Ceritra
Ceritra Uang

Jangan Asal Belanja, Ini Rumus Sakti Mengelola Gaji Pertama Agar Tak Menyesal di Akhir Bulan

Refa - Monday, 29 December 2025 | 10:30 AM

Background
Jangan Asal Belanja, Ini Rumus Sakti Mengelola Gaji Pertama Agar Tak Menyesal di Akhir Bulan
Iustrasi Gaji (Pinterest/bungabianca)

Momen ketika ponsel berbunyi menampilkan notifikasi transfer masuk dari kantor adalah salah satu detik paling bersejarah dalam fase kedewasaan seseorang. Gaji pertama bukan sekadar angka di rekening, melainkan simbol kemandirian dan validasi atas kerja keras selama satu bulan penuh.

Namun, euforia ini sering kali menjadi "jebakan batman". Tanpa strategi yang jelas, gaji pertama sering kali lenyap dalam hitungan hari, tersedot oleh keinginan terpendam yang akhirnya bisa dibeli. Istilah self-reward kerap menjadi pembenaran untuk perilaku impulsif. Lantas, bagaimana seharusnya gaji pertama dialokasikan agar tidak menyesal di tanggal tua?

Berikut adalah panduan prioritas bagi para first jobber dalam mengelola gaji perdana mereka.

Lunasi Utang Konsumtif Terlebih Dahulu

Sebelum memikirkan investasi saham atau membeli sepatu baru, cek kembali kondisi dompetmu. Apakah memiliki utang selama masa kuliah atau masa tunggu kerja? Mungkin pinjaman ke teman, paylater, atau kartu kredit.

Hukum pertama kesehatan finansial adalah "Zero Debt". Segera alokasikan gaji pertama untuk melunasi atau mencicil utang-utang tersebut. Memulai perjalanan karier dengan beban utang adalah langkah yang berat. Pastikan diri sendiri merdeka dari tagihan masa lalu sebelum membangun masa depan.

Membangun Benteng "Dana Darurat"

Banyak anak muda langsung tergiur instrumen investasi seperti kripto atau saham begitu punya uang. Padahal, fondasi utamanya belum dibangun, yaitu Dana Darurat.

Sisihkan minimal 10 hingga 20 persen dari gaji pertama untuk masuk ke rekening terpisah yang tidak boleh diganggu gugat. Dana ini berfungsi sebagai sekoci penyelamat jika terjadi hal tak terduga, seperti sakit, motor rusak, atau (amit-amit) pemutusan hubungan kerja. Jangan berinvestasi jika dana darurat belum terkumpul, karena investasi itu berisiko, sedangkan dana darurat itu menjamin keamanan.

Terapkan Rumus 50/30/20

Bagi yang bingung membagi porsi, senator Amerika Serikat Elizabeth Warren mempopulerkan metode penganggaran yang sangat relevan untuk pemula, yaitu 50/30/20.

Alokasikan 50 persen gaji untuk "Kebutuhan" (kos, makan, transport, pulsa). Kemudian 30 persen untuk "Keinginan" (nonton bioskop, kopi kekinian, langganan streaming). Terakhir, 20 persen wajib masuk ke "Tabungan/Investasi". Jika gaji terasa pas-pasan, porsi Keinginan bisa dikurangi untuk menambah porsi Kebutuhan, namun usahakan porsi Tabungan tetap ada, sekecil apa pun nominalnya.

Tradisi Berbakti dan "Self-Reward" yang Terukur

Apakah boleh menggunakan gaji pertama untuk self-reward? Tentu saja boleh, bahkan sangat dianjurkan secara psikologis untuk menghargai diri sendiri. Belilah barang yang sudah lama diincar atau makan enak di restoran favorit, asalkan anggarannya diambil dari pos "Keinginan" (30%) tadi, bukan mengambil jatah tabungan.

Selain itu, dalam budaya timur seperti Indonesia, memberikan sebagian gaji pertama kepada orang tua adalah tradisi yang sarat makna. Tidak harus besar, membelikan makanan kesukaan orang tua atau memberikan sedikit uang tunai adalah bentuk rasa syukur yang dipercaya membawa berkah bagi kelancaran karier ke depannya.

Waspada Jebakan "Lifestyle Inflation"

Ini adalah musuh terbesar anak muda. Lifestyle Inflation adalah fenomena di mana gaya hidup ikut naik seiring naiknya pendapatan. Dulu saat mahasiswa cukup makan di warteg, sekarang harus di kafe. Dulu naik angkutan umum, sekarang harus taksi online tiap hari.

Hati-hati, jika kenaikan gaya hidup ini lebih cepat daripada kenaikan gaji, Anda akan terjebak dalam siklus "gaji numpang lewat". Tetaplah hidup sederhana di awal karier dan biarkan aset Anda yang berkembang, bukan gengsi Anda.

Logo Radio
🔴 Radio Live