Ceritra
Ceritra Update

Drama F1: Jenson Button Pensiun Gaya Drakor?

- Friday, 31 October 2025 | 03:00 PM

Background
Drama F1: Jenson Button Pensiun Gaya Drakor?
Jenson Button dan Skenario Perpisahan Paling Unik di F1: Cuti Dulu, Balap Lagi, Baru Pensiun!

Jenson Button dan Skenario Perpisahan Paling Unik di F1: Cuti Dulu, Balap Lagi, Baru Pensiun!

Dunia Formula 1, yang penuh drama dan kecepatan, seringkali menyajikan cerita tak terduga. Tapi kali ini, kabar datang dari salah satu ikonnya, Jenson Button, juara dunia 2009, yang berencana 'gantung helm' dengan cara yang... agak nyeleneh. Bukan pensiun total langsung, tapi ada skenario perpisahan yang dibikin ala-ala drama Korea, mungkin? Yah, kurang lebih begitulah. Pada tahun 2015, berita mengejutkan menyeruak: Button akan mengambil cuti panjang dari sirkuit di musim 2016, lantas kembali berkompetisi untuk satu musim terakhir di tahun 2017 sebelum benar-benar pamit dari hiruk-pikuk lintasan F1. Sebuah rencana yang terkesan 'ribet' namun penuh gaya, bukan?

Bayangkan saja, di tengah hiruk-pikuk rumor transfer pembalap dan drama di balik layar tim, Button malah bikin manuver yang bikin geleng-geleng kepala sekaligus bikin penasaran. Alih-alih mengumumkan pensiun total di akhir musim, pembalap asal Inggris ini memilih jalur yang lebih berliku. Ia akan mengambil jeda setahun penuh di musim balap 2016. Mungkin ia butuh rehat sejenak dari tekanan, dari jet lag, dari hiruk-pikuk media, atau mungkin sekadar ingin menikmati hidup normal layaknya manusia biasa yang tidak harus melaju 300 km/jam setiap akhir pekan. Siapa tahu, mungkin dia mau liburan panjang dulu, rebahan di pantai, atau malah belajar masak sampai jago.

Setelah itu, yang bikin unik adalah ia akan kembali! Ya, kamu tidak salah dengar. Setelah jeda setahun, Button dijadwalkan kembali ke kokpit mobil F1 untuk musim balap 2017. Ini akan menjadi 'tur perpisahan' resminya, kesempatan bagi para penggemar untuk mengucapkan selamat tinggal kepada salah satu wajah paling familiar di grid selama hampir dua dekade. Setelah musim 2017 itu selesai, barulah Jenson Button benar-benar akan menutup lembaran karier balap profesionalnya di Formula 1. Sebuah cara pensiun yang, jujur saja, jarang banget kita temukan di olahraga sekompetitif F1.

Sebuah Legenda dengan Karier yang Panjang

Bicara soal Jenson Button, kita bicara tentang salah satu pembalap yang darah dagingnya sudah menyatu dengan Formula 1. Enam belas musim, bung! Itu bukan angka main-main. Di tengah olahraga yang menuntut fisik dan mental prima, serta generasi pembalap muda yang terus bermunculan, bertahan selama 16 musim adalah pencapaian luar biasa. Ia adalah juara dunia Formula 1 tahun 2009, sebuah musim yang mungkin paling memorable dalam sejarah modern F1, di mana tim Brawn GP, yang awalnya dipandang sebelah mata, berhasil mengguncang dominasi tim-tim besar.

Perjalanan karier Button adalah potret konsistensi, adaptabilitas, dan tentu saja, kecepatan. Dari awal debutnya hingga masa-masa kejayaannya, ia selalu dikenal sebagai pembalap yang punya gaya halus, cerdas dalam membaca balapan, dan luar biasa dalam kondisi lintasan basah. Banyak pembalap hebat yang datang dan pergi, tapi Button berhasil mempertahankan posisinya di puncak olahraga ini untuk waktu yang sangat lama. Mencapai 16 musim bukan cuma soal bertahan, tapi juga soal tetap relevan dan kompetitif di era yang terus berubah. Mentalnya sekuat baja, dan passion-nya terhadap balapan sepertinya tidak pernah pudar.

Mengapa Skenario Ini?

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, kenapa Button memilih skenario yang terkesan agak rumit ini? Kenapa tidak langsung pensiun saja di akhir 2015 atau 2016? Ada beberapa spekulasi dan observasi ringan yang bisa kita coba gali. Pertama, mungkin ini adalah cara Button untuk 'mendinginkan' diri dan memastikan keputusannya bulat. Formula 1 adalah hidupnya, dan berpisah dengannya pasti bukan hal mudah. Jeda setahun bisa memberinya perspektif baru, kesempatan untuk mencicipi kehidupan di luar F1, dan melihat apakah ia benar-benar siap untuk meninggalkan semuanya.

Kedua, ini bisa jadi semacam 'tur perpisahan' yang terencana dengan baik. Dengan mengumumkan skenario ini jauh-jauh hari, Button memberi kesempatan kepada para penggemar, tim, dan bahkan dirinya sendiri, untuk menghargai setiap momen di musim 2017. Setiap balapan akan terasa lebih spesial, setiap podium (jika ada) akan lebih emosional. Ini adalah kesempatan untuk menikmati tahun terakhirnya tanpa tekanan harus langsung memutuskan "ini yang terakhir". Ada semacam jeda refleksi yang sangat manusiawi di dalamnya.

Ketiga, jangan lupakan aspek komersial dan tim. Keputusan seperti ini tentu tidak diambil sendirian. Ada diskusi dengan tim, sponsor, dan pihak-pihak terkait. Mungkin saja ini adalah solusi terbaik untuk transisi yang mulus, memberikan tim waktu untuk mencari pengganti yang tepat tanpa terburu-buru, sekaligus tetap menjaga Button tetap relevan di mata publik dan sponsor. Sebuah langkah yang cerdas, baik dari sisi pribadi maupun profesional.

Musim Terakhir di Abu Dhabi

Dan puncaknya nanti, balapan terakhir Button dijadwalkan akan berlangsung di Abu Dhabi, pada penutup musim 2017. Sirkuit Yas Marina yang glamor dengan matahari terbenam yang ikonik akan menjadi latar belakang perpisahan seorang legenda. Momen itu pasti akan sangat emosional. Kita akan melihat pembalap yang telah mengarungi berbagai era, menghadapi berbagai regulasi, dan berjuang di berbagai tim, akhirnya melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebagai pembalap F1. Rasanya seperti menyaksikan sebuah babak panjang dalam buku sejarah Formula 1 yang ditutup dengan elegansi.

Karier Button adalah bukti bahwa passion dan dedikasi bisa membawamu jauh. Dari seorang talenta muda hingga menjadi juara dunia dan salah satu pembalap paling dihormati di paddock. Keputusannya untuk pensiun dengan cara yang unik ini hanya menambah keunikan karakternya. Kita mungkin akan merindukan gaya balapnya yang halus, suaranya yang tenang di radio tim, dan senyum khasnya di podium. Tapi setidaknya, ia memberi kita waktu setahun untuk bersiap-siap dan sebuah musim terakhir untuk benar-benar mengucapkan selamat jalan.

Jadi, siapkan tisu dan mungkin juga secangkir kopi. Musim 2017 nanti akan menjadi perjalanan emosional bagi penggemar Jenson Button. Selamat jalan, Jenson, meskipun perpisahanmu ini terasa seperti sebuah novel bersambung yang bikin penasaran sampai akhir!

Logo Radio
🔴 Radio Live