Ceritra
Ceritra Warga

Apa Cuma Buat Kerja dan Makan? Ini Arti Hidup Sebenarnya

Nisrina - Wednesday, 11 March 2026 | 07:45 AM

Background
Apa Cuma Buat Kerja dan Makan? Ini Arti Hidup Sebenarnya
Ilustrasi (visecoach.com/)

Pernah nggak sih, lagi asyik-asyiknya scrolling TikTok jam dua pagi, tiba-tiba jempol kamu berhenti? Terus pandangan kamu kosong, natap langit-langit kamar yang catnya udah mulai mengelupas, dan muncul satu pertanyaan absurd di kepala: "Gue ini sebenernya ngapain sih hidup di dunia ini? Cuma buat bangun pagi, kerja, kena omel bos, makan seblak, terus tidur lagi?"

Selamat, kamu baru saja terserang virus "existential dread". Tenang, kamu nggak sendirian. Mulai dari filsuf janggut panjang di zaman Yunani Kuno sampai mbak-mbak kantoran di SCBD yang lagi burnout, semuanya punya keresahan yang sama. Kita semua kayak lagi ikut lomba lari marathon yang kita nggak tahu garis finish-nya di mana, tapi tetep aja lari karena takut ketinggalan. Pertanyaannya, kenapa sih manusia itu ribet banget pakai acara nyari makna segala? Padahal kalau dipikir-pikir, jadi kucing oren kayaknya lebih enak: makan, tidur, berantem, tanpa perlu mikirin takdir atau legacy.

Kita Bukan Cuma Sekadar Daging dan Tulang

Secara biologis, tugas utama makhluk hidup itu simpel banget: survive dan berkembang biak. Tapi manusia itu spesies yang "rewel". Kita punya otak yang terlalu canggih buat sekadar mikirin cara dapet makan. Kita punya prefrontal cortex yang bikin kita bisa ngebayangin masa depan dan meratapi masa lalu. Inilah kutukan sekaligus berkah jadi manusia.

Bagi kita, hidup yang cuma sekadar "bertahan hidup" itu rasanya kosong. Kita butuh narasi. Kita butuh cerita yang bikin semua penderitaan, cicilan motor, dan patah hati kita jadi punya alasan. Kalau kata Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, manusia itu punya "will to meaning". Bahkan di kondisi paling gelap sekalipun, kalau seseorang punya alasan kuat untuk hidup—entah itu demi anak, demi karya, atau demi pengen liat ending One Piece—dia bakal punya daya tahan yang luar biasa.

Melawan Kekacauan dengan Cerita

Dunia ini pada dasarnya chaos, alias berantakan. Hari ini kita bisa ngerasa di atas awan, besoknya bisa aja kena ghosting atau kena layoff. Nah, "makna" itu ibarat lem yang merekatkan kepingan-kepingan kejadian acak dalam hidup kita supaya jadi satu gambar yang masuk akal. Kita nyari makna supaya nggak gila pas ngadepin kenyataan kalau dunia ini nggak selalu adil.

Bayangin kalau hidup ini nggak ada maknanya sama sekali. Kamu kerja keras bagai kuda tapi nggak tahu buat apa. Kamu berbuat baik tapi merasa nggak ada gunanya. Rasanya bakal hampa banget, kan? Makanya, kita menciptakan label-label. "Ini adalah ujian," atau "Ini adalah proses pendewasaan," atau "Gue emang ditakdirkan buat jadi seniman." Label-label ini membantu kita buat tetap waras di tengah dunia yang makin hari makin absurd ini.

Jebakan Makna di Era Media Sosial

Dulu, nyari makna hidup mungkin cukup dengan jadi orang tua yang baik atau tetangga yang berguna. Tapi sekarang, standar "makna" itu kayaknya makin tinggi dan makin bikin capek. Gara-gara media sosial, kita sering ngerasa makna hidup itu harus sesuatu yang megah: harus jadi CEO, harus keliling dunia, atau harus punya influence besar.

Kita sering kejebak sama istilah "passion" dan "calling". Seolah-olah kalau kita belum nemuin satu hal besar yang bikin kita semangat setiap pagi, berarti hidup kita gagal. Padahal ya nggak gitu juga. Kadang, nyari makna itu nggak harus se-heroik film-film Marvel. Bisa aja makna hidup kamu hari ini cuma sesimpel bisa ngasih makan kucing liar di depan gang atau dengerin curhatan temen yang lagi sedih. Sayangnya, narasi modern sering maksa kita buat jadi "luar biasa", padahal jadi "biasa aja yang bahagia" itu udah sebuah pencapaian yang mewah di zaman sekarang.

Kenapa Kita Butuh Makna Biar Nggak "Padam"?

Ada sebuah kondisi yang sering disebut sebagai "existential vacuum". Ini adalah perasaan hampa yang muncul pas seseorang punya segala hal secara materi, tapi nggak tahu buat apa dia hidup. Makanya nggak heran kalau banyak orang kaya atau populer malah merasa depresi. Uang bisa beli kasur empuk, tapi nggak bisa beli tidur nyenyak yang penuh arti.

Mencari makna itu sebenarnya adalah cara kita buat bertahan dari rasa bosan yang mematikan. Manusia itu pembenci kebosanan nomor satu. Tanpa makna, hidup cuma jadi rutinitas yang repetitif dan bikin kita ngerasa kayak robot. Dengan adanya "tujuan" atau "arti", setiap langkah kecil yang kita ambil jadi terasa lebih berat bobotnya, tapi dalam artian yang positif.

Makna Itu Diciptakan, Bukan Cuma Dicari

Satu hal yang perlu kita sadari: makna hidup itu bukan kayak kunci motor yang hilang terus kita cari-cari di bawah sofa. Makna hidup itu lebih kayak masakan; kita sendiri yang harus ngeracik bumbunya. Nggak ada resep baku yang berlaku buat semua orang. Makna hidup si A mungkin beda jauh sama si B, dan itu sah-sah aja.

Jadi, kalau sampai sekarang kamu masih merasa tersesat dan nggak tahu apa makna hidupmu, ya nggak apa-apa. Nikmati aja proses "tersesat"-nya. Mungkin makna hidup kamu saat ini adalah justru untuk terus mencari. Jangan terlalu keras sama diri sendiri cuma gara-gara belum punya visi 10 tahun ke depan yang mentereng.

Pada akhirnya, kita mencari makna karena kita ingin merasa bahwa kehadiran kita di bumi ini ada harganya. Bahwa kita bukan cuma debu kosmik yang kebetulan numpang lewat. Dan mungkin, justru di dalam pencarian yang nggak ada habisnya itulah, letak keindahan menjadi seorang manusia.

  • Makna hidup bikin kita punya alasan buat bangun pagi.
  • Makna hidup membantu kita melewati masa-masa sulit tanpa harus menyerah.
  • Dan yang paling penting, makna hidup bikin kita merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Sekarang, mending taruh dulu HP-nya, seruput kopi kamu yang mungkin udah mulai dingin, dan sadari kalau saat ini pun—detik ini juga—kamu sudah sedang menjalani sebuah cerita yang punya makna. Entah itu besar, entah itu kecil, yang penting itu punya kamu.

Logo Radio
🔴 Radio Live