Satu dari Dua Orang Berbohong Soal Uang Saat Kencan, Inilah Alasan Psikologis di Baliknya
Nisrina - Monday, 09 March 2026 | 07:11 AM


Dunia kencan masa kini memang penuh dengan dinamika yang bikin geleng kepala. Saat kencan pertama, semua orang pasti ingin menampilkan versi terbaik dari diri mereka. Mulai dari memakai baju paling bagus, menyemprotkan parfum paling wangi, sampai berlatih topik obrolan agar tidak canggung. Namun, sadarkah kamu kalau di balik senyum manis dan obrolan seru di meja kafe itu, ada satu kebohongan besar yang paling sering diucapkan oleh banyak orang?
Kalau kamu menebak orang berbohong soal umur, berat badan, atau jumlah mantan pacar, tebakanmu kurang tepat. Berdasarkan data dan survei terbaru, kebohongan paling populer yang diutarakan orang untuk membuat diri mereka tampak lebih menarik di depan pasangan adalah soal kondisi finansial.
Iya, kamu tidak salah dengar. Uang, harta, dan status keuangan adalah topik yang paling sering dimanipulasi. Fenomena ini sangat menarik untuk dibedah karena menunjukkan betapa besarnya tekanan sosial untuk terlihat "sukses" dalam urusan asmara. Mari kita kupas tuntas mengapa banyak orang rela memalsukan isi dompet mereka demi cinta dan apa bahayanya bagi masa depan hubungan.
Realita Kencan Zaman Now dan Sindrom "Flexing"
Kita hidup di era di mana media sosial menjadi etalase kehidupan. Setiap hari kita disuguhi tayangan pasangan yang makan malam di restoran mewah, liburan ke luar negeri, atau saling memberi hadiah barang bermerek. Sadar atau tidak, standar kencan pun ikut naik drastis. Berdasarkan survei dari Credit One Bank terhadap 1.000 orang dewasa muda, terungkap sebuah fakta mengejutkan bahwa 51 persen responden mengaku pernah melebih lebihkan kondisi finansial mereka demi terlihat lebih menarik di mata pasangan.
Angka ini sangat besar. Artinya, satu dari dua orang yang kamu temui di aplikasi kencan atau saat kencan buta kemungkinan besar sedang memoles profil keuangan mereka. Mereka mungkin bercerita tentang proyek besar yang sedang dikerjakan, jabatan mentereng di kantor, atau target penghasilan fantastis di masa depan. Bahkan, survei tersebut mencatat ada sebagian orang yang dengan percaya diri memasang target penghasilan palsu lebih dari 150 ribu dolar atau sekitar 1,5 miliar rupiah per tahun hanya untuk membuat lawan bicaranya terkesan.
Psikologi di balik kebohongan ini sebenarnya sederhana. Manusia secara evolusioner mencari pasangan yang bisa memberikan rasa aman, dan di dunia modern saat ini, rasa aman tersebut sering kali diterjemahkan sebagai kestabilan finansial. Uang dianggap sebagai simbol kemapanan, tanggung jawab, dan kemampuan untuk melindungi. Karena itulah banyak orang merasa insecure jika harus jujur bahwa gaji mereka pas pasan atau mereka masih menumpang hidup di rumah orang tua.
Rela Berhutang Demi Menjaga Gengsi
Masalah dari kebohongan finansial ini tidak berhenti pada omong kosong di meja makan. Tekanan untuk mempertahankan ilusi "orang kaya" atau "orang sukses" sering kali menyeret pelakunya ke dalam jurang utang yang dalam. Survei yang sama menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Sekitar 41 persen pria mengaku siap menanggung risiko kredit yang buruk demi menjaga gengsi saat berkencan, sementara pada perempuan angkanya berada di 35 persen.
Ini membuktikan bahwa pria sering kali merasakan tekanan sosial yang lebih berat untuk menjadi pihak yang mentraktir, memanjakan pasangan, dan tampil sebagai penyedia (provider). Demi memenuhi ekspektasi ini, mereka rela menggesek kartu kredit sampai limit maksimal atau menggunakan fasilitas PayLater untuk membayar tagihan makan malam yang mahal, membelikan hadiah, atau menyewa mobil mewah untuk kencan akhir pekan.
Tindakan ekstrem ini sangat beracun bagi diri sendiri. Konsep "fake it till you make it" mungkin berlaku untuk membangun rasa percaya diri di dunia kerja, tetapi menerapkannya dalam hubungan asmara adalah resep kehancuran yang sempurna. Memulai sebuah hubungan yang berlandaskan tumpukan utang dan kebohongan hanya akan menciptakan bom waktu yang cepat atau lambat pasti akan meledak.
Daya Tarik Tersembunyi di Balik Skor Kredit
