Ceritra
Ceritra Uang

Gaji Besar Bukan Jaminan Kaya, Ini Langkah Taktis Agar Tidak Buta Finansial

Refa - Saturday, 13 December 2025 | 03:00 PM

Background
Gaji Besar Bukan Jaminan Kaya, Ini Langkah Taktis Agar Tidak Buta Finansial
Ilustrasi Literasi Keuangan (Pinterest/)

Banyak orang terjebak dalam mitos bahwa masalah keuangan hanya bisa diselesaikan dengan mendapatkan lebih banyak uang. Faktanya, tanpa kemampuan pengelolaan yang baik atau financial literacy, gaji sebesar apa pun akan habis tak bersisa. Fenomena orang yang bergaji dua digit tapi masih terlilit utang pinjaman online (pinjol) adalah bukti nyata dari buta finansial.

Menjadi melek finansial bukan berarti harus jago matematika rumit atau menjadi ahli saham dalam semalam. Ini adalah tentang membangun kebiasaan sadar akan arus keluar-masuk uang. Berikut adalah langkah fundamental untuk keluar dari zona buta finansial.

Lakukan Audit Dompet Sendiri

Langkah pertama untuk sembuh adalah menyadari letak "penyakitnya". Mustahil mengelola uang jika tidak tahu ke mana perginya uang tersebut. Mulailah dengan mencatat setiap pengeluaran, sekecil apa pun, selama satu bulan penuh.

Sering kali kebocoran keuangan bukan terjadi pada pengeluaran besar seperti cicilan rumah, melainkan pada pengeluaran kecil yang berulang atau latte factor. Biaya langganan aplikasi yang tidak terpakai, jajan kopi kekinian setiap hari, atau biaya admin transfer antarbank yang jika ditotal bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Dengan data pencatatan yang jelas, seseorang bisa melihat pos mana yang sebenarnya pemborosan dan bisa dipangkas.

Pahami Bedanya Aset dan Liabilitas

Konsep dasar yang sering disalahartikan adalah menganggap barang mewah sebagai aset. Membeli mobil pribadi, ponsel keluaran terbaru, atau tas branded sering dianggap investasi, padahal itu adalah liabilitas atau beban. Barang-barang tersebut nilainya turun seiring waktu dan justru menyedot uang untuk biaya perawatan.

Seseorang yang melek finansial akan fokus mengumpulkan aset, yaitu segala sesuatu yang memasukkan uang ke dalam kantong. Contohnya adalah instrumen investasi (saham, reksa dana), properti yang disewakan, atau bisnis sampingan. Habiskan uang untuk membeli aset dulu, baru gunakan hasil dari aset tersebut untuk membeli kemewahan.

Kenali Utang Baik dan Utang Jahat

Tidak semua utang itu buruk. Orang yang cerdas finansial tahu cara menggunakan uang orang lain (utang) untuk keuntungan produktif. Utang baik adalah utang yang digunakan untuk membeli aset yang nilainya naik atau menghasilkan pendapatan, seperti KPR rumah atau modal usaha.

Sebaliknya, hindari utang jahat atau utang konsumtif sekuat tenaga. Membeli baju atau liburan dengan fitur PayLater atau kartu kredit yang tidak dilunasi penuh adalah ciri utama buta finansial. Bunga utang konsumtif yang sangat tinggi akan memakan porsi pendapatan di masa depan, membuat seseorang bekerja hanya untuk membayar masa lalu.

Investasi "Leher ke Atas" Dahulu

Sebelum tergiur ikut-ikutan tren investasi kripto atau saham karena FOMO (Fear of Missing Out), investasikan uang untuk isi kepala terlebih dahulu. Belilah buku keuangan, ikuti seminar, atau ambil kelas manajemen finansial dasar.

Kesalahan fatal pemula adalah menaruh uang pada instrumen yang tidak mereka pahami cara kerjanya. Warren Buffett, investor terkaya di dunia, memiliki prinsip "jangan pernah investasi pada bisnis yang tidak kamu mengerti". Literasi adalah tameng terbaik agar tidak tertipu investasi bodong yang menjanjikan kekayaan instan.

Mulai Siapkan Dana Darurat

Tanda seseorang sudah lulus tahap dasar literasi keuangan adalah adanya Dana Darurat. Ini adalah uang tunai yang disisihkan khusus untuk kejadian tak terduga, bukan untuk belanja. Idealnya, besaran dana darurat adalah 3 hingga 6 kali pengeluaran bulanan. Memiliki dana ini akan mencegah seseorang berutang saat musibah datang, memberikan ketenangan pikiran yang tak ternilai harganya.

Logo Radio
🔴 Radio Live