Ceritra
Ceritra Warga

Bukan Sekadar Adaptasi, Mengapa Bunglon Bisa Berubah Warna?

Nisrina - Wednesday, 11 March 2026 | 10:15 AM

Background
Bukan Sekadar Adaptasi, Mengapa Bunglon Bisa Berubah Warna?
Ilustrasi (iStock/Ayse Burada)

Pernah nggak sih kamu lagi asyik nongkrong, terus lihat teman yang sikapnya berubah-ubah tergantung siapa yang lagi diajak bicara? Biasanya kita bakal nyeletuk, "Wah, dasar bunglon!" Istilah ini memang sudah mendarah daging di kamus pergaulan kita buat melabeli orang yang oportunis atau jago adaptasi. Tapi, pernah nggak kamu benar-benar penasaran, kenapa si reptil yang asli—si bunglon beneran—bisa seajaib itu mengubah warna tubuhnya dalam hitungan detik?

Selama ini, kita sering dicekoki mitos kalau bunglon berubah warna biar bisa sembunyi dari predator alias kamuflase. Kayak ninja yang tiba-tiba hilang di balik tembok. Ternyata, kalau kamu tanya ke ahli biologi, alasan itu cuma secuil dari fungsi sebenarnya. Bunglon itu jauh lebih kompleks dari sekadar hewan yang hobi main petak umpet. Mereka itu seperti seniman ekspresionis yang memakai tubuhnya sebagai kanvas untuk berteriak kepada dunia.

Bukan Sulap, Bukan Sihir, Tapi Kristal Kecil

Dulu, banyak orang (termasuk guru sains kita mungkin) bilang kalau bunglon berubah warna karena pigmen di kulitnya yang melebar atau menyempit. Tapi penelitian terbaru, salah satunya dari Universitas Jenewa, mengungkap fakta yang jauh lebih keren. Di bawah lapisan kulit luar mereka, ada lapisan sel yang disebut iridophores. Nah, di dalam sel ini ada kristal-kristal mikroskopis yang namanya nanocrystals.

Kebayang nggak? Bunglon itu punya "teknologi" kristal cair di badannya! Pas si bunglon lagi santai, kristal-kristal ini posisinya rapat banget, makanya mereka memantulkan cahaya biru dan hijau. Tapi pas mereka lagi emosi atau tegang, kulit mereka bakal meregang, otomatis jarak antar kristal ini jadi menjauh. Pas jaraknya renggang, cahaya yang dipantulkan pun berubah jadi warna-warna mencolok kayak kuning, oranye, atau merah terang. Jadi, mereka nggak "ngecat" ulang kulitnya, mereka cuma mengatur pantulan cahaya lewat struktur kristal tadi. Canggih, kan?

Lagi Curhat Lewat Warna

Kalau kita manusia kalau lagi marah mukanya merah, atau kalau lagi sedih auranya jadi mendung, bunglon pun gitu. Bedanya, mereka nggak bisa bohong. Perubahan warna ini sebenarnya adalah alat komunikasi sosial. Bunglon itu hewan yang sangat ekspresif sekaligus temperamental.

Misalnya nih, ada bunglon jantan yang lagi ketemu rivalnya. Mereka nggak bakal langsung baku hantam kayak di film aksi. Mereka bakal "adu visual" dulu. Siapa yang warnanya paling terang dan mencolok, dialah yang menang secara mental. Sebaliknya, kalau ada bunglon yang kalah atau merasa terintimidasi, warnanya bakal berubah jadi gelap atau kecokelatan sebagai tanda menyerah. Ya, semacam bendera putih tapi versi biologis. Jadi, warna kulit itu adalah cara mereka "ngomong" tanpa harus bersuara.

Urusan Asmara dan Suasana Hati

Nggak cuma soal berantem, urusan cinta-cintaan juga pakai warna. Bunglon jantan bakal dandan habis-habisan dengan warna paling ngejreng buat menarik perhatian betina. Kayak kita kalau mau first date, pasti pakai baju paling oke, kan? Nah, kalau si betina nggak tertarik atau kebetulan lagi nggak pengen diganggu, dia juga bakal kasih sinyal lewat warna kulit yang gelap atau bintik-bintik tertentu. Intinya, kalau kamu liat bunglon warnanya berubah-ubah, dia mungkin lagi galau, lagi jatuh cinta, atau malah lagi emosi jiwa.

Selain soal perasaan, faktor lingkungan juga berpengaruh besar. Suhu udara itu kunci. Karena bunglon itu hewan berdarah dingin (ektoterm), mereka nggak bisa mengatur suhu tubuh dari dalam. Kalau pagi hari pas udara masih dingin, mereka bakal mengubah kulit jadi lebih gelap biar bisa menyerap panas matahari lebih maksimal. Pas matahari sudah mulai terik dan mereka kepanasan, mereka bakal berubah jadi lebih cerah buat memantulkan panas. Jadi, kulit mereka itu berfungsi kayak AC otomatis sekaligus jaket pelindung.

Mitos Kamuflase yang Ternyata "Cuma Bonus"

Terus, apa mereka nggak pakai warna buat sembunyi? Ya pakai juga, sih. Tapi itu bukan tujuan utama. Banyak jenis bunglon yang warna dasarnya memang sudah mirip sama habitat aslinya—hijau daun atau cokelat ranting. Perubahan warna buat kamuflase itu lebih sering terjadi secara pasif. Malah kadang, perubahan warna mereka yang mencolok gara-gara emosi justru bikin mereka gampang kelihatan sama pemangsa. Tapi ya itulah risiko jadi makhluk yang ekspresif, kan?

Dari sini kita bisa belajar, kalau alam itu nggak pernah sesederhana yang kita kira. Bunglon mengajarkan kita kalau penampilan luar itu seringkali adalah cerminan dari apa yang terjadi di dalam. Mereka nggak butuh kata-kata buat menunjukkan siapa diri mereka atau apa yang mereka rasakan. Cukup mainkan pantulan cahaya di kulit, dan pesan pun tersampaikan.

Jadi, lain kali kalau kamu lihat bunglon atau bahkan teman yang kamu anggap "bunglon", coba ingat-ingat lagi: mungkin mereka bukan lagi cari aman, tapi cuma lagi bingung mengatur jarak kristal di hati mereka biar warnanya nggak terlalu mencolok di mata dunia. Hehe, bercanda deng! Tapi intinya, bunglon tetaplah salah satu mahakarya evolusi yang paling estetik di muka bumi ini.

Logo Radio
🔴 Radio Live