Ceritra
Ceritra Update

Fenomena Toko Komputer Jepang Memburu PC Bekas di Tengah Krisis RAM Global

Nisrina - Monday, 19 January 2026 | 02:45 PM

Background
Fenomena Toko Komputer Jepang Memburu PC Bekas di Tengah Krisis RAM Global
Kondisi stok PC gaming di toko Sofmap Gaming Akihabara, Tokyo, Jepang. (X/@sofmap_gaming)

Dunia teknologi biasanya bergerak maju dengan prinsip "yang baru pasti lebih baik", namun awal tahun 2026 menyajikan anomali yang mengejutkan. Di distrik elektronik Akihabara, Jepang, yang biasanya dipenuhi dengan promosi perangkat keras tercanggih, kini terjadi pemandangan yang tak lazim. Toko-toko komputer tidak lagi gencar menjual rakitan PC terbaru, melainkan justru "memohon" kepada pelanggan untuk menjual PC lawas mereka. Fenomena ini bukan didorong oleh tren retro atau nostalgia, melainkan oleh krisis rantai pasok yang mencekik industri teknologi global, yaitu kelangkaan chip memori atau RAM (Random Access Memory). PC usang yang dulunya dianggap sampah elektronik kini berubah menjadi komoditas berharga layaknya tambang emas yang siap digali.

Krisis ini menciptakan gelombang kepanikan yang unik di kalangan pengecer. Laporan lapangan menunjukkan bahwa banyak toko rela membeli laptop atau desktop mati sekalipun, asalkan kepingan RAM di dalamnya masih berfungsi. Strategi ini disebut sebagai kanibalisme komponen. Para pengecer terpaksa membongkar perangkat tua hanya untuk menyelamatkan kepingan DDR4 atau DDR5 lawas demi memenuhi permintaan pasar yang kelaparan. Harga komponen bekas ini pun melonjak drastis. Sebuah keping RAM 16GB bekas yang dua tahun lalu harganya jatuh, kini bisa dihargai setara atau bahkan lebih mahal daripada harga barunya saat pertama kali rilis.

Untuk memahami mengapa situasi ekstrem ini terjadi, kita perlu melihat akar masalah yang lebih dalam dari sekadar gangguan logistik biasa. Riset industri menunjukkan bahwa kelangkaan ini adalah efek samping dari ledakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang tak terkendali. Sejak tahun 2024 hingga 2025, raksasa pembuat chip memori dunia seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron secara masif mengalihkan jalur produksi mereka. Kapasitas pabrik yang sebelumnya digunakan untuk memproduksi DRAM konvensional untuk PC dan smartphone, diubah secara besar-besaran untuk memproduksi HBM (High Bandwidth Memory). HBM adalah jenis memori premium yang menjadi "bensin" utama bagi prosesor AI buatan NVIDIA dan AMD.

Akibat pergeseran prioritas produksi tersebut, suplai RAM standar untuk konsumen biasa menjadi korban. Produksi DRAM konvensional merosot tajam, sementara permintaan pasar untuk pembaruan PC dan laptop tetap tinggi seiring dengan rilisnya sistem operasi Windows generasi terbaru yang menuntut spesifikasi tinggi. Ketimpangan antara suplai yang menipis dan permintaan yang stabil inilah yang meledakkan harga dan membuat stok di pasar menjadi langka. Jepang, sebagai salah satu pusat konsumsi elektronik terbesar, menjadi salah satu negara pertama yang merasakan dampak langsung dari "kekeringan" silikon ini.

Fenomena di Jepang ini memberikan pelajaran berharga bagi konsumen di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Perangkat elektronik lama yang menumpuk di gudang rumah Anda mungkin memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi daripada yang Anda bayangkan. Istilah urban mining atau penambangan perkotaan kini bukan lagi sekadar konsep daur ulang logam mulia, tetapi juga pemanenan komponen fungsional. Masyarakat kini diajak untuk lebih bijak melihat siklus hidup perangkat elektronik. Membuang PC lama ke tempat sampah bukan hanya buruk bagi lingkungan, tetapi juga merupakan tindakan pemborosan finansial di tengah krisis komponen yang belum terlihat ujungnya ini.

Ke depannya, krisis RAM 2026 ini diprediksi akan mengubah pola konsumsi masyarakat terhadap perangkat keras. Kita mungkin akan memasuki era di mana upgrade komponen menjadi jauh lebih mahal dan sulit, memaksa pengguna untuk merawat perangkat mereka lebih lama. Bagi industri, ini adalah peringatan keras tentang betapa rapuhnya rantai pasok teknologi global yang terlalu bergantung pada segelintir produsen. Sampai kapasitas produksi global berhasil menyeimbangkan kebutuhan antara "otak AI" dan "otak PC rumahan", berburu komponen bekas di pasar loak mungkin akan menjadi normal baru bagi para perakit komputer.

Logo Radio
🔴 Radio Live