Ceritra
Ceritra Warga

Lupakan Pamer Harta, Ini Alasan Kesederhanaan Jadi Tren Baru

Nisrina - Thursday, 12 March 2026 | 01:15 PM

Background
Lupakan Pamer Harta, Ini Alasan Kesederhanaan Jadi Tren Baru
Ilustrasi (Pexels/nicollazzi xiong)

Pernah nggak sih lo ngerasa capek banget pas lagi scroll media sosial? Di satu sisi ada temen SMA yang tiba-tiba posting mobil baru, di sisi lain ada influencer yang tiap minggu pamer liburan ke Swiss seolah-olah tiket pesawat itu harganya cuma seharga seblak di depan gang. Fenomena flexing ini memang sempat jadi primadona, tapi belakangan ada gelombang balik yang pelan tapi pasti mulai menggeser tren itu. Namanya kesederhanaan, atau kalau mau agak kerenan dikit, sering disebut sebagai gaya hidup minimalis atau slow living.

Dulu, kalau kita dibilang hidup sederhana, mungkin konotasinya agak negatif. Kayak, "Duh, kasihan banget ya dia, hidupnya pas-pasan." Tapi sekarang? Kesederhanaan justru jadi simbol kemewahan baru. Orang-orang mulai sadar kalau punya banyak barang itu ternyata nggak selalu bikin bahagia, malah seringnya bikin pusing. Jadi, apa sih sebenernya yang bikin gaya hidup 'biasa saja' ini malah jadi tren yang digilai anak muda zaman sekarang?

Lelah dengan Standar yang Nggak Masuk Akal

Jujur aja, hidup di era digital itu kayak ikut lomba lari yang garis finishnya nggak pernah kelihatan. Kita dipaksa buat selalu punya yang terbaru, yang terbaik, dan yang paling estetik. Kalau HP belum boba tiga, rasanya kurang afdal. Kalau belum nongkrong di cafe yang minimalis-industrial tiap akhir pekan, rasanya kurang gaul. Tapi lama-kelamaan, banyak dari kita yang ngerasa burn out mental maupun finansial.

Kita mulai capek mengejar validasi dari orang-orang yang bahkan nggak kita kenal di internet. Akhirnya, muncul kesadaran kolektif: buat apa sih beli barang mahal cuma buat bikin orang yang kita nggak suka ngerasa iri, padahal bayarnya pakai kartu kredit yang cicilannya bikin meriang tiap bulan? Di sinilah kesederhanaan masuk sebagai penyelamat. Menjadi sederhana berarti kita berhenti peduli sama ekspektasi orang lain dan mulai fokus sama apa yang bener-bener kita butuhin.

Ekonomi Lagi Sulit, Tapi Hati Harus Tetap Adem

Nggak bisa dipungkiri, faktor ekonomi juga punya peran gede. Harga beras naik, biaya kosan makin mahal, sementara gaji? Ya, gitu deh, naiknya kayak siput ikut lomba lari. Realitas ini bikin banyak orang, terutama Gen Z dan Milenial, mulai mikir dua kali buat belanja yang nggak penting. Tapi uniknya, keterbatasan ini malah diubah jadi sebuah gaya hidup yang filosofis.

Alih-alih merasa menderita karena nggak bisa beli barang mewah, banyak yang akhirnya memilih untuk menikmati hal-hal kecil. Minum kopi seduh sendiri di rumah sambil dengerin lagu indie ternyata bisa jauh lebih syahdu daripada ngopi di mall yang bising. Belanja baju di pasar barang bekas atau thrifting juga dianggap lebih keren karena selain hemat, kita juga berkontribusi buat lingkungan. Kesederhanaan di sini bukan tentang kemiskinan, tapi tentang efisiensi dan kontrol diri yang cerdas.

JOMO adalah FOMO yang Baru

Dulu kita semua takut banget sama yang namanya FOMO (Fear of Missing Out). Takut ketinggalan tren, takut nggak dateng ke acara hits, takut nggak punya barang yang lagi viral. Tapi sekarang, ada tren baru yang namanya JOMO (Joy of Missing Out). Ini adalah perasaan puas dan tenang saat kita sengaja nggak ikut-ikutan keramaian.

Hidup sederhana memberi kita ruang buat menikmati JOMO ini. Bayangin betapa enaknya menghabiskan malam minggu cuma di rumah, pakai kaos oblong yang udah bolong dikit tapi nyaman banget, baca buku atau nonton film tanpa harus ngerasa bersalah karena nggak party di luar. Gaya hidup sederhana ini ngajarin kita kalau kebahagiaan itu nggak perlu dikejar sampai ke ujung dunia, karena seringnya dia udah ada di teras rumah kita sendiri, asal kita mau berhenti sejenak buat ngelihatnya.

Mencari Makna di Tengah Tumpukan Barang

Ingat tren beberes ala Marie Kondo? Itu adalah salah satu pemicu kenapa orang mulai suka hidup simpel. Ternyata, lingkungan yang penuh sesak sama barang-barang nggak berguna itu bikin pikiran kita juga jadi berantakan. Dengan mengurangi kepemilikan, kita seolah-olah lagi ngasih napas buat ruang hidup kita. Kita jadi lebih menghargai setiap barang yang kita punya. Satu sepatu yang berkualitas dan nyaman dipakai tiap hari jauh lebih berharga daripada sepuluh pasang sepatu murah yang cuma menuh-menuhin rak dan bikin kaki lecet.

Selain itu, kesederhanaan juga bikin hubungan sosial jadi lebih tulus. Saat kita nggak lagi fokus pamer harta, kita jadi lebih fokus ke kualitas obrolan. Kita berteman karena emang nyambung, bukan karena pengen pansos atau karena sama-sama punya hobi koleksi barang branded. Hubungan yang kayak gini jauh lebih awet dan nggak melelahkan secara mental.

Sederhana Itu Pilihan, Bukan Pelarian

Pada akhirnya, kesederhanaan yang jadi gaya hidup baru ini adalah bentuk perlawanan kita terhadap budaya konsumerisme yang gila-gilaan. Ini adalah cara kita buat bilang, "Gue cukup dengan apa yang gue punya, dan gue bahagia dengan cara gue sendiri." Kita nggak perlu jadi biksu atau tinggal di hutan buat hidup sederhana. Kita tetap bisa hidup di tengah kota besar, kerja kantoran, tapi dengan mentalitas yang lebih 'bebas'.

Jadi, kalau lo merasa hidup lo belakangan ini berat banget karena banyak tuntutan, mungkin ini saatnya buat lo nyoba gaya hidup 'biasa saja'. Kurangi belanja yang nggak perlu, hapus aplikasi yang cuma bikin lo pengen pamer, dan mulai nikmatin momen-momen kecil yang gratis. Karena percayalah, di dunia yang makin berisik dan pusing ini, ketenangan hidup adalah bentuk kekayaan yang paling hakiki. Menjadi sederhana itu nggak bikin lo jadi kurang keren, malah justru bikin lo jadi manusia yang lebih utuh dan merdeka.

Logo Radio
🔴 Radio Live