun juga, kesehatan mentalmu jauh lebih mahal daripada segala KPI yang ada di dunia ini.

Logo Radio
🔴 Radio Live