Ceritra
Ceritra Warga

Jangan Simpan Parfum Terlalu Lama, Ini Risiko yang Akan Terjadi

Refa - Monday, 23 February 2026 | 03:00 PM

Background
Jangan Simpan Parfum Terlalu Lama, Ini Risiko yang Akan Terjadi
Parfum (pexels.com/NastyaSensei)

Hati-hati, Parfum Kesayanganmu Bisa Kadaluwarsa! Ini Cara Ngeceknya Biar Nggak Zonk

Pernah nggak sih kamu lagi rapi-rapi kamar, terus nemu botol parfum mahal yang dulu dibeli pakai perjuangan menyisihkan uang jajan berbulan-bulan? Pas dilihat, isinya masih banyak banget, mungkin sekitar 70 persen karena memang sengaja disimpan dan cuma dipakai buat acara spesial atau pas mau kencan sama gebetan aja. Tapi, pas disemprot ke tangan, kok baunya agak aneh ya? Bukannya bau wangi bunga yang segar, malah ada aroma kecut-kecut mirip cuka atau alkohol yang menyengat banget di hidung.

Nah, di momen itulah kamu harus sadar bahwa parfum kesayanganmu itu mungkin sudah memasuki masa "pensiun" alias kadaluwarsa. Banyak dari kita yang mikir kalau parfum itu abadi, apalagi kalau botolnya cakep dan tertutup rapat. Padahal, sama kayak perasaan yang bisa memudar, kualitas cairan kimia di dalam botol parfum itu juga bisa berubah seiring berjalannya waktu. Meskipun di botolnya nggak tertulis tanggal kadaluwarsa yang segede gaban kayak di bungkus mi instan, parfum punya masanya tersendiri. Yuk, kita bedah gimana caranya tahu parfum kita sudah nggak layak pakai meskipun cairannya masih penuh.

Hidung Adalah Detektif Terbaik

Cara paling gampang dan paling akurat buat ngecek kondisi parfum adalah dengan menggunakan indra penciuman sendiri. Hidung kita itu jujur banget. Parfum yang masih bagus biasanya punya struktur aroma yang rapi, ada top notes, middle notes, dan base notes yang keluar bergantian. Tapi kalau sudah kadaluwarsa, struktur ini biasanya berantakan. Tanda yang paling umum adalah munculnya bau asam atau off-smell.

Kalau kamu nyium aroma yang mirip logam, plastik kebakar, atau yang paling sering itu aroma mirip minyak goreng yang sudah lama (tengik), itu tandanya molekul di dalamnya sudah teroksidasi. Biasanya, parfum yang punya konsentrasi citrus tinggi cenderung lebih cepat berubah baunya karena molekul jeruk-jerukan itu emang gampang banget rusak. Sebaliknya, parfum dengan aroma kayu-kayuan atau musk biasanya lebih awet. Jadi, kalau parfum kamu yang tadinya wangi segar berubah jadi bau asem yang bikin pusing, mendingan stop pakainya ya daripada bikin orang di sekitar kamu malah tutup hidung.

Warna Cairan yang Berubah Drastis

Coba deh perhatikan botol parfum kamu di bawah cahaya yang terang. Apakah warnanya masih sama kayak pas pertama kali kamu beli? Parfum yang sudah kadaluwarsa biasanya mengalami perubahan warna. Kalau tadinya warnanya bening terus berubah jadi kuning keruh, atau yang tadinya kuning keemasan berubah jadi cokelat gelap, itu indikasi kuat kalau terjadi reaksi kimia di dalamnya.

Perubahan warna ini biasanya disebabkan oleh paparan sinar matahari langsung atau suhu ruangan yang nggak stabil. Oksidasi itu nyata, kawan. Cairan parfum yang berubah warna ini nggak cuma nggak enak dipandang, tapi juga berpotensi bikin kulit kamu iritasi. Apalagi kalau kamu lihat ada endapan atau partikel melayang-layang di dasar botol padahal sebelumnya nggak ada. Wah, itu sih sudah fardu ain buat diikhlaskan.

Cek Simbol PAO di Balik Botol

Banyak orang nggak sadar kalau di kotak atau di bagian bawah botol parfum ada simbol kecil berbentuk kaleng terbuka dengan tulisan kayak "12M", "24M", atau "36M". Simbol ini namanya PAO atau Period After Opening. Angka tersebut menunjukkan berapa lama produk tersebut tetap dalam kondisi prima setelah pertama kali kamu semprot alias terpapar udara.

Misalnya tulisannya 24M, berarti idealnya parfum itu habis dalam waktu 24 bulan atau dua tahun setelah pemakaian pertama. Kalau parfum kamu sudah nangkring di meja rias selama lima tahun sejak pertama kali dibeli, ya jangan kaget kalau kualitasnya menurun drastis. Memang sih, ini bukan patokan mati, tapi bisa jadi alarm awal buat kamu lebih waspada sebelum menyemprotkannya ke tubuh.

Tekstur yang Terasa Lengket

Pernah nggak nyemprot parfum terus pas kena kulit rasanya lengket banget dan susah hilang? Padahal dulu rasanya cair dan cepat meresap. Perubahan konsistensi atau tekstur ini juga jadi ciri-ciri parfum yang sudah "tewas". Kandungan minyak esensial di dalamnya mungkin sudah terpisah dari alkoholnya karena proses penyimpanan yang kurang benar. Kalau sudah begini, parfum biasanya nggak bakal bisa nyampur lagi meskipun kamu kocok-kocok sampai tangan pegal.

Kenapa Parfum Bisa Cepat Rusak?

Sebenarnya, musuh utama parfum itu ada tiga: cahaya, panas, dan kelembapan. Banyak dari kita yang suka naruh parfum di kamar mandi karena alasan praktis biar habis mandi langsung semprot. Padahal, kamar mandi itu tempat yang sangat lembap dan suhunya sering berubah-ubah. Ini cara paling cepat buat ngerusak molekul parfum.

Menaruh parfum di dekat jendela yang kena sinar matahari langsung juga ide buruk. Sinar UV itu jahat banget buat cairan parfum. Jadi, kalau mau parfum awet, simpanlah di tempat yang sejuk, gelap, dan kering. Lemari pakaian atau laci meja rias adalah tempat terbaik. Jangan malah dipajang di dashboard mobil ya, itu mah namanya "nyiksa" parfum pelan-pelan.

Kesimpulannya, meskipun sayang banget harus membuang parfum yang harganya jutaan, kesehatan kulit dan kenyamanan hidung orang-orang di sekitar kita tetap nomor satu. Memakai parfum kadaluwarsa bisa memicu alergi, ruam merah, sampai rasa gatal di kulit yang sensitif. Jadi, yuk lebih teliti lagi sama koleksi parfum di rumah. Kalau memang sudah nggak enak baunya dan warnanya sudah aneh, nggak usah ragu buat merelakannya. Anggap aja itu alasan buat kamu belanja parfum baru yang lagi hits, kan?

Logo Radio
🔴 Radio Live