Kisah Sanuri, Penjual Es Gabus yang Dituduh Jual Spons hingga Anak Putus Sekolah
Nisrina - Thursday, 29 January 2026 | 01:15 AM


Kisah viral pedagang es di Jakarta yang dituduh menjual jajanan palsu berbahan spons menyisakan cerita pilu yang mendalam. Di balik tuduhan kejam yang beredar di media sosial tersimpan realitas hidup yang sangat berat bagi Sanuri. Pria paruh baya ini hanyalah seorang ayah yang berusaha mencari nafkah halal demi keluarganya di rumah.
Penghasilan harian yang didapatkannya dari berjualan keliling kota Jakarta ternyata sangat jauh dari kata layak. Dalam sehari ia rata-rata hanya mampu membawa pulang uang sekitar lima puluh ribu rupiah saja. Uang sekecil itu harus cukup untuk membeli makan dan kebutuhan dasar keluarganya di ibu kota yang serba mahal.
Kondisi ekonomi yang serba pas-pasan ini berdampak fatal pada masa depan pendidikan anak-anaknya. Sanuri dengan berat hati harus menerima kenyataan bahwa buah hatinya terpaksa putus sekolah di tengah jalan. Biaya pendidikan yang terus melambung tidak mampu ia jangkau dengan penghasilan dagang es yang tidak menentu.
Ia mengaku bahwa keuntungan bersih yang didapat sering kali habis hanya untuk modal belanja bahan es keesokan harinya. Tidak ada tabungan apalagi dana darurat yang bisa ia sisihkan untuk masa depan. Hidupnya benar-benar bergantung pada nasib baik dan cuaca hari itu apakah dagangannya akan laku atau tidak.
Tuduhan bahwa ia menggunakan bahan berbahaya seperti spons atau gabus kasur tentu sangat melukai hatinya. Padahal es yang dijualnya adalah es kue tradisional yang terbuat dari tepung hunkwe atau sari pati kacang hijau. Teksturnya yang memang padat dan kenyal adalah ciri khas jajanan jadul tersebut dan bukan karena bahan kimia.
Viralnya kasus ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi kita semua untuk tidak mudah menghakimi pedagang kecil. Ketidaktahuan masyarakat akan tekstur makanan tradisional justru berujung fitnah yang mematikan rezeki orang lain. Sanuri adalah potret nyata perjuangan rakyat kecil yang sering kali menjadi korban salah sangka di jalanan.
Kini publik diharapkan bisa lebih bijak dan menaruh simpati pada perjuangan para pedagang keliling seperti Sanuri. Membeli dagangan mereka tanpa banyak menawar adalah cara paling sederhana untuk membantu mereka menyambung hidup. Jangan sampai ketidaktahuan kita justru menghancurkan harapan keluarga yang sedang berjuang melawan kemiskinan.
Next News

Bosan Main Monopoli yang Itu-itu Aja? Cobain 6 Edisi Unik Ini Biar Nongkrong Gak Garing
12 hours ago

Gak Perlu Malu Lagi! Cara Tenxi Mengubah Dangdut Jadi "Swag" dan Mendunia
12 hours ago

Warna Pink dalam Perspektif Sejarah: Dari Simbol Maskulinitas hingga Identitas Feminitas
a day ago

Mengapa Sebagian Orang Justru Mengantuk Setelah Minum Kopi?
a day ago

Fenomena Efek Proust: Ketika Aroma Menghidupkan Kembali Kenangan
a day ago

Dilema Lemari Penuh: Strategi Mengelola Pakaian Lama agar Tetap Bernilai Guna
a day ago

Bedah House Music: Fondasi Ritmis di Balik Estetika Lagu K-pop yang Adiktif
2 days ago

Asal Usul Pepatah "An Apple a Day Keeps the Doctor Away"
2 days ago

Mengapa Bayi Perlu Menangis Saat Baru Lahir?
2 days ago

Mengapa Wanita Menjadi Lebih Sensitif Saat Menstruasi?
4 days ago





