Ceritra
Ceritra Warga

Bye-bye Kolesterol! 5 Trik Masak Rendah Minyak yang Bikin Masakan Tetap Medok

Refa - Thursday, 26 March 2026 | 04:00 PM

Background
Bye-bye Kolesterol! 5 Trik Masak Rendah Minyak yang Bikin Masakan Tetap Medok
Ilustrasi menggoreng (pexels.com/RDNE Stock project)

Seni Masak Tanpa Harus Mandi Minyak: Menyelamatkan Masakan Tradisional dari Kolesterol Jahat

Mari kita jujur, di Indonesia, minyak goreng itu sudah seperti belahan jiwa. Hubungan kita dengan cairan kuning keemasan ini sudah di tahap toxic relationship yang susah diputus. Bayangkan saja, dari bangun tidur sampai mau merem lagi, hidung kita terus-menerus digoda aroma gorengan. Mulai dari mendoan yang masih panas, ayam goreng yang kriuknya sampai ke tetangga, hingga sambal goreng yang minyaknya menggenang cantik di atas piring. Rasanya kalau nggak ada minyak, masakan kita jadi kurang nendang atau kehilangan nyawanya.

Tapi, ingat tidak waktu harga minyak goreng sempat melonjak drastis dan barangnya hilang dari peredaran beberapa waktu lalu? Di situ kita semua panik luar biasa. Selain bikin dompet megap-megap, ketergantungan kita pada minyak goreng sebenarnya menyimpan bom waktu buat kesehatan. Bukan mau nakut-nakutin, tapi gorengan berlebih itu akrab banget sama yang namanya kolesterol dan teman-temannya. Nah, pertanyaannya sekarang, gimana caranya kita tetap bisa makan enak khas masakan nusantara tapi nggak usah pakai minyak berliter-liter? Tenang, ini bukan misi mustahil ala Tom Cruise.

Ubah Mindset Bahwa Menumis Nggak Harus Banjir Minyak

Kesalahan umum yang sering kita lakukan saat bikin bumbu dasar adalah menuangkan minyak seolah-olah kita mau bikin kolam renang mini di wajan. Padahal, rahasia bumbu yang sedap itu bukan di jumlah minyaknya, tapi di proses pematangannya. Biar tetap wangi tapi hemat minyak, coba deh teknik water sautéing alias menumis pakai air.

Caranya simpel banget. Panaskan wajan, masukkan bumbu halus, lalu tambahkan sedikit saja minyak (satu sendok teh juga cukup) atau bahkan langsung pakai sedikit air. Aduk terus sampai aromanya keluar dan airnya menyusut. Kalau bumbunya mulai lengket, tinggal tambah air sedikit demi sedikit. Hasilnya? Bumbunya matang sempurna, aromanya tetap keluar, dan yang paling penting, masakan kamu nggak akan bikin tenggorokan serik karena minyak berlebih. Ini trik yang sering dipakai chef profesional tapi jarang dibocorin ke emak-emak di pasar.

Kembali Gunakan Pepes dan Kukusan

Kalau kita mau jujur, nenek moyang kita itu sebenarnya jenius. Sebelum minyak sawit merajalela, masakan tradisional kita banyak yang mengandalkan teknik kukus dan pepes. Coba ingat-ingat rasa pepes ikan mas atau pepes tahu yang dibungkus daun pisang. Aromanya yang smoky karena kena uap panas dan wangi daun pisang itu nggak bisa dikalahkan sama gorengan manapun.

Mengurangi minyak goreng berarti kita harus lebih sering melirik dandang atau kukusan di dapur. Masakan tradisional seperti Gadon dari Jawa Tengah atau Botok itu sangat kaya rasa meski tanpa setetes pun minyak goreng. Nutrisinya terjaga, rasanya medok karena bumbunya meresap sempurna ke dalam bahan makanan, dan perut juga terasa lebih ringan setelah makan. Bonusnya, kamu nggak perlu ribet cuci wajan yang licin banget bekas minyak.

Ungkep dan Bakar, Pengganti Deep Fry

Siapa sih yang nggak suka ayam goreng? Tapi kalau dipikir-pikir, proses deep fry itu benar-benar menyedot minyak dalam jumlah banyak. Solusinya, kita bisa memaksimalkan proses ungkep. Masak ayam atau tempe dengan bumbu kuning sampai airnya benar-benar meresap dan menyusut. Nah, alih-alih menceburkannya ke minyak panas setelah diungkep, kenapa nggak coba dibakar atau dipanggang saja?

Pakai teflon anti lengket atau pemanggang elektrik, oles sedikit sisa bumbu ungkep yang dicampur sedikit kecap atau madu, lalu panggang sampai warnanya kecokelatan. Rasanya malah jauh lebih kompleks dan berkelas dibandingkan sekadar digoreng garing. Teksturnya tetap dapet, rasa bumbunya makin kuat karena terkaramelisasi api, dan yang jelas jauh lebih sehat buat jantung kamu yang sudah lelah kerja keras itu.

Investasi di Air Fryer yang Bukan Cuma Gaya-gayaan

Oke, kita masuk ke ranah modern sedikit. Mungkin banyak yang skeptis, "Masakan tradisional pakai Air Fryer? Emang bisa?" Jawabannya, bisa banget! Air fryer itu sebenarnya adalah oven konveksi mini yang meniupkan udara panas dengan sangat cepat. Hasilnya, makanan jadi punya tekstur crispy mirip seperti digoreng tapi tanpa minyak.

Bayangkan bikin bakwan atau tahu isi pakai air fryer. Memang sih, teksturnya nggak bakal 100 persen sama persis dengan yang digoreng di pinggir jalan, tapi untuk urusan kesehatan, ini upgrade yang luar biasa. Masakan tradisional seperti empal daging atau paru juga bisa diproses di sini. Kamu tetap dapat sensasi makan daging yang agak kering dan gurih tanpa harus merasa bersalah setelahnya. Anggap saja ini investasi jangka panjang buat masa tua nanti.

Menghargai Rasa Asli Bahan Makanan

Kadang, kita terlalu sering menutupi rasa asli bahan makanan dengan rasa minyak dan tepung. Dengan mengurangi penggunaan minyak goreng, lidah kita sebenarnya dilatih untuk kembali mengenali rasa asli dari bahan masakan. Rasa manis alami dari sayuran, gurihnya daging, atau segarnya rempah-rempah akan lebih menonjol kalau tidak tertutup lapisan lemak.

Memang butuh waktu buat lidah kita beradaptasi. Awalnya mungkin terasa ada yang kurang, tapi percayalah, setelah seminggu saja mengurangi gorengan, kamu bakal merasa lebih segar dan nggak gampang ngantuk habis makan siang. Hidup sehat itu nggak harus membosankan dan nggak harus meninggalkan kuliner nusantara yang kita cintai. Kita cuma perlu lebih kreatif dikit dan nggak malas buat nyoba teknik masak baru. Jadi, sudah siap buat masak rendang atau opor tanpa banjir minyak hari ini?

Logo Radio
🔴 Radio Live