Ceritra
Ceritra Warga

Budaya Makan Visual: Ketika Kamera Lebih Lapar dari Perut

Shannon - Friday, 26 June 2026 | 11:00 AM

Background
Budaya Makan Visual: Ketika Kamera Lebih Lapar dari Perut
Ilustrasi mendokumentasikan makanan di cafe (peakpx/)

Fenomena Makan Visual: Ketika Kamera Lebih Lapar daripada Perut

Pernah nggak sih kamu terjebak di sebuah kafe yang interiornya cakep banget, lampunya warm menjurus ke estetika industrial, tapi pas makanan datang dan masuk ke mulut, rasanya cuma bisa bikin kamu ngebatin, "Hah, gini doang?". Anehnya, meski rasanya "B aja" atau malah cenderung zonk, kamu tetap sibuk menata piring, mengatur angle kamera, dan memastikan pencahayaan pas supaya foto makanan itu terlihat menggugah selera di Instagram Story. Selamat, kamu tidak sendirian. Kita semua, sadar atau tidak, sedang berada di era di mana "makan visual" jauh lebih penting daripada memanjakan lidah.

Zaman sekarang, kriteria rumah makan yang bagus sudah bergeser jauh. Dulu, orang rela ngantre berjam-jam di pinggir jalan becek demi seporsi sate yang bumbunya meresap sampai ke sanubari. Sekarang? Orang lebih rela ngantre demi masuk ke sebuah restoran yang punya spot foto tangga melingkar atau tembok penuh tanaman artifisial. Urusan rasa? Ah, itu urusan nomor sekian. Yang penting feeds Instagram nggak malu-maluin dan bisa pamer kalau kita lagi ada di tempat yang lagi hype.

Ambience adalah Koentji, Rasa adalah Gimmick

Kalau kita perhatikan, bisnis kuliner saat ini sudah berubah fungsi menjadi bisnis properti dan desain interior berbalut jualan nasi goreng atau kopi susu. Para pemilik kafe lebih pusing memikirkan jenis keramik lantai apa yang bakal kelihatan bagus kalau difoto dari atas (flatlay) daripada memikirkan rahasia bumbu dapur yang otentik. Istilah "Instagrammable" telah menjadi standar emas baru. Kalau sebuah tempat nggak punya pojokan yang estetik, jangan harap anak muda mau mampir, apalagi sampai mau balik lagi.

Jujurly, kita sering kali tertipu oleh kemasan. Kita rela membayar mahal untuk secangkir latte yang harganya setara dengan lima porsi nasi padang, hanya karena cangkirnya lucu dan kafenya punya playlist indie yang menenangkan. Padahal, kalau mau jujur pada diri sendiri, rasa kopinya mungkin nggak lebih enak dari kopi sachet yang kita seduh di kosan. Tapi ya itu tadi, yang kita beli bukan cuma kafein, tapi "pengalaman" dan "status sosial" yang bisa dipamerkan dalam durasi 15 detik video Reels.

Ada semacam kepuasan psikologis ketika kita berhasil mengunggah foto di tempat yang sedang viral. Seolah-olah, dengan mengunggah foto tersebut, tingkat keren kita naik satu level. Validasi dari teman-teman digital lewat jempol dan komentar "Eh ini di mana? Bagus banget!" terasa lebih mengenyangkan daripada porsi makanan itu sendiri. Ini adalah bentuk FOMO (Fear of Missing Out) yang sudah mendarah daging. Kita takut dibilang kuper kalau belum pernah menginjakkan kaki di kafe yang desainnya mirip-mirip di Seoul atau Paris itu.

Kenapa Lidah Jadi Makin Toleran sama Rasa "B Aja"?

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: kenapa kita jadi makin toleran sama makanan yang rasanya biasa saja? Jawabannya mungkin karena fokus kita sudah terdistraksi. Saat makanan sampai di meja, ritual pertama bukan berdoa atau menyambar sendok, melainkan sesi pemotretan. Kita sibuk menggeser gelas, menjauhkan tisu, dan meminta teman untuk memegang handphone dengan angle tertentu. Di saat kita sibuk jadi fotografer dadakan, suhu makanan menurun, teksturnya berubah, dan cita rasa aslinya pun memudar.

Lucunya lagi, kita sering kali merasa "oke-oke saja" meskipun makanannya mengecewakan, asalkan tempatnya nyaman buat nongkrong lama atau punya pencahayaan yang bikin wajah kita kelihatan glowing di kamera depan. Kita membayar "pajak estetika". Kita sadar bahwa harga makanan yang mahal itu bukan buat beli bahan baku premium, tapi buat bayar biaya sewa gedung di kawasan elit dan biaya perawatan interiornya yang mahal itu. Kita maklum karena "tempatnya emang enak buat kerja" atau "emang lucu buat foto-foto".

Namun, di sisi lain, fenomena ini sebenarnya cukup menyedihkan bagi para pelaku kuliner yang benar-benar menjaga kualitas rasa. Mereka yang berjuang di dapur, meracik rempah dengan teliti, sering kali kalah pamor dengan tempat makan yang modalnya cuma "tembok putih bersih dan lampu gantung unik". Rasa yang otentik seolah kehilangan panggungnya di tengah gempuran tren visual.

Kembali ke Fitrah: Makan untuk Kenyang atau untuk Konten?

Nggak ada yang salah dengan mencari tempat makan yang nyaman dan cantik. Manusia memang makhluk visual yang suka dengan keindahan. Menikmati makanan di tempat yang tenang dengan desain yang memanjakan mata tentu bisa menjadi healing tersendiri setelah seminggu penuh kerja bagai kuda. Namun, ada baiknya kita mulai menyeimbangkan ekspektasi.

Jangan sampai kita terjebak dalam gaya hidup yang hanya mementingkan bungkus tapi kosong di dalam. Makan seharusnya tetap menjadi aktivitas sensorik yang lengkap: mulai dari aroma, tekstur, hingga rasa yang meledak di lidah. Kalau tempatnya bagus tapi makanannya bikin sakit hati, ya nggak usah balik lagi hanya demi konten. Toh, perut kita nggak bisa kenyang cuma dengan liatin jumlah likes di Instagram.

Pada akhirnya, tren ini mungkin akan terus berlanjut. Kafe-kafe baru akan terus bermunculan dengan konsep yang makin aneh-aneh dan unik demi menarik perhatian netizen. Tapi percayalah, tempat makan yang bakal bertahan lama adalah mereka yang punya keseimbangan antara visual dan rasa. Karena pada akhirnya, sesudah rasa penasaran visual itu terpenuhi, lidah tidak akan pernah bisa berbohong. Jadi, sebelum kamu berangkat ke kafe hits berikutnya, coba tanya ke diri sendiri: kamu lagi lapar beneran, atau cuma baterai HP-mu yang lagi penuh dan butuh bahan buat di-update?

Mari kita mulai menghargai makanan lebih dari sekadar objek foto. Kalau memang makanannya enak, puji koki-nya. Kalau tempatnya bagus, puji arsiteknya. Tapi jangan biarkan kamera handphone-mu makan duluan sementara perutmu harus menunggu sampai makanan itu dingin dan hambar.

Logo Radio
🔴 Radio Live