Milenial vs Gen Z: Jurang atau Jembatan?
Elsa - Saturday, 22 November 2025 | 04:00 PM


Gen Z: Bukan Sekadar Rebahan, Tapi Juga Revolusi Digital
Pernah nggak sih kita mikir, kok anak-anak zaman sekarang beda banget ya? Mulai dari cara mereka berkomunikasi, bekerja, sampai bagaimana mereka melihat dunia. Rasanya ada jurang generasi yang makin lebar antara kita yang lahir duluan dengan mereka yang datang belakangan. Nah, kita lagi ngomongin Gen Z, si generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Anggap aja mereka adalah generasi yang otaknya udah 'di-install' internet dari lahir.
Kalau kita ngintip sedikit ke kehidupan mereka, dunia Gen Z ini unik banget, guys. Mereka bukan cuma melek teknologi, tapi bener-bener menyatu dengan teknologi. Hidup mereka nggak bisa dipisahkan dari smartphone, media sosial, dan segala tetek bengek digital lainnya. Makanya, wajar kalau mereka dijuluki sebagai digital natives sejati. Mereka nggak pernah tahu dunia tanpa internet, tanpa Google, atau tanpa TikTok. Mau cari informasi? Tinggal buka YouTube. Mau belanja? Tinggal klik e-commerce. Mau curhat? Bisa lewat story Instagram atau nge-tweet. Gila sih, serba instan dan terkoneksi.
Mentalitas Kerja: Bukan Sekadar Gaji, Tapi "Purpose" dan "Work-Life Balance" adalah Harga Mati
Nah, ini nih yang sering jadi perdebatan sama generasi sebelumnya, terutama Gen X atau Baby Boomers. Kalau dulu kerja itu ya udah, masuk jam 9, pulang jam 5, nurut sama atasan, dan ngejar jenjang karier sampai pensiun. Bagi Gen Z? Boro-boro. Mereka punya pandangan yang berbeda. Bagi mereka, kerja itu bukan cuma soal gaji gede atau jabatan mentereng, tapi lebih ke "purpose" alias tujuan yang jelas. Mereka mau kerja di tempat yang punya visi, yang sejalan dengan nilai-nilai mereka, dan yang punya dampak positif.
Work-life balance itu harga mati. Nggak ada ceritanya mereka mau digerus pekerjaan sampai lupa diri. Waktu untuk diri sendiri, hobi, atau sekadar rebahan sambil scroll media sosial itu penting banget. Makanya, jangan kaget kalau banyak Gen Z yang memilih pekerjaan fleksibel, freelance, atau bahkan jadi content creator. Mereka ogah terjebak di kantor dengan rutinitas yang membosankan dan budaya kerja yang kaku. Kadang bikin pusing memang, tapi justru ini yang membuat mereka jadi lebih inovatif dan mandiri, nggak cuma sekadar jadi robot kantor.
Isu Sosial dan Lingkungan: Suara Mereka Nggak Bisa Diremehkan
Kalau ada satu hal yang bikin Gen Z menonjol, itu adalah kepedulian mereka terhadap isu sosial dan lingkungan. Jujur aja, mereka ini generasi yang paling "aware" sama masalah-masalah global. Dari krisis iklim, kesetaraan gender, hak asasi manusia, sampai mental health. Mereka nggak cuma ngomong doang, tapi aktif menyuarakan pendapat, ikut kampanye, atau bahkan memulai gerakan sendiri lewat platform digital. Hashtag dan petisi online adalah senjata mereka. Mereka percaya bahwa satu suara kecil pun bisa membuat perubahan besar.
Makanya, jangan heran kalau merek-merek besar sekarang berlomba-lomba untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap isu-isu ini. Karena bagi Gen Z, produk yang mereka beli bukan cuma soal kualitas, tapi juga soal nilai dan etika perusahaan. Kalau sebuah brand dianggap nggak peduli lingkungan atau punya isu internal yang nggak beres, siap-siap aja diboikot dan viral di Twitter atau TikTok. Mereka nggak takut untuk "spill the tea" dan bikin perusahaan kelabakan.
Literasi Keuangan: Jago Nabung, Investasi, Tapi Juga Hobi Jajan Digital
