Ceritra
Ceritra Teknologi

Jangan Asal Posting! Cara Melindungi Identitas Biometrik Anak dari Ancaman Deepfake

Refa - Saturday, 31 January 2026 | 04:30 PM

Background
Jangan Asal Posting! Cara Melindungi Identitas Biometrik Anak dari Ancaman Deepfake
Ilustrasi deepfake (Freepik/Freepik)

Sharenting: Ancaman Baru di Era Deepfake dan Roblox

Siapa yang masih mengira bahwa foto anak di Instagram hanya sekadar rekaman kenangan? Tahun 2026 sudah menandai era di mana wajah si kecil dapat dijadikan alat curang bagi penjahat digital. Dari penculik zaman now yang lebih pintar lagi, mereka kini tidak lagi menunggu di pintu gerbang sekolah, melainkan menanti di feed Instagram orang tua.

Gambar Anak: Bukan Sekadar Foto, Tapi Data Senjata

Setiap kali orang tua memotret anak dengan latar belakang yang cerah, mereka secara otomatis membagikan data biometrik, mulai dari kulit wajah, struktur mata, bentuk hidung yang bisa disadap. Saat ini, teknologi AI sudah mampu memproses setengah juta data wajah dalam hitungan detik. Siapa pun dengan akses ke server cloud bisa mengubah foto tersebut menjadi model 3D yang sangat akurat.

Bayangkan, seorang penjahat mengambil foto si kecil yang diunggah di story dan menggunakannya untuk membuat avatar deepfake di Roblox. Di dunia virtual, avatar itu bisa digunakan untuk menipu teman, menaklukkan misi, atau bahkan mengelabui penjual item virtual. Karena avatar terlihat nyata, orang lain tidak menaruh curiga. Satu-satunya pencuri yang mengintai tidak lagi di jalanan, melainkan di balik layar kamera selfie.

Bagaimana Cara Melindungi?

  • Sensor Wajah – Saat memposting foto, gunakan filter yang menutup bagian penting wajah, seperti mata atau hidung. Ada aplikasi khusus yang dapat menghapus bagian tersebut secara otomatis.
  • Pengaturan Privasi – Atur siapa yang bisa melihat foto di akun Anda. Sebisa mungkin pilih "teman saja" atau "pribadi". Jangan biarkan publik dapat mengakses foto anak.
  • Hindari "Live Stream" dengan Wajah Terlihat – Ketika melakukan live, pastikan kamera tidak menampilkan wajah anak. Jika ingin berbagi momen, gunakan mode "blur" atau tampilkan latar belakang yang menutupi wajah.
  • Pendidikan Digital – Ajarkan anak tentang risiko berbagi foto. Meskipun masih kecil, mereka bisa memahami bahwa "semua yang mereka upload bisa menjadi senjata" jika jatuh ke tangan yang salah.
  • Periksa Akun Roblox – Aktifkan verifikasi dua faktor dan setel batasan pada pembelian item. Jika ada aktivitas yang tidak dikenal, segera ganti password dan laporkan ke Roblox.

Sharenting: Dari Momen Manis Menjadi Pelanggaran Privasi

Gaya hidup sekarang, kita hidup di media sosial. "Sharenting" menjadi kebiasaan bagi banyak orang tua yang ingin berbagi kebahagiaan. Namun, kebiasaan ini seakan-akan membuka pintu bagi ancaman yang tidak terduga. Sharenting bisa menjadi selfie yang mengundang penjahat ke dalam dunia digital.

Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa keamanan digital bukan lagi sekadar tentang virus atau password. Ini tentang melindungi identitas anak, yang selama ini dianggap tak berbahaya karena masih kecil. Menurut beberapa ahli, anak yang terlibat dalam deepfake dapat mengalami trauma psikologis, bahkan ketika mereka belum menyadari apa yang terjadi.

Kesimpulan: Waktunya Menyadari Risiko

Jangan sampai pencuri modern mengintai di balik layar kamera smartphone. Waktu untuk memikirkan keamanan digital sudah lewat. Lakukan langkah-langkah sederhana, seperti sensor wajah dan pengaturan privasi, sebelum melanjutkan posting. Ingat, di era 2026, anak bukan lagi masyarakat kecil yang tidak bisa diserang; mereka adalah data yang dapat dimanfaatkan oleh penjahat digital.

Berhati-hatilah dengan setiap foto yang diupload. Karena di dunia maya, satu klik bisa berarti satu ancaman. Dan kalau kamu lebih memilih untuk tetap memposting tanpa memikirkan risiko, kamu tidak hanya melanggar privasi anak, tapi juga menempatkan mereka pada posisi"pencuri yang lebih cerdik. Jadi, sebelum ada selfie berikutnya, berhati-hatilah. Selamat berbagi, tapi lebih baik hati.

Logo Radio
🔴 Radio Live