Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Ngidam Manis Muncul Saat Lelah? Simak Kekuatan Gula

Nisrina - Wednesday, 11 March 2026 | 09:45 AM

Background
Mengapa Ngidam Manis Muncul Saat Lelah? Simak Kekuatan Gula
Ilustrasi (parade.com/)

Bayangkan situasinya begini: jam menunjukkan pukul tiga sore, matahari di luar lagi galak-galaknya, dan tumpukan kerjaan di meja seolah nggak ada habisnya. Tiba-tiba, ada suara halus di dalam kepala yang membisikkan satu kata sakti: "Boba". Atau mungkin sepotong brownies cokelat yang lumer, atau sesederhana kopi susu gula aren yang dinginnya minta ampun. Begitu sedotan pertama masuk ke kerongkongan, rasanya seolah dunia yang tadinya berisik mendadak jadi tenang. Itulah kekuatan gula.

Kita semua tahu kalau kebanyakan mengonsumsi gula itu nggak baik. Risiko diabetes mengintai, perut buncit jadi kenyataan, dan jerawat bisa muncul tanpa diundang. Tapi anehnya, sesering apa pun kita baca artikel kesehatan, tangan ini rasanya otomatis saja kalau sudah urusan "jajan yang manis-manis". Pertanyaannya, kenapa sih kita sebegitu lemahnya di hadapan gula? Apakah ini murni karena kita kurang disiplin, atau memang ada konspirasi biologis di balik itu semua?

Warisan Nenek Moyang: Gula Adalah Simbol Bertahan Hidup

Kalau mau menyalahkan seseorang atas kecanduan kita terhadap martabak manis, mungkin kita harus menyalahkan nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu. Dulu, sumber makanan itu langka banget. Manusia purba nggak bisa tinggal pesan makanan lewat aplikasi kalau lapar. Mereka harus berburu dan meramu.

Dalam dunia purba yang keras itu, rasa manis adalah sinyal dari alam bahwa makanan tersebut aman dimakan dan kaya energi. Buah yang manis berarti matang dan penuh nutrisi, sedangkan rasa pahit sering kali diasosiasikan dengan racun. Jadi, otak manusia berevolusi untuk memburu rasa manis demi bertahan hidup. Masalahnya, sekarang kita hidup di zaman di mana gula ada di mana-mana, tapi otak kita masih pakai "software" zaman batu yang selalu bilang, "Ayo makan gulanya, mumpung ada!"

Pesta Dopamin di Dalam Kepala

Secara ilmiah, gula bekerja pada otak kita dengan cara yang mirip dengan obat-obatan terlarang. Bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi faktanya begitu. Saat lidah kita mengecap rasa manis, sinyal langsung dikirim ke otak, tepatnya ke sistem reward yang disebut mesolimbic dopamine system.

Otak kemudian melepaskan dopamin, zat kimia yang bikin kita merasa senang, nyaman, dan puas. Inilah yang kita kenal sebagai "sugar rush". Sensasi euforia ini bikin otak mencatat: "Eh, ini enak banget, lakuin lagi ya nanti!". Sialnya, lama-kelamaan otak kita jadi kebal. Kalau biasanya satu keping biskuit sudah cukup bikin senang, besok-besok kita butuh satu bungkus buat dapet sensasi yang sama. Inilah awal mula jebakan lingkaran setan ketagihan gula.

Industri Pangan dan "Bliss Point"

Pernah nggak kepikiran kenapa keripik kentang atau saus sambal yang harusnya gurih atau pedas tetap mengandung gula? Ini bukan kebetulan. Para produsen makanan punya ilmuwan pangan yang tugasnya mencari apa yang disebut dengan Bliss Point atau titik kebahagiaan.

Bliss Point adalah takaran presisi antara gula, garam, dan lemak yang bikin sebuah produk makanan jadi sangat adiktif. Mereka sengaja memasukkan gula ke hampir semua produk—mulai dari roti, sereal, sampai saus pasta—supaya konsumennya "terikat" secara emosional dan biologis. Jadi, terkadang bukan kita yang nggak punya kontrol diri, tapi memang makanannya sudah didesain sedemikian rupa supaya kita susah berhenti mengunyah.

Gula Sebagai Pelarian Emosional

Selain urusan biologi dan strategi industri, ada faktor psikologis yang nggak kalah kuat. Di Indonesia, jajan manis sering kali dianggap sebagai bentuk "self-reward" atau healing kecil-kecilan. Habis dimarahi bos? Beli donat. Putus cinta? Makan es krim satu liter. Kita sering mengaitkan makanan manis dengan kenyamanan emosional.

Gula memberikan gratifikasi instan. Saat hidup terasa pahit dan penuh tekanan, gula adalah cara termudah dan termurah untuk mendapatkan kebahagiaan, meski cuma bertahan lima menit. Sayangnya, setelah kadar gula darah turun (sugar crash), kita biasanya bakal merasa lebih lemas, uring-uringan, dan akhirnya mencari asupan manis lagi. Begitu terus sampai lebaran monyet.

Budaya Nongkrong dan Tekanan Sosial

Jangan lupakan juga peran media sosial dan budaya tongkrongan anak muda zaman sekarang. Coba lihat di Instagram atau TikTok, konten makanan manis yang visualnya estetik selalu dapat engagement tinggi. Ada kafe baru dengan menu "Lotus Biscoff Cheesecake" yang viral, kita pasti merasa ada dorongan FOMO (Fear of Missing Out) kalau nggak nyobain.

Nongkrong di kafe pun sekarang identik dengan memesan minuman yang isinya lebih banyak sirup dan whip cream daripada kopinya itu sendiri. Tanpa sadar, lingkungan sosial kita sudah menormalisasi konsumsi gula dalam dosis tinggi setiap hari. Kalau nggak pesen yang manis, rasanya kayak ada yang kurang saat kumpul bareng teman.

Gimana Caranya Biar Nggak Terus-terusan Jadi "Budak Gula"?

Memutus rantai kecanduan gula itu memang nggak gampang, tapi bukan berarti mustahil. Langkah awalnya bukan dengan berhenti total secara ekstrem, karena biasanya itu malah bikin kita "balas dendam" di kemudian hari. Mulailah dengan langkah kecil, misalnya mengurangi takaran gula di kopi harian atau lebih teliti membaca label nutrisi di kemasan makanan.

Kita juga perlu sadar kalau keinginan makan manis itu sering kali cuma respon tubuh terhadap rasa stres atau kurang tidur. Jadi, daripada lari ke martabak, mungkin kita sebenarnya cuma butuh tidur siang atau minum air putih yang banyak. Akhirnya, hubungan kita dengan gula memang akan selalu rumit. Ia adalah teman yang menyenangkan di saat sedih, tapi juga musuh yang diam-diam merusak kesehatan. Kuncinya cuma satu: sadar diri sebelum lidah yang mengambil alih kemudi.

Logo Radio
🔴 Radio Live