Ceritra
Ceritra Warga

Awas Hadapi Godaan Makanan Bersantan Ketika Lebaran Tiba

Nisrina - Wednesday, 18 March 2026 | 10:15 AM

Background
Awas Hadapi Godaan Makanan Bersantan Ketika Lebaran Tiba
Makanan Lebaran (Pinterest/)

Hari pertama Idulfitri, setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga, kamu duduk manis di depan meja makan. Di depan mata, sudah tersaji panggung pertunjukan kuliner yang luar biasa. Ada Opor Ayam yang kuningnya mentereng, Rendang yang bumbunya pekat nan estetik, hingga Sambal Goreng Ati yang merahnya menggoda iman. Semuanya punya satu kesamaan: bersantan, berminyak, dan sangat berlemak. Sungguh sebuah perpaduan yang bikin timbangan menjerit histeris tapi lidah menari-nari kegirangan.

Pernah nggak sih kepikiran, kenapa ya makanan Lebaran di Indonesia itu seolah-olah wajib hukumnya pake santan dan lemak? Kenapa nggak salad sayur pake olive oil atau mungkin sup bening yang rendah kalori? Kalau kita perhatikan dari Sabang sampai Merauke, menu "wajib" Lebaran hampir selalu didominasi oleh asupan yang bikin kolesterol naik pangkat. Ternyata, urusan santan-menyantan ini bukan sekadar soal rasa enak, tapi ada sejarah, filosofi, dan sedikit "balas dendam" psikologis di baliknya.

Santan: Cairan Ajaib dari Tanah Air

Secara geografis, kita ini tinggal di surganya kelapa. Indonesia adalah salah satu produsen kelapa terbesar di dunia. Jadi, ya masuk akal banget kalau nenek moyang kita memanfaatkan apa yang ada di depan mata. Santan itu ibarat "susu" versi kearifan lokal. Jauh sebelum susu sapi kemasan populer, santan sudah menjadi agen pemberi rasa gurih (umami) alami yang tiada tandingannya.

Dulu, santan dianggap sebagai bahan makanan yang mewah namun aksesibel. Mengolah kelapa menjadi santan butuh usaha; mulai dari memanjat, mengupas, memarut, sampai memerasnya. Menghidangkan masakan bersantan di hari raya adalah simbol penghormatan kepada tamu. Kita ingin menyuguhkan sesuatu yang "kaya" rasa sebagai bentuk syukur. Jadi, kalau hari ini kita melihat meja makan penuh santan, itu adalah warisan dari leluhur kita yang menganggap kelapa sebagai pohon kehidupan.

Simbol Kesucian dan Kemewahan yang "Humble"

Ada pendapat menarik dari sisi sosiokultural. Warna putih santan sering dikaitkan dengan simbol kesucian. Lebaran adalah momen kembali fitrah atau suci, maka hidangan yang disajikan pun didominasi oleh warna putih atau kuning (hasil campuran kunyit dan santan). Opor Ayam yang berwarna putih kekuningan sering dianggap sebagai perlambang hati yang bersih setelah sebulan berpuasa.

Selain itu, mari kita bicara soal protein. Di zaman dulu, daging sapi atau ayam bukan makanan sehari-hari buat rakyat jelata. Daging adalah barang mewah yang cuma muncul saat hajatan besar atau hari raya. Nah, supaya rasa daging yang terbatas itu bisa dinikmati secara maksimal dan "nendang," dipadukanlah dengan santan dan rempah-rempah yang kuat. Lemak dari santan dan daging berfungsi sebagai pengikat rasa. Tanpa lemak, bumbu-bumbu rempah itu nggak akan bisa meresap sempurna sampai ke serat-serat daging.

Psikologi "Balas Dendam" yang Manis

Jujur saja, ada aspek psikologis yang bermain di sini. Setelah 30 hari kita mengerem nafsu, secara bawah sadar otak kita menginginkan reward atau penghargaan. Dan apa reward yang paling memuaskan bagi manusia selain makanan tinggi lemak dan tinggi kalori? Lemak memicu pelepasan dopamin di otak, memberikan rasa bahagia dan puas yang instan.

Kita sering mendengar istilah "Lebaran itu hari kemenangan." Nah, kemenangan ini dirayakan dengan pesta pora kuliner. Perasaan "ah, cuma sekali setahun ini" menjadi pembenaran paling ampuh saat kita menambah porsi rendang untuk ketiga kalinya. Makanan berlemak memberikan rasa kenyang yang lebih lama dan tekstur yang lembut di mulut (mouthfeel), sesuatu yang kita rindukan selama seharian penuh menahan haus dan lapar di bulan Ramadhan.

Teknik Pengawetan Alami

Bukan cuma soal rasa, ada alasan praktis di balik masakan bersantan yang dimasak lama seperti rendang atau gulai. Zaman dulu belum ada kulkas atau microwave untuk memanaskan makanan setiap saat. Masakan yang diolah dengan santan kental dan rempah-rempah dalam waktu lama cenderung lebih awet. Rempah seperti lengkuas, jahe, dan kunyit memiliki sifat antimikroba alami.

Apalagi kalau bicara soal Rendang. Proses memasak yang memakan waktu berjam-jam sampai santannya mengeluarkan minyak dan mengering sebenarnya adalah teknik pengawetan. Ini memungkinkan hidangan Lebaran tetap bisa dimakan sampai hari kedua atau ketiga tanpa basi, meskipun hanya diletakkan di suhu ruang. Sangat efisien buat ibu-ibu zaman dulu yang ingin fokus silaturahmi tanpa harus bolak-balik ke dapur.

Waspada "Opor-dosis"

Meski enak dan penuh sejarah, kita juga harus realistis. Gaya hidup orang zaman dulu beda dengan kita sekarang. Nenek moyang kita makan santan tapi fisiknya aktif; mereka bertani, berjalan kaki jauh, dan melakukan kerja fisik berat. Sementara kita? Habis makan opor dua piring, biasanya langsung rebahan sambil scroll TikTok atau nonton Netflix. Itulah kenapa "teror" kolesterol jadi nyata banget buat generasi sekarang.

Menikmati makanan bersantan saat Lebaran itu boleh banget, bahkan wajib hukumnya demi melestarikan tradisi. Tapi ya jangan sampai "lupa daratan." Kuncinya adalah moderasi. Mungkin hari pertama kita hajar semua menu, hari kedua mulailah imbangi dengan makan buah atau sayuran bening. Jangan sampai momen Lebaran yang harusnya bahagia malah berakhir dengan antrean di klinik karena pusing-pusing leher kaku.

Pada akhirnya, makanan Lebaran yang bersantan dan berlemak adalah bagian dari identitas budaya kita. Ia adalah rasa rindu akan rumah, aroma dapur ibu, dan kehangatan kumpul keluarga. Selama kita tahu batas, opor dan rendang akan tetap menjadi juara di hati (dan di perut) setiap Idulfitri tiba. Jadi, sudah siap menghadapi gempuran santan tahun ini? Siapkan saja air putih yang banyak dan mungkin, sedikit obat penurun kolesterol di kotak P3K, jaga-jaga kalau khilafnya kebablasan!

Logo Radio
🔴 Radio Live