Hal yang paling menarik dari fenomena ini adalah pergeseran standar daya tarik di mata generasi muda. Kalau dulu orang hanya peduli pada penampilan fisik atau humor, sekarang "Skor Kredit" atau riwayat utang mulai menjadi parameter utama keseksian seseorang. Di Indonesia, hal ini setara dengan riwayat SLIK OJK atau BI Checking yang bersih.
Lebih dari setengah responden dalam survei tersebut percaya bahwa memiliki skor kredit yang tinggi membuat seseorang otomatis terlihat lebih menarik. Ini sangat masuk akal. Riwayat keuangan yang sehat menunjukkan bahwa orang tersebut disiplin, pandai menahan diri, memiliki perencanaan masa depan yang matang, dan tidak impulsif.
Menariknya, ada perbedaan cara pandang antara pria dan perempuan mengenai hal ini. Perempuan cenderung lebih selektif dan realistis, di mana 69 persen dari mereka menganggap riwayat kredit pasangan itu sangat penting. Sementara itu, pria dinilai lebih fleksibel karena hanya 57 persen yang mempermasalahkan utang pasangannya. Generasi Z dan milenial (sekitar 73 persen) terbukti jauh lebih melek finansial dan sangat mengerti betapa pentingnya riwayat kredit yang bersih sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Mereka sadar bahwa cinta saja tidak bisa digunakan untuk membayar cicilan KPR rumah.
Privasi vs Kebohongan Sebuah Batas yang Tipis
Meskipun riwayat keuangan adalah faktor daya tarik yang kuat, bukan berarti kamu harus membawa cetakan buku tabungan atau laporan BI Checking saat kencan pertama. Survei menunjukkan bahwa 54 persen orang lebih memilih untuk menjaga privasi kondisi keuangan mereka sampai hubungan tersebut benar benar masuk ke tahap yang serius.
Menjaga privasi adalah hal yang sangat wajar dan sehat. Kamu tidak berutang penjelasan soal gajimu kepada orang yang baru kamu kenal selama dua minggu. Namun, ada perbedaan besar antara menjaga privasi dan berbohong secara aktif. Menjawab "aku sedang fokus menabung" jauh lebih baik daripada berbohong mengatakan "gajiku dua digit dan aku baru saja membeli saham biru" padahal kenyataannya kamu sedang pusing membayar tagihan kartu kredit.
Menutupi masalah utang yang menumpuk ketika hubungan sudah mengarah ke pernikahan sering disebut sebagai "financial infidelity" atau perselingkuhan finansial. Dampaknya terhadap kepercayaan pasangan sama hancurnya dengan perselingkuhan fisik. Ketika kebohongan itu akhirnya terbongkar, pasangan tidak hanya akan kecewa karena masalah uangnya, tetapi juga karena merasa dibodohi dan dikhianati selama berbulan bulan.
Kejujuran Adalah Investasi Kencan Terbaik
Pada akhirnya, kejujuran tentang kondisi finansial adalah tameng terbaik untuk menyaring siapa yang benar benar tulus mencintaimu dan siapa yang hanya menumpang hidup. Jika pasanganmu mundur perlahan setelah mengetahui bahwa kamu bukanlah miliarder seperti yang dia bayangkan, maka bersyukurlah. Kamu baru saja diselamatkan dari hubungan materialistis yang akan menguras energimu.
Membangun hubungan yang berkelanjutan membutuhkan fondasi realita, bukan fantasi. Mengakui bahwa kamu sedang berjuang melunasi utang pendidikan atau sedang merintis karier dari bawah justru menunjukkan bahwa kamu adalah manusia biasa yang sedang berproses. Sisi rentan (vulnerability) inilah yang sebenarnya melahirkan keintiman yang sejati.
Jadi, berhentilah memoles cerita hanya demi validasi sesaat. Kebohongan finansial mungkin bisa memberikan kesan pertama yang memukau dan gemerlap, tetapi kejujuran, kerja keras, serta tanggung jawab adalah kualitas sejati yang akan membuat pasanganmu bertahan hingga hari tua. Hubungan yang sehat selalu dimulai dari dompet yang jujur.
Next News

Seni Rebahan Sehat dan Alasan Tidur Adalah Investasi Bukan Malas
in 5 hours

Cara Mengatasi Rasa Bosan Akibat Rutinitas yang Itu-itu Saja
in 4 hours

Alasan Kuat Mengapa Slow Living Jadi Pelarian Tren Masa Kini
in 3 hours

Cara Melatih Pikiran Terbuka Biar Hidup Lo Nggak Kaku
in 2 hours

Mengapa Jadi Dewasa Itu Melelahkan? Simak Cara Mengatasinya
in an hour

Ternyata Ini Alasan Ilmiah Mengapa Salju Berwarna Putih
in an hour

Kenapa Saturnus Punya Cincin dan Planet Lain Tidak?
6 minutes ago

Bukan Sekadar Adaptasi, Mengapa Bunglon Bisa Berubah Warna?
36 minutes ago

Mengapa Ngidam Manis Muncul Saat Lelah? Simak Kekuatan Gula
an hour ago

Sebelum Ada ChatGPT, Inilah Tempat Tanya Paling Gokil
2 hours ago