Meskipun sering dicap "mageran" atau "boros", Gen Z ternyata punya literasi keuangan yang cukup baik lho. Banyak dari mereka yang udah melek investasi sejak dini. Mereka berani belajar soal saham, reksa dana, sampai kripto. Nggak sedikit yang udah punya tabungan atau aset sendiri di usia muda. Maklum, mereka tumbuh di era krisis ekonomi dan ketidakpastian, jadi mereka sadar pentingnya punya "pegangan" finansial.
Tapi ya gitu, di sisi lain, mereka juga hobi jajan digital. Langganan Netflix, Spotify, Canva, sampai beli skin game atau sticker WhatsApp premium. Pengeluaran kecil-kecil yang kalau ditotal bisa bikin dompet nangis. Mereka juga gampang tergiur promo diskon di e-commerce atau tawaran beli sekarang bayar nanti (paylater). Ini yang kadang bikin mereka terjebak antara keinginan untuk hemat dan godaan konsumsi instan. Tapi ya namanya juga Gen Z, punya cara uniknya sendiri dalam mengelola keuangan.
Gaya Komunikasi: Meme, GIF, dan Autentisitas di Atas Segalanya
Kalau ngobrol sama Gen Z, siap-siap aja bahasanya campur aduk. Ada istilah gaul, singkatan-singkatan aneh, dan tentu saja, meme atau GIF adalah bahasa persatuan. Mereka berkomunikasi secara visual dan ringkas. Nggak suka basa-basi panjang lebar. Cukup satu GIF atau meme lucu, udah bisa mewakili seribu kata.
Dan yang paling penting, mereka menjunjung tinggi autentisitas. Mereka nggak suka sama yang palsu, yang pencitraan, atau yang terlalu sempurna. Mereka lebih suka melihat realita, meskipun itu berarti menunjukkan sisi 'flawed' dari diri sendiri. Makanya, konten-konten "POV", "day in my life", atau "unfiltered" lebih laku di kalangan mereka. Mereka pengen melihat orang apa adanya, bukan versi yang udah diedit habis-habisan. Ini juga yang membuat mereka lebih dekat dan merasa relate satu sama lain.
Gen Z: Harapan atau Tantangan?
Jadi, Gen Z ini memang kompleks. Di satu sisi, mereka adalah generasi yang punya potensi luar biasa. Mereka inovatif, kreatif, peduli, dan punya suara yang kuat. Mereka bisa jadi agen perubahan yang membawa angin segar untuk masa depan. Tapi di sisi lain, mereka juga menghadapi tantangan yang nggak ringan. Mulai dari tekanan mental akibat tuntutan digital, fear of missing out (FOMO), sampai banjir informasi yang kadang bikin mereka kesulitan membedakan mana yang valid dan mana yang hoaks.
Satu hal yang pasti, kita nggak bisa lagi menganggap remeh Gen Z. Mereka bukan cuma generasi yang "rebahan doang" atau "cuma main medsos". Mereka adalah generasi yang sedang menulis ulang aturan main, mengubah cara kita bekerja, berinteraksi, dan memandang dunia. Mereka adalah cerminan masa depan yang serba cepat, serba digital, dan serba terhubung. Jadi, daripada terus-terusan mengeluh, mungkin saatnya kita mulai mencoba memahami dunia mereka, siapa tahu kita bisa belajar satu atau dua hal dari mereka yang kadang bikin geleng-geleng kepala ini!
Next News

Kisruh Dugaan Perselingkuhan Memanas, Insanul Fahmi Beberkan Fakta Hubungannya dengan Inara
3 days ago

Pernikahan Tinggal Hitungan Hari Batal Gara-Gara Selingkuh: Kisah Ririn Bakar Undangan Jadi Simbol Patah Hati dan Kekuatan Baru
5 days ago

Rahasia Dekati Sagitarius: Si Paling Bikin Penasaran
6 days ago

Nama Inara Rusli Ramai Lagi, Kali Ini Terkait Dugaan Jadi Orang Ketiga
6 days ago

Kehamilan Pertama Alyssa Daguise, Jadi Kado Spesial Ultah Al Ghazali
6 days ago

Fiki Naki Resmi Menikah dengan Tinandrose, Akad Sederhana Jadi Sorotan Warganet
6 days ago

Krisis Identitas: Ketika Lo Bingung Mau Jadi Siapa (dan Itu Normal!)
8 days ago

Rumah: Narasi Panjang Hidup, Cinta, dan Drama.
8 days ago

Fenomenal! Taylor Swift & Travis Kelce: Siap Menikah?
9 days ago

Hidup Setelah Menikah ala Amanda & Kenny: Simple, Terbuka, dan Jauh dari Drama
9 days ago